Dunia dalam siaga satu! Ilmuwan memprediksi Super El Nino ekstrem akan menghantam bumi dan memicu krisis pangan global.
JAKARTA, KalderaNews.com – Badan Administrasi Kelautan dan Atmosfer Nasional AS (NOAA) merilis prakiraan mengejutkan.
Fenomena Super El Nino kini dinilai sebagai skenario yang paling mungkin terjadi dan diprediksi akan berlangsung dari Oktober 2026 hingga Februari 2027.
Data terbaru menunjukkan lonjakan prediksi yang signifikan.
BACA JUGA:
- Siklon Algupit Mengintai, Waspada Cuaca Ekstrem di 5 Wilayah Ini!
- BRIN Ungkap Bahaya Hantavirus! Kenali Gejala dan Cara Cegahnya!
- Jangan Asal Pilih! Ini Trik Ilmiah Pilih Hewan Kurban Sehat
Berikut ini datanya:
- 82% peluang El Nino muncul pada periode sekarang hingga Juli 2026 (naik 20 poin persentase dibanding prediksi April).
- 65% peluang fenomena ini akan masuk kategori kuat hingga sangat kuat mulai Oktober mendatang.
El Nino sendiri merupakan fase hangat dari siklus alami El Nino-Southern Oscillation (ENSO).
Fenomena ini dikategorikan sebagai “Super El Nino” ketika suhu permukaan laut di Samudra Pasifik tropis melonjak hingga 2 derajat Celsius di atas rata-rata.
Jika prediksi ini akurat, dunia akan menghadapi salah satu lonjakan suhu terdahsyat dalam sejarah modern.
Hantu kelaparan global terulang
Siklus El Nino biasanya terjadi setiap 2 hingga 7 tahun sekali. El Nino terakhir pada Mei 2023–Maret 2024 telah sukses menobatkan tahun 2024 sebagai tahun terpanas sepanjang sejarah.
Namun, laporan State of the Climate dari Climate Brief memperingatkan bahwa tahun 2027 berpotensi memecahkan rekor baru yang jauh lebih ekstrem.
Profesor Paul Roundy dari Universitas Albany menyatakan keyakinannya bahwa dunia sedang menuju peristiwa El Nino terbesar sejak era 1870-an.
Para ilmuwan mengkhawatirkan dampaknya akan menyamai bencana iklim Super El Nino tahun 1877.
Pada masa itu, kekeringan massal melanda Asia, Afrika, Amerika Selatan, hingga Australia secara serentak, memicu krisis pangan global yang menewaskan lebih dari 50 juta orang (3% populasi dunia saat itu).
“Yang berbeda sekarang adalah atmosfer dan lautan kita jauh lebih hangat dibandingkan tahun 1870-an, sehingga dampak ekstrem yang muncul bisa menjadi lebih parah,” kata Deepti Singh, ahli klimatologi dari Universitas Columbia.
Ancaman nyata, krisis kemanusiaan
Sebagai perbandingan, peristiwa Super El Nino pada tahun 1997–1998 saja telah melumpuhkan ekonomi dunia dengan kerugian mencapai 32–96 miliar dollar AS (sekitar Rp 563,2 triliun hingga Rp 1,69 kuadriliun).
Menurut pakar ENSO NOAA, Nathaniel Johnson, ancaman nyata yang sudah di depan mata meliputi:
- Kehancuran total pada sektor pertanian dan perikanan.
- Lonjakan risiko kebakaran hutan hebat.
- Intensitas badai yang merusak di berbagai wilayah dunia.
Kondisi ini diperparah oleh kerentanan sosial ekonomi saat ini. Profesor Liz Stephens dari Universitas Reading memperingatkan bahwa penurunan hasil panen akan memicu lonjakan harga pangan global.
Dampak kemanusiaan ini diprediksi akan jauh lebih menyakitkan bagi masyarakat miskin, terlebih dengan adanya ketegangan geopolitik yang masih berlanjut di Timur Tengah.
Dunia kini berpacu dengan waktu untuk bersiap menghadapi hantaman krisis multidimensi ini.
Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News
*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.


Leave a Reply