Game VR Bhinneka Tunggal Ika Dibuat dan Dikenalkan di Amerika




Pembicara dan pemapar Konferensi Indonesia Focus 2019 berfoto bersama Duta Besar Mahendra Siregar dan Konsul Jenderal Rosmalawati Chalid
Pembicara dan pemapar Konferensi Indonesia Focus 2019 berfoto bersama Duta Besar Mahendra Siregar dan Konsul Jenderal Rosmalawati Chalid (KalderaNews/KJRI Chicago)

CHICAGO, KalderaNews.com – Apa jadinya kalau ilmuwan dan Indonesianis berkumpul di satu tempat? Kolaborasi. Konferensi para ilmuwan, akademisi, peneliti dan Indonesianis terbesar di Midwest Amerika Serikat baru saja berlangsung akhir pekan lalu di Indiana University, Bloomington, Amerika Serikat.

KJRI Chicago pada KalderaNews menyampaikan bahwa bukan sekadar konferensi, kegiatan ini merupakan ajang interaksi para ilmuwan Indonesia dari Amerika Serikat dan Tanah Air termasuk ilmuwan asing yang tertarik mengenai Indonesia.

Prof. Ahmed Karam Yousof, akademisi dari East Stroudsburg University, rajin menjadi peserta konferensi Indonesia Focus yang kali ini sudah diselenggarakan sebanyak 11 kali. Tahun ini, ia mempresentasikan topik “Forecasting Games in Appreciating Indonesia Past Events and Forecasting Its Growing Future”.

BACA JUGA:

Game ini mengambil konsep Mental Time Travel dalam bentuk Virtual Reality dan dinamakan “Unity in Diversity”. Pemain berada di dunia rekaan secara virtual dan dihadapkan pada beberapa pilihan dari beberapa pertanyaan yang popular untuk mencari jalan keluar dari dunia rekaan tersebut.

Dalam presentasi di hadapan sejumlah peserta konferensi, Dr. Yousof mendemonstrasikan pemain yang harus memilih jawaban dimana letak ibukota Indonesia pada tahun 1946. Tidak sulit kan bagi yang tahu sejarah Indonesia? Nah game ini merupakan proyek penelitian selama beberapa tahun dan nanti dapat tersedia di bursa games VR seperti Steam dan Oculus.

Penyelenggaraan Indonesia Focus 2019 ini memiliki makna khusus karena merupakan bagian rangkaian peringatan Hubungan Bilateral RI-AS ke-70 dan bersinergi dengan visi pengembangan sumber daya manusia yang digaungkan pemerintah.

Duta Besar RI untuk Amerika Serikat, Mahendra Siregar, memberikan pemaparan utama mengenai hubungan diplomatik RI-Amerika Serikat yang sudah menginjak tahun ke-70. Hubungan RI-AS memiliki nilai penting karena banyak kesamaan diantara kedua negara, antara lain sebagai sesama negara demokrasi terbesar di dunia.

Konjen RI di Chicago, Rosmalawati Chalid menyatakan, “Konferensi Indonesia Focus tidak hanya sekedar pertemuan ilmiah para ilmuwan. Konferensi ini merupakan serangkaian inisiatif yang melahirkan kolaborasi antar ilmuwan di Indonesia dan Amerika Serikat serta kerjasama U-to-U yang bermanfaat tidak hanya untuk mendorong publikasi internasional para akademisi Indonesia, tapi juga agar lahir ide-ide baru yang inovatif dan bermanfaat bagi Indonesia.”

Mewakili panitia penyelenggara konferensi, Dr. Nurhaya Muchtar menyebutkan bahwa jurnal yang dikelola oleh penyelenggara Indonesia Focus akan didorong untuk memenuhi kriteria publikasi yang diterima oleh SCOPUS. Selain Duta Besar, pemaparan utama juga diberikan oleh Deputi Menpan Prof. Dr. Diah Natalisa, Dr. Yufdi Pratama dan Dr. Hasil Sembiring dari Balitbang Kementan, serta Dr. Bambang Parmanto dari University of Pittsburgh. (JS)

* Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu.




Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*