
Sempat gagal 3 kali, Andrew bagikan tips sukses raih beasiswa Erasmus Mundus hingga kuliah di 4 negara Eropa. Simak kisahnya!
JAKARTA, KalderaNews.com – Mimpi untuk menempuh pendidikan di Benua Biru bukan lagi hal yang mustahil.
Hal ini dibuktikan oleh Andrew Dwi Permana, seorang mahasiswa asal Indonesia yang berhasil menyelesaikan program S2 di empat negara Eropa sekaligus melalui beasiswa Erasmus Mundus Joint Masters (EMJM).
BACA JUGA:
- Tip Mendapatkan Beasiswa Erasmus Plus 2020 ke Prancis, Spanyol dan Belgia
- Vidhiaza Leviandhika: Tip Mendapatkan Beasiswa S2 Erasmus Plus
- Marsela Husen: Tips dan Trik Jitu Biar Diterima Beasiswa Erasmus Plus!
Mimpi Andrew untuk kuliah di Eropa sudah tertanam sejak masa SMA. Ketertarikan tersebut makin menguat saat ia menghadiri Pameran Pendidikan Uni Eropa (European Higher Education Fair – EHEF) di Bali pada 2015 sewaktu menempuh S1 di Universitas Udayana.
Pantang Menyerah: Sukses Setelah 3 Kali Ditolak
Perjalanan Andrew meraih beasiswa tidak berjalan instan. Setelah lulus S1 pada tahun 2018, ia aktif berburu informasi studi dan beasiswa. Meski sempat mengalami kekecewaan akibat gagal mendaftar hingga tiga kali, ia tidak patah semangat dan terus memfokuskan diri pada persiapan.
“Nggak semuanya keberhasilan dalam satu shot. Ibarat kita melamar kerja, belum tentu sekali mengirim lalu mendapat panggilan. Daripada ngoyo, lebih baik fokus mempersiapkan diri. Jangan terlalu khawatir dengan pilihan studi walau ini memang harus dipikirkan serius yang sesuai minat,” ungkap Andrew.
Kerja kerasnya terbayar pada tahun 2022 saat ia diterima di program EMJM Medical Imaging and Applications (MAIA). Program beasiswa Uni Eropa ini memungkinkan mahasiswa menempuh satu program magister di beberapa universitas lintas negara.
Pengalaman Jalani Perkuliahan di Prancis, Italia, Spanyol, dan Swedia
Selama masa studi master, Andrew berpindah negara setiap semesternya untuk mendalami fokus ilmu yang berbeda-beda:
- Semester Awal: Mempelajari basic medical imaging dan pengenalan Kecerdasan Buatan (AI) di Prancis.
- Semester Lanjutan: Pendalaman spesialisasi di Italia dan Spanyol.
- Master Thesis: Diselesaikan di Karolinska Institutet, Swedia.
Suasana perkuliahan berlangsung sangat internasional dengan peserta sebanyak 28 mahasiswa dari 21 negara yang menggunakan bahasa Inggris sebagai pengantar utama.
Pelajaran Adaptasi Budaya dan Pendidikan Lintas Negara
Pindah dari satu negara ke negara lain menuntut Andrew untuk beradaptasi cepat dengan budaya setempat.
Ia menceritakan pengalaman unik saat di Prancis, di mana kebiasaan tersenyum ramah kepada orang tua di tempat umum ternyata direspons berbeda dengan budaya di Indonesia.
“Harus mikir lagi kalau kita bukan di Indonesia, jadi harus beradaptasi. Lewat pengalaman kuliah ini, bukan hanya gelar yang didapatkan, tapi juga belajar hidup di lingkungan yang berbeda, bertemu orang dari berbagai negara, dan melihat langsung seperti apa pendidikan lintas negara,” jelas Andrew.
Kini, Andrew terus melanjutkan rekam jejak akademiknya dengan menempuh studi doktoral (S3) di Department of Biomedical Engineering and Health Systems, KTH Royal Institute of Technology, Swedia. Kisah perjuangannya menjadi bukti bahwa ketekunan dan persiapan matang adalah kunci utama meraih beasiswa internasional.
Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnyadi Google News
*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.


Leave a Reply