
JAKARTA, KalderaNews.com – Nama Waitatiri menjadi perbincangan publik belakangan ini. Ia membanggakan Indonesia dengan salah satu karyanya.
Buku hasil karyanya berjudul The Missing Colours resmi menjadi bagian dari kurikulum di beberapa sekolah di Amerika Serikat. Buku The Missing Colours ini mengangkat isu perundungan
Waitatiri sendiri merupakan salah satu penerima LPDP. Ia lulusan Harvard University, Amerika Serikat. Waitatiri bukanlah lulusan dengan latar belakang pendidikan formal di bidang pengajaran.
BACA JUGA:
- Kisah Fajar Sadboy, Tidak Tamat SD Tapi Bisa Biayai Pendidikan Semua Saudaranya
- Biarawati Katolik, Suster Colleta, Lulus PPG dari Kampus Muhammadiyah
- Hebat! Siswi MAN 4 Jakarta Kamilia Mufidah Raih Penghargaan Outstanding Cambridge Learner Awards 2025
Pencapaian ini merupakan kebanggaan bagi dunia pendidikan Indonesia serta menunjukkan bahwa suara anak muda dapat memberikan dampak yang luar biasa bagus untuk dunia.
Berminat di bidang pendidikan
Ia menyelesaikan studinya di Universitas Indonesia dengan gelar di bidang Sastra Jerman dan lebih tertarik pada dunia kreatif, seperti penulisan dan pemasaran.
Namun, kepeduliannya terhadap dunia pendidikan tetap kuat, terutama ketika pandemi Covid-19. Kala itu, banyak anak di Indonesia mengalami kesulitan dalam mengakses pendidikan daring karena keterbatasan perangkat yang memadai.
Melihat ketimpangan tersebut, Waitatiri tergerak untuk mengambil langkah nyata. Keputusannya melanjutkan studi ke Harvard School of Education melalui beasiswa LPDP menjadi bukti komitmennya untuk berkontribusi lebih dalam di dunia pendidikan.
Di Harvard, ia mengambil jurusan Learning Design, Information, and Technology, yang berfokus pada cara-cara inovatif dalam merancang pembelajaran yang menarik dan efektif, baik melalui buku, permainan, hingga kegiatan luar ruangan.
Sempat menjadi korban bullying jadi motivasi kuat Waitatiri menulis Buku
Perempuan yang akrab disapa Wai ini memilih topik education in uncertainty dengan fokus pada perundungan (bullying) sebagai tema tugas akhirnya di Harvard.
Waitatiri mengaku tertarik mengangkat isu perundungan karena menganggapnya sebagai masalah penting untuk segera ditangani, terutama di Indonesia.
Ketertarikannya terhadap isu perundungan ini juga berakar dari pengalaman pribadinya. Ketika masih bersekolah, ia pernah menjadi korban perundungan dan harus menemukan cara sendiri untuk mengatasi trauma yang dialaminya.
Pengalaman inilah yang kemudian menjadi motivasi utama di balik penulisan bukunya. Melalui The Missing Colours, Waitatiri ingin memberikan ruang bagi para penyintas perundungan untuk menyuarakan perasaan mereka.
Menariknya, buku ini juga memberi kesempatan bagi para pelaku untuk mengungkapkan alasan di balik tindakan mereka, sehingga pembaca dapat memahami permasalahan ini dari berbagai sudut pandang.
The Missing Colours resmi jadi kurikulum di sejumlah sekolah di AS
Usai menyelesaikan bukunya dan lulus studi pada tahun 2023, dosen Wai di Harvard University tertarik dengan karyanya.
Buku The Missing Colours pun kemudian diusulkan untuk dijadikan bahan ajar, tidak hanya di Harvard, tetapi juga di berbagai sekolah di Amerika Serikat.
Melalui perjalanan panjang, Wai bersama seorang dosen dan pengelola kurikulum akhirnya berhasil mewujudkan hal tersebut.
Pada April 2024, The Missing Colours resmi menjadi bagian dari kurikulum di beberapa sekolah di Amerika Serikat.
Bukan itu saja, buku karya Wai bahkan juga dipajang di situs resmi Harvard, bergabung dengan sederet bahan ajar lainnya yang dapat diakses secara gratis oleh mahasiswa.
Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News
*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com


Leave a Reply