
Kisah Qolby Kadya Rizky, mahasiswa termuda UNY usia 16 tahun yang lolos Pendidikan Bahasa Jerman lewat belajar otodidak.
YOGYAKARTA, KalderaNews.com – Menjadi mahasiswa di usia yang sangat muda bukan hal yang pernah dibayangkan oleh Qolby Kadya Rizky.
Namun, di usianya yang baru menginjak 16 tahun, gadis kelahiran Kebumen, 27 Juli 2010 ini resmi menyandang predikat sebagai mahasiswa baru termuda Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) tahun akademik 2026.
BACA JUGA:
- Ubah Teka-Teki Jadi Prestasi, Jagoan Matematika Siswi SMA Cikal Amri Setu
- Kisah Siti Nur Adlina, Santriwati Kalsel Tembus Paskibraka 2026
- Profil Devani Fara Maritza: Siswa Berprestasi Angkatan Pertama SNT 14 Jepara
Qolby berhasil menembus Program Studi Pendidikan Bahasa Jerman, Fakultas Bahasa, Seni, dan Budaya (FBSB) UNY melalui jalur seleksi CBT Domisili.
Pantang Menyerah Meski Sempat Ditolak
Perjalanan Qolby meraih kursi di perguruan tinggi negeri tidaklah instan. Sebelum akhirnya diterima di UNY, ia sempat melewati dinamika proses seleksi yang cukup menguji mental, termasuk mengalami penolakan di jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) dan kegagalan di beberapa kesempatan lain.
Ia bahkan sempat mempertimbangkan Politeknik Kesehatan sebelum mantap membulatkan tekadnya ke bahasa Jerman.
Rasa ragu dan takut sempat menghampirinya, tetapi dorongan kuat untuk melanjutkan pendidikan dan mendalami bahasa Jerman secara akademis menjadi pemantik semangatnya untuk bangkit.
Kehadiran sang ibu yang tiada henti memberikan dukungan moral menjadi pondasi utama yang menguatkan langkah Qolby hingga tidak memilih opsi gap year.
Belajar Otodidak dan Kemampuan Adaptasi Tinggi
Ketertarikan Qolby terhadap bahasa Jerman tumbuh secara mandiri. Tanpa mengikuti bimbingan belajar atau kursus khusus, ia mempelajari bahasa tersebut secara otodidak. Keterbatasan fasilitas tidak menjadi penghalang baginya untuk terus mengasah kemampuan.
Kemampuan adaptasinya yang cepat juga ditempa dari pengalaman masa kecil. Qolby kerap berpindah sekolah mengikuti dinamika pekerjaan orang tua, mulai dari jenjang SD di Medan, kembali ke Kebumen, hingga menyelesaikan masa SMA di SMAN 1 Petanahan.
Pengalaman ini membentuk karakter yang tangguh dan siap menghadapi lingkungan baru, termasuk dunia perkuliahan.
Siap Berkontribusi dan Berpesan untuk Sesama Mahasiswa
Memasuki kampus di usia muda memang menghadirkan kekhawatiran tersendiri. Kendati merasa transisi dari SMA ke perguruan tinggi terasa sangat cepat, Qolby optimistis mampu beradaptasi.
Selain fokus pada akademik, ia berencana aktif dalam organisasi kemahasiswaan seperti Himpunan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Jerman untuk memperluas jejaring dan pengalaman.
Bagi Qolby, usia hanyalah angka. Ia percaya bahwa mahasiswa muda memiliki kesempatan berkembang yang sejajar dengan yang lainnya.
“Jangan pernah menyerah. Kita satu angkatan, jadi kita berlari dari garis start yang sama dan pasti bisa,” tutur Qolby memberi semangat bagi seluruh mahasiswa baru.
Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnyadi Google News
*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com


Leave a Reply