Pengakuan perundungan alumni DKV Trisakti viral di media sosial. Netizen soroti dampak trauma dan budaya senioritas.
JAKARTA, KalderaNews.com – Platform media sosial Threads kembali diramaikan oleh pengakuan salah satu alumni yang membagikan pengalaman traumatik akibat perundungan (bullying) di lingkungan perguruan tinggi.
Utas yang diunggah oleh akun @amandazaccia tersebut secara khusus menyoroti pengalaman masa lalu di lingkup fakultas kampus Universitas Trisakti, bukan pada institusi tempat terduga pelaku bekerja saat ini.
BACA JUGA:
- Universitas Trisakti: PTS Terbaik WUR 2027 Kategori Keterserapan Kerja
- 15 Mahasiswa Trisakti Jadi Tersangka, Terancam 6 Tahun Penjara, Inilah Pasal-pasal Penjerat
- Ini Pemicu 93 Mahasiswa Trisakti Ditangkap Saat Demo di Balai Kota Versi Polisi
Unggahan yang menyebutkan secara spesifik nama pihak terduga pelaku dari angkatan 2012 program studi DKV/FSRD Universitas Trisakti tersebut langsung memicu simpati luas serta perbincangan hangat di kalangan pengguna media sosial.
Kronologi Utas Viral Pengakuan Korban Perundungan
Isu ini berawal dari pernyataan tegas pemilik akun @amandazaccia yang meluapkan rasa trauma mendalam atas tindakan perundungan yang dialaminya semasa berada di kampus.
“Teruntuk Giselle Maria angkatan 2012 DKV/FSRD Universitas Trisakti, saya tidak akan pernah melupakan dan memaafkan anda seumur hidup,” tulis akun @amandazaccia dalam unggahan yang dikutip pada awal Juli 2026.
Utas tersebut dengan cepat mendapat respons beruntun dari para alumni lain hingga masyarakat umum. Banyak pihak berempati pada dampak psikologis jangka panjang yang sering kali harus ditanggung oleh korban perundungan.
Sorotan Terhadap Budaya “Senioritas” dan Perundungan Kampus
Viralnya pengakuan tersebut membuka kembali diskusi publik mengenai budaya perundungan dan senioritas di lingkungan akademis.
Sejumlah warganet menilai bahwa praktik perundungan berselimut ospek atau perpeloncoan masa lalu kerap meninggalkan luka yang tidak mudah hilang.
Pengguna akun @edi.santosa1 menyuarakan keprihatinannya terhadap budaya tersebut:
“I feel you, gw sejujurnya juga gagal paham, buat apa ada budaya peloco2an atau istilah halusnya, ospek, yg jelas2 hanya ajang bully adik2 kelas… Kegiatan ini bener2 sgt merusak mental mhsw baru dan sbg ajang bales2an antar angkatan,” tulisnya.
Sementara itu, akun @thesltales turut mengomentari nama besar kampus yang terseret dalam perbincangan ini, “Trisakti… padahal dulu saksi reformasi…”
Reaksi dan Gelombang Dukungan dari Netizen
Di samping tanggapan kritis terhadap budaya senioritas, kolom komentar utas tersebut dipenuhi oleh ungkapan empati, dukungan moral, hingga cerita serupa dari warganet yang juga pernah menjadi korban bullying.
Berikut adalah beberapa respons warganet di media sosial:
- @tyamaully: “Hallo Kak, turut prihatin yaaa tau bgt rasanya.. aku dulu jg korban bully di SMP… Aku gak akan pernah ridho dunia akhirat. Lahir batin. Dan aku masih ingat dan hafal nama nama nya…”
- @fazri_halim17: “Duh kak, aku yang punya anak perempuan jadi takut. Semoga di masanya dia kelak orang2 udah gak ada yang bully membully 🥹ðŸ˜. Peluk buat kamu yaaa…”
- @ellesyel: “I hope you’re okayy noww kak, may God bless you always. Wasn’t easy but you break through and that’s what i called power…”
- @lk_nsd4.5: “Release emosi kamu dgn ngegambar, desain, lukisan, patung, anyam, keramik, menulis atau apapun, itu akan sangat membantu.”
- @inaya.almasik: “gilakk jahat banget perundungan nya 😔
Fenomena maraknya pengakuan perundungan masa lalu di media sosial ini menunjukkan makin tingginya kesadaran publik akan pentingnya kesehatan mental serta penolakan terhadap segala bentuk tindakan bullying, baik di lingkup sekolah maupun perguruan tinggi.
Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News
*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com


Leave a Reply