Inilah 12 Akademisi Peraih Academic Leader Award 2019, Ali Ghufron: Dosen Jangan Mengejar Jabatan Struktural




Prof. Dr. Ir. Ellen Joan Kumaat M.Sc, DEA pemenang Academic Leader dosen dengan tugas tambahan sebagai Rektor PTN BLU tahun 2019
Prof. Dr. Ir. Ellen Joan Kumaat M.Sc, DEA pemenang Academic Leader dosen dengan tugas tambahan sebagai Rektor PTN BLU tahun 2019. (Ist.)

JAKARTA, Kalderanews.com – Sebanyak 12 akademisi yang terdiri dari tiga rektor, satu Kepala Lembaga Layananan Pendidikan Tinggi (LLDikti) dan delapan dosen meraih Academic Leader Award 2019 yang digelar Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti). Pengumuman Academic Leader Award tahun ini diadakan tepat pada Hari Kesaktian Pancasila, Selasa malam, 1 Oktober 2019.

Penghargaan ini diberikan untuk akademisi, terutama dosen yang telah berkontribusi dalam kemajuan dunia pendidikan tinggi. Anugerah ini terbagi dalam dua kategori, yakni kategori dosen berdasarkan bidang keilmuan yang diampu, serta kategori dosen dengan tugas tambahan sebagai pimpinan perguruan tinggi.

BACA JUGA:

Direktur Jenderal Sumber Daya Iptek dan Dikti (SDID) Kemenristekdikti, Ali Ghufron Mukti menyatakan bahwa kemampuan kepemimpinan menjadi modal utama bagi rektor untuk memimpin perguruan tinggi, apalagi saat ini Indonesia sedang mengejar target pembangunan sumber daya manusia yang unggul. Maka penghargaan ini, lanjut Ghufron, bisa menjadi pemicu bagi dosen agar tetap fokus kepada bidang keilmuannya, bukan justru mengejar jabatan-jabatan struktural.

Nah, berikut daftar akademisi yang mendapat anugerah Academic Leader Award 2019:

  • Didi Suryadi dari Universitas Pendidikan (UPI) Bandung untuk dosen di bidang kependidikan. Dosen Matematika Pendidikan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan ini mengembangkan Didactical Design Reasearch untuk peningkatan kualitas pendidikan.
  • Ketut Buda Artana, Guru Besar Fakultas Teknologi Kelautan (FTK) ITS untuk bidang kemartiman. Dia mengembangkan inovasi teknologi yang diberi nama Automatic Identification System Institut Teknologi Sepuluh Nopember (AISITS).
  • Siti Subandiyah, Dosen Universitas Gadjah Mada. Dosen Departemen Hama untuk bidang pertanian. Ia mengembangkan pendekatan bioteknologi dalam pengendalian penyakit-penyakit pada jeruk dan pisang.
  • Daryono Hadi dari ITB untuk bidang kesehatan. Hadi mengembangkan porfirin dan turunan klorofil sebagai kandidat antikanker dan ligankit radiofarmaka.
  • Juju Masunah dari UPI Bandung di bidang seni dan kebudayaan, dengan gelaran Bandung Isola Performing.
  • Mahfud Solihin, dosen UGM, untuk bidang Ilmu sosial humaniora. Dosen Fakultas Ekonomi ini mengembangkan inovasi mengajar etika bisnis dalam bentuk aplikasi dan augmented reality.
  • Khairulrijal dari ITB untuk bidang sains.
  • Slamet Budijanto dari IPB untuk bidang teknologi, dengan inovasi pengembangan vehicle diversifikasi pangan bersumber pangan lokal untuk penguatan kedaulatan pangan.
  • Agustinus Putra Irawan dari Universitas Tarumanegara untuk kategori dosen dengan “Tugas Tambahan” di perguruan tinggi swasta (PTS). Ia mengembangkan inovasi komposit serat alam ramah lingkungan sebagai bahan socket prosthesis atas lutut bagi pasien amputasi alat gerak bawah, untuk menggantikan bahan komposit serat fiberglass yang tak dapat didaur ulang. Ia juga berhasil mengangkat akreditasi Untar dari B menjadi A, serta peningkatan peringkat Kemenristedikti dari 84 menjadi 34.
  • Ellen Joan Kumaat dari Universitas Samratulangi (Unsrat) untuk kategori dosen dengan “Tugas Tambahan” di perguruan tinggi negeri (PTN) Badan Layanan Umum (BLU). Sejak menjadi rektor pada 2014, Ellen mengembangakan tata kelola sumber daya manusia, sumber daya inovasi dan sumber daya keuangan, serta meningkatkan akreditasi universitas dari B menjadi A; peringkat universitas dari 70 menjadi 27.
  • Panut Mulyono, Rektor UGM untuk kategori dosen dengan “Tugas Tambahan” di PTN BH. Dia mengembangkan inovasi birokrasi dalam rangka meningkatkan layanan prima melalui sistem informasi dan penguatan tata kelola. Panut juga berhasil mengangkat UGM ke peringkat dua nasional pada 2019, serta membawa UGM dua kali berturut-turut menjuarai Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS).
  • Suprapto dari LL-Dikti Wilayah VII Jawa Timur, untuk kategori Pemimpin Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LL-Dikti). Jumlah profesor di wilayah kerjanya naik dari 109 menjadi 148, jumlah rektor naik dari 1.124 menjadi 2.096. Jumlah perguruan tinggi terakreditasi dari 133 menjadi 230.

Itulah daftar akademisi yang mendapat anugerah Academic Leader Award 2019. (yp)

* Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu.




Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*