Kisah Nathan Thomas, Profesor Termuda di Dunia Usia 18 Tahun

Nathan Thomas, profesor termuda di dunia rekor Guinness. Lulus S2 Teknik Elektro usia 18 dan kini kuliah hukum
Nathan Thomas, profesor termuda di dunia rekor Guinness. Lulus S2 Teknik Elektro usia 18 dan kini kuliah hukum (KalderaNews/Ist)
Sharing for Empowerment

Kenali Nathan Thomas, profesor termuda di dunia rekor Guinness. Lulus S2 Teknik Elektro usia 18 dan kini kuliah hukum!

JAKARTA, KalderaNews.com – Dunia pendidikan internasional mencatatkan sejarah baru. Nathan Thomas (lahir 9 September 2004) secara resmi dinobatkan oleh Guinness World Records sebagai profesor laki-laki termuda di dunia saat usianya baru menginjak 18 tahun 346 hari.

Pencapaian luar biasa ini memecahkan rekor legendaris berusia 306 tahun milik matematikawan asal Skotlandia, Colin Maclaurin (1698–1746), yang menjadi profesor pada usia 19 tahun.

BACA JUGA:

Bahkan, Nathan mencatatkan rekor 16 hari lebih muda dibandingkan pemegang rekor profesor wanita termuda, Alia Sabur (18 tahun 362 hari pada tahun 2008).

Perjalanan Akademik Kilat: Dari Usia 10 Tahun Hingga Lulus S2

Tumbuh dalam keluarga insinyur di Amerika Serikat, bakat akademis Nathan sudah terlihat sejak dini.

Setelah meraih nilai sempurna pada asesmen kesiapan TK, ia menjalani pendidikan homeschooling sejak usia 5 tahun, memanfaatkan museum dan perjalanan internasional ke lebih dari 20 negara sebagai ruang kelasnya.

Perjalanan perkuliahannya berlangsung dengan sangat pesat:

  • Usia 10 Tahun: Mengikuti program kuliah ganda (dual-enrollment) di Miami Dade College.
  • Usia 14 Tahun: Meraih gelar Associate Degree di bidang Matematika dan pindah ke Florida International University (FIU).
  • Usia 18 Tahun: Berhasil meraih gelar Sarjana (S1) sekaligus Magister (S2) Teknik Elektro dengan predikat Cum Laude (Honors).

Pada Agustus 2023, di usia ketika mayoritas remaja baru memulai masa SMA atau perkuliahan tingkat awal, Nathan resmi diangkat menjadi pengajar/dosen (adjunct professor) di Miami Dade College (Kendall Campus School of Engineering, Technology & Design) mengampu mata kuliah pemrograman dan teknik komputer.

Filosofi Mengajar dan Metode Pembelajaran Praktis

Mengajar mahasiswa yang usianya sebaya atau bahkan lebih tua darinya tidak menjadi hambatan bagi Nathan. Menurutnya, lingkungan akademis menyatukan semua orang pada tujuan yang sama, yaitu belajar.

“Bagian yang paling saya sukai dari mengajar adalah menyaksikan sesuatu dipahami oleh siswa secara langsung. Ketika sebuah konsep yang terasa mustahil beberapa menit lalu tiba-tiba menjadi masuk akal, ada kepuasan tersendiri yang luar biasa,” ungkap Nathan Thomas.

Terinspirasi dari metode homeschooling yang diterapkan ibunya, Nathan menerapkan metode pembelajaran berbasis proyek (project-based learning) dan kolaborasi daripada sekadar ceramah teori.

Dekan School of Engineering Miami Dade College, Manny Perez, turut menyampaikan kebanggaannya atas dedikasi Nathan yang menjadi inspirasi nyata bagi para mahasiswa.

Langkah Selanjutnya: Menuju Gelar Doktor Hukum (2028)

Hasrat belajar Nathan tidak berhenti di bidang teknik elektro. Saat ini, sambil tetap mengajar secara daring, ia sedang menempuh pendidikan Juris Doctor di University of Miami School of Law dan ditargetkan lulus pada tahun 2028.

Nathan berencana berkarir di bidang Hukum Kekayaan Intelektual (Intellectual Property Law) berfokus pada sektor STEM. Ia mengungkapkan bahwa latar belakang tekniknya sangat membantu cara berpikir analitis dan terstruktur saat membedah kasus-kasus hukum yang kompleks.

Sisi Lain dan Pesan Inspiratif Nathan Thomas

Di luar aktivitas akademis yang padat, Nathan tetap menikmati kehidupan layaknya pemuda berusia 21 tahun pada umumnya. Ia gemar berolahraga basket, tenis, dan golf, piawai memainkan piano klasik, serta menikmati musik elektronik (EDM) hingga hip-hop.

Nathan berpesan agar setiap orang tidak terjebak dalam membandingkan timeline hidupnya dengan orang lain:

“Jalur setiap orang itu berbeda, meskipun tujuannya terlihat sama dari luar. Lebih baik temukan apa yang cocok untuk dirimu dan konsisten menjalankannya. Hasilnya mungkin tidak langsung terlihat, tetapi pasti akan datang seiring waktu jika Anda terus berusaha.”

Kisah Nathan Thomas membuktikan bahwa kombinasi lingkungan belajar yang tepat, ketekunan, dan fokus pada jalur pribadi dapat mendobrak batas-batas pencapaian akademis dunia. Rekor yang dipecahkannya kini menjadi tolok ukur baru bagi generasi muda di bidang STEM dan pendidikan global.

Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News

*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmuTertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*