Hujan Meteor Ganda 31 Juli 2026 Bisa Disaksikan di Indonesia, Begini Caranya

Hujan Meteor Quadrantid 2020
Ilustrasi Hujan Meteor Quadrantid
Sharing for Empowerment

Hujan meteor ganda Delta Aquarida Selatan dan Alfa Capricornida mencapai puncak tanggal 31 Juli 2026. Simak cara mengamatinya.

JAKARTA, KalderaNews.com– Fenomena hujan meteor ganda yang merupakan puncak aktivitas Delta Aquarida Selatan dan Alfa Capricornida dapat disaksikan pada 30-31 Juli 2026 dari seluruh wilayah Indonesia.

Meski demikian, kondisi Bulan pasca purnama diperkirakan membuat jumlah meteor yang tampak lebih sedikit dibandingkan kondisi ideal.

Agar peluang menyaksikan meteor semakin besar, pengamat perlu memperhatikan waktu, lokasi, hingga kondisi langit sebelum melakukan pengamatan.

BACA JUGA:

Astronom amatir Marufin Sudibyo menjelaskan, hujan meteor Delta Aquarida Selatan berlangsung sejak 12 Juli hingga 23 Agustus dengan intensitas maksimum sekitar 25 meteor per jam saat puncaknya. Sementara itu, Alfa Capricornida aktif mulai 7 Juli hingga 15 Agustus dengan potensi sekitar lima meteor per jam.

Menurut Marufin, cahaya Bulan yang masih sangat terang setelah fase purnama menyebabkan jumlah meteor yang benar-benar dapat diamati menjadi berkurang.

Ia memperkirakan meteor Delta Aquarida Selatan yang terlihat hanya sekitar separuh dari kondisi ideal, sedangkan Alfa Capricornida kemungkinan hanya menampilkan sekitar satu hingga dua meteor setiap jam.

Waktu terbaik menyaksikan hujan meteor

Waktu paling ideal untuk berburu hujan meteor ini adalah sejak tengah malam hingga menjelang fajar. Pada rentang waktu tersebut, rasi Aquarius dan Capricornus telah muncul di langit timur sehingga meteor berpotensi terlihat melintas ke arah barat, utara, maupun selatan.

Fenomena tersebut dapat diamati dari seluruh wilayah Indonesia tanpa perbedaan yang signifikan antara kawasan barat maupun timur.

Pengamat cukup mengarahkan pandangan ke langit bagian timur saat tengah malam atau ke arah utara maupun selatan ketika mendekati waktu subuh.

Namun, kondisi langit yang cukup terang akibat fase Bulan lebih dari 90 persen pasca purnama tetap menjadi tantangan karena membuat meteor yang tampak semakin sedikit.

Cara menyaksikan hujan meteor ganda

Pengamatan hujan meteor juga tidak memerlukan teleskop ataupun binokular. Medan pandang yang luas justru membuat mata telanjang menjadi pilihan terbaik untuk menikmati fenomena tersebut.

Jika ingin menggunakan alat bantu, kamera berlensa sudut lebar atau sky camera dinilai lebih efektif dibandingkan teleskop.

Selain waktu pengamatan, pemilihan lokasi juga sangat menentukan. Marufin menilai kawasan perkotaan dengan polusi cahaya tinggi, seperti Jakarta dan wilayah Jabodetabek, kurang ideal untuk menyaksikan hujan meteor karena cahaya lampu kota menutupi objek langit yang redup.

Agar pengamatan lebih maksimal, pengamat sebaiknya memilih lokasi yang benar-benar gelap dan memberi waktu sekitar 30 menit bagi mata untuk beradaptasi dengan kondisi minim cahaya.

Selama proses tersebut, penggunaan senter, layar ponsel, maupun lampu kendaraan sebaiknya dihindari. Bila membutuhkan penerangan, lampu dengan cahaya merah lebih disarankan karena tidak mengganggu adaptasi mata terhadap gelap.

Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News

*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*