Riset BRIN & BMKG ungkap pemicu hujan ekstrem Pantura Jateng. Simak kombinasi faktor regional & topografi!
JAKARTA, KalderaNews.com – Peningkatan akurasi sistem peringatan dini bencana hidrometeorologi di Indonesia terus diperkuat melalui riset sains atmosfer terintegrasi.
Tim peneliti lintas instansi melibatkan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), BMKG, Universitas Padjadjaran, Telkom University, Institut Teknologi Bandung (ITB), dan Universiti Sains Malaysia resmi mempublikasikan hasil riset mengenai mekanisme pemicu hujan ekstrem di pesisir utara (Pantura) Jawa Tengah.
Riset bertajuk “Multi-factor Driving Mechanism of the 13 March 2024 Extreme Rainfall over Northern Coastal Central Java” ini telah terbit di portal jurnal internasional Journal of Atmospheric and Solar-Terrestrial Physics.
Misteri Hujan Ekstrem Semarang: Tiga Stasiun Tembus 150–200 mm
Peristiwa hujan ekstrem yang mengguyur Semarang dan sekitarnya pada 13 Maret 2024 tergolong sangat langka berdasarkan rekam data klimatologis 15 tahun terakhir.
Tiga stasiun pengamatan BMKG mencatat curah hujan harian melampaui angka ekstrem secara bersamaan:
- Stasiun Tanjung Emas: 171,6 mm/hari
- Stasiun Ahmad Yani: 196 mm/hari
- Stasiun Klimatologi Jawa Tengah: 203,2 mm/hari
Kejadian ini memicu pertanyaan ilmiah besar karena pada saat bersamaan, wilayah Jawa Tengah bagian tengah dan selatan justru relatif tidak mengalami hujan dengan intensitas yang sepadan.
Kombinasi 4 Fenomena Atmosfer Skala Regional
Untuk membedah fenomena ini, tim peneliti menggabungkan berbagai data mutakhir: radar cuaca, citra satelit Himawari-8, data presipitasi GPM, angin ASCAT, reanalisis ERA5, model penelusuran uap air HYSPLIT, serta simulasi Weather Research and Forecasting (WRF).
Hasil analisis menunjukkan adanya benturan 4 fenomena atmosfer regional secara serentak yang memasok uap air dalam jumlah raksasa ke Pulau Jawa:
Madden-Julian Oscillation (MJO): Aktivitas gelombang atmosferik pembawa kelembapan tinggi.
Westerly Wind Burst (WWB): Penguatan hembusan angin baratan.
Cross-Equatorial Northerly Surge (CENS): Aliran angin dingin dan lembap dari Belahan Bumi Utara yang melintasi garis khatulistiwa.
Depresi Tropis: Keberadaan sistem tekanan rendah di sebelah selatan wilayah Indonesia.
Peran Angin Laut dan Topografi Pegunungan Semarang
Pasokan uap air melimpah dari fenomena skala besar tidak serta-merta menurunkan hujan deras di semua titik. Proses lokal menjadi kunci penentu terkonsentrasinya hujan lebat di kawasan pesisir.
Interaksi Angin Darat-Laut: Pertemuan angin laut dan angin darat mengunci massa udara lembap tepat di atas garis pantai Pantura.
Efek Penghalang Topografi (Orographic Lift): Jajaran pegunungan di selatan Kota Semarang bertindak sebagai dinding penghalang alami. Dinding ini memaksa massa udara lembap naik ke atmosfer atas, mendingin, mengembun secara masif, dan menghempaskan hujan lebat bertahan hingga malam hari.
Uji Simulasi Model Komputer
Ketika tim peneliti merekayasa model komputer dengan menurunkan ketinggian pegunungan, pusat hujan langsung bergeser ke wilayah tengah Jawa Tengah.
Bahkan, saat topografi pegunungan dihilangkan sepenuhnya, hujan ekstrem di kawasan pesisir Pantura hampir tidak terbentuk sama sekali.
Penguatan Sistem Peringatan Dini Bencana Pesisir
Kepala PRIMA BRIN, Albertus Sulaiman, menggarisbawahi bahwa pemahaman mendalam atas interaksi dinamika atmosfer dan topografi lokal sangat penting untuk mitigasi bencana berbasis bukti ilmiah (science-based decision making).
Meskipun riset ini belum menguji akurasi operasional sistem prakiraan harian secara langsung, temuan ini menjadi fondasi diagnosis utama bagi BMKG dan BPNB dalam memetakan potensi risiko banjir bandang serta genangan di wilayah pesisir yang berbatasan langsung dengan pegunungan.
Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News
*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com


Leave a Reply