Awas Jangan Terjebak! 6 Jurusan Kuliah Ini Susah Cari Kerja

Pengangguran (KalderaNews/Ist)
Sharing for Empowerment

Cek daftar jurusan kuliah dengan tingkat pengangguran tertinggi versi Fed New York dan alasan lulusannya susah dapat kerja!

JAKARTA, KalderaNews.com – Memilih jurusan kuliah bukan sekadar formalitas akademik, melainkan keputusan strategis yang menentukan arah masa depan karier.

Kendati minat dan bakat memegang peranan penting, mengabaikan dinamika pasar kerja serta tren otomatisasi industri dapat berdampak serius pada peluang kerja pasca kelulusan.

BACA JUGA:

Data riset terbaru dari Federal Reserve Bank of New York memperlihatkan kesenjangan yang cukup dramatis pada tingkat pengangguran lulusan berdasarkan bidang studi yang diambil.

Daftar Jurusan Kuliah dengan Tingkat Pengangguran Tertinggi

Berdasarkan data Federal Reserve Bank of New York, sejumlah jurusan mencatatkan persentase pengangguran lulusan di atas rata-rata:

  • Antropologi: 7,9%
  • Teknik Komputer: 7,8%
  • Seni Rupa: 7,7%
  • Seni Pertunjukan: 7,0%
  • Ilmu Komputer: 7,0%
  • Arsitektur: 6,8%

Di sisi lain, jurusan di bidang pendidikan seperti Special Education dan Miscellaneous Education justru mencatatkan tingkat pengangguran yang sangat rendah, yakni berada di angka 0,7%.

4 Penyebab Utama Lulusan Perguruan Tinggi Sulit Mendapatkan Pekerjaan

Tingginya angka pengangguran pada jurusan tertentu tidak selalu dipicu oleh rendahnya peminat, melainkan oleh faktor-faktor struktural di dunia kerja:

  1. Kesenjangan Keterampilan dan Pengalaman (Skill Mismatch)Jay Denton, Kepala Analis ThinkWhy dan pencipta LaborIQ, menyoroti adanya ketidaksesuaian antara kompetensi yang dibawa lulusan baru dengan kebutuhan kualifikasi perusahaan. Meskipun ketersediaan lapangan kerja cukup tinggi, kriteria pengalaman teknis yang diminta industri sering kali tidak terpenuhi.
  2. Sistem Perekrutan Digital yang Sangat KetatKemudahan melamar kerja secara daring membuat satu posisi pekerjaan diperebutkan oleh puluhan hingga ratusan pelamar secara bersamaan. Perekrut harus menyaring ribuan resume dalam waktu singkat, sehingga kandidat tanpa pengalaman relevan akan tereliminasi secara otomatis.
  3. Penyesalan Jurusan (Major Regret)Banyak mahasiswa memilih jurusan semata-mata tergiur oleh ekspektasi gaji tinggi atau sekadar tren pasar tanpa mengukur potensi diri. Saat lulus, ketidaksesuaian minat membuat mereka kesulitan menentukan arah karier yang konsisten.
  4. Persaingan Tingkat Pemula (Entry-Level) dan Dampak OtomatisasiMenurut Scott Dettman, CEO Avenica, posisi entry-level yang dahulunya diisi lulusan baru kini banyak yang hilang akibat efisiensi teknologi dan otomatisasi. Dampaknya, 43% lulusan perguruan tinggi terpaksa bekerja di bawah tingkat kualifikasi mereka (underemployed) pada pekerjaan pertama, dan dua pertiga di antaranya terjebak pada kondisi tersebut hingga lima tahun.

Langkah Strategis Mempersiapkan Diri Sebelum Lulus

Melihat tingginya kompetisi, Profesor Ekonomi Universitas Auburn, Alan Seals, menekankan bahwa 3 tahun pertama karier adalah fase paling krusial.

Pengalaman magang kini bukan lagi nilai tambah, melainkan syarat minimal (new entry-level).

Untuk memenangkan persaingan di dunia kerja modern, calon lulusan disarankan untuk mengamankan lebih dari satu pengalaman magang sejak tahun pertama perkuliahan, memperluas jejaring profesional, serta terus mengasah keterampilan pendukung (soft skills) yang tidak mudah tergantikan oleh otomatisasi.

Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News

*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmuTertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


14 views