Kurikulum Lokal Ketinggalan Zaman? Sekolah Internasional Menjamur!

Siswa sekolah internasional. (Ist.)
Siswa sekolah internasional. (Ist.)
Sharing for Empowerment

Animo masyarakat berburu kurikulum global meroket tajam, memaksa sekolah nasional bersiap hadapi gelombang adopsi sistem digital.

JAKARTA, KalderaNews.com – Tren pendidikan berbasis global kian mencuri perhatian masyarakat urban dalam satu dekade terakhir.

Keinginan para orangtua untuk memberikan bekal pendidikan terbaik bagi anak-anak mereka memicu lonjakan jumlah sekolah internasional secara signifikan, baik di kancah global maupun domestik.

Berdasarkan data terbaru dari International School Consultancy (ISC) Research, pasar sekolah internasional di seluruh dunia tumbuh sebesar 45% dalam sepuluh tahun terakhir.

BACA JUGA:

Pada tahun 2025, tercatat ada 15.075 sekolah internasional yang menampung sekitar 7,6 juta murid.

Angka ini naik tajam dari tahun 2015 yang kala itu baru mencapai 10.408 sekolah dengan jumlah kontingen 5 juta murid.

Indonesia masuk radar pertumbuhan global

Indonesia sendiri memegang porsi sebesar 3% dari total sekolah internasional yang tersebar di seluruh dunia.

Berdasarkan laporan dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, jumlah Satuan Pendidikan Kerja Sama (SPK), sebutan resmi untuk sekolah internasional di Indonesia, kini telah menyentuh angka 651 sekolah dengan total 693.099 murid.

Ekspansi ini terlihat nyata jika berkaca dari data tahun 2016 yang baru mencatatkan 429 sekolah.

Sebagai pusat ekonomi dan urbanisasi, DKI Jakarta menjadi episentrum utama dari pertumbuhan ini dengan menyumbang konsentrasi sekolah SPK terbanyak di Indonesia, yakni sekitar 340 sekolah yang tersebar di wilayah Jabodetabek (Pulau Jawa secara umum mendominasi lebih dari separuh total SPK nasional).

Hal ini menegaskan bahwa kebutuhan akan akses pendidikan berstandar global di kota-kota besar sudah tidak lagi menjadi opsi sekunder, melainkan kebutuhan utama kaum urban.

Cambridge dan IB jadi kiblat

Riset bertajuk Mapping Global Growth in the International Schools Market yang dirilis oleh ISC Research memetakan bahwa kurikulum International Baccalaureate (IB) dan Cambridge menjadi dua bahan pengajaran yang paling mendominasi.

Data yang dihimpun dari 14.833 sekolah internasional kategori K-12 (Taman Kanak-Kanak hingga Menengah Atas) di seluruh dunia menunjukkan bahwa kedua sistem edukasi tersebut dinilai paling adaptif dalam mencetak generasi masa depan.

Kewajiban berbagi ilmu dengan sekolah nasional

Menyikapi fenomena ini, pemerintah tidak tinggal diam. Dalam Konvensi SPK Indonesia VIII, Gogot Suharwoto selaku Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Nonformal dan Informal dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menegaskan bahwa sekolah internasional punya tanggung jawab moral terhadap mutu pendidikan nasional.

“Sekolah yang memiliki perjanjian kerja sama wajib berbagi praktik pembelajaran agar mutu pendidikan nasional ikut meningkat,” ujar Gogot.

Melalui sinergi transfer ilmu ini, pemerintah menargetkan proses adopsi poin-poin unggulan dari kurikulum internasional untuk diintegrasikan ke dalam kurikulum nasional.

Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News

*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmuTertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*