Ratusan siswa SMKN 6 Semarang diduga keracunan MBG. Dapur SPPG disetop, Kepala BGN Sudaryono pertegas kebijakan zero tolerance!
SEMARANG, KalderaNews.com – Ratusan siswa dan belasan guru di SMK Negeri 6 Semarang diduga mengalami keracunan makanan setelah menyantap hidangan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Menanggapi insiden tersebut, Badan Gizi Nasional (BGN) mengambil langkah tegas dengan menghentikan sementara (suspend) operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Karangturi Semarang selaku penyedia dan pendistribusi makanan.
Langkah penghentian operasional dapur ini diambil usai tim gabungan lintas sektor menggelar investigasi langsung pada Jumat (31/7/2026).
BACA JUGA:
- Dari 4.268.848 Santri, Baru 61.195 yang Dapat MBG
- Verifikasi 63 Juta Penerima MBG Dimulai, Ini Skema Baru dari Pemerintah
- P2G Kecewa Berat Anggaran MBG Dipisah Pos Pendidikan Baru 2028
Investigasi tersebut melibatkan Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG) Semarang, Koordinator Regional Jawa Tengah, Kepolisian (Polrestabes), serta Dinas Kesehatan Kota Semarang.
“Makanya dapur kami suspend sementara karena buat kami di BGN, keselamatan penerima manfaat jadi yang utama dan prioritas. Kami bergerak cek kondisi penerima manfaat yang terdampak, yang dibawa ke Puskesmas sampai yang dilarikan ke Rumah Sakit untuk rawat inap,” ungkap Koordinator KPPG Semarang, Hadi Riajaya, Minggu (2/8/2026).
Kronologi Pengolahan dan Munculnya Gejala Keracunan
Berdasarkan hasil investigasi sementara, proses pengolahan bahan makanan di SPPG Karangturi berjalan dengan rincian kronologis sebagai berikut:
- Rabu (29/7/2026): Bahan baku berupa bumbu, buah, ayam, tahu, dan sayuran tiba secara bertahap mulai pukul 13.00 hingga 17.30 WIB. Tahap persiapan, seperti pencucian, pengukusan tahu, dan marinasi ayam, dimulai sejak pukul 18.55 WIB.
- Kamis (30/7/2026): Proses memasak bumbu rendang, tahu, dan sayuran dimulai sejak pukul 00.30 WIB. Makanan melewati uji organoleptik serta gramasi oleh ahli gizi pada pukul 04.00 WIB, kemudian dikemas dan didistribusikan dalam dua gelombang pada pukul 06.00 WIB dan 08.10 WIB.
- Jumat (31/7/2026): Pihak SPPG menerima laporan awal dari sekolah mengenai adanya puluhan hingga ratusan siswa dan guru yang mengalami gejala gangguan pencernaan seperti mual, muntah, dan diare pada pukul 09.40 WIB.
Instruksi Tegas Kepala BGN: Zero Tolerance dan Sanksi Pemecatan
Menanggapi insiden ini, Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono langsung turun ke lapangan untuk menjenguk para korban yang dirawat di sejumlah rumah sakit di Kota Semarang, Sabtu (1/8/2026).
Sudaryono menegaskan komitmen BGN untuk menerapkan prinsip zero tolerance terhadap insiden keamanan pangan maupun tindak penyimpangan dalam program MBG.
Ia meminta seluruh kepala dapur SPPG di Indonesia untuk menegakkan Standard Operating Procedure (SOP) secara disiplin tanpa kompromi.
“Saya sebagai Kepala Badan Gizi memastikan itu, zero tolerance terhadap keracunan, zero tolerance terhadap tindak pidana korupsi… Kalau misalnya ada di antara pegawai di dapur itu yang susah dikasih tahu untuk cuci tangan, atau pakai sarung tangan dan masker, ya harus dikeluarkan! Harus tegas ini, karena kesehatan dan nyawa seseorang itu sangat berarti,” tegas Sudaryono.
BGN memastikan proses evaluasi dan audit menyeluruh terhadap rantai pasok serta prosedur sanitasi dapur akan terus dilakukan agar kejadian serupa tidak kembali terulang di masa mendatang.
Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News
*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.


Leave a Reply