
SMA Tarakanita Magelang gelar aksi komposting dari galon bekas (SI GALANG) bersama DLH untuk olah sampah organik.
MAGELANG, KalderaNews.com – Hari Studi Karyawan Yayasan Tarakanita Jawa Tengah yang dilaksanakan pada Sabtu, 12 September 2026. Kegiatan yang berlangsung bersama Dinas Lingkungan Hidup Kota Magelang ini mengangkat tema “Belajar dan Beraksi Melalui Komposting” sebagai ajakan untuk semakin peduli terhadap persoalan sampah di lingkungan sekitar.
Kegiatan tidak hanya diisi dengan pemaparan materi, tetapi juga mengajak seluruh peserta untuk belajar melalui pengalaman langsung dan praktik bersama. Hadir sebagai narasumber yaitu Ibu Novi Susanti yang merupakan fasilitator Kecamatan Magelang Tengah, serta Bapak Afton Maula yang merupakan fasilitator Kelurahan Panjang.
Dalam pemaparannya, para peserta diajak melihat kembali persoalan sampah organik yang sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari, khususnya sampah dari aktivitas rumah tangga. Sampah organik seperti sisa sayur, buah, daun, dan sisa makanan sebenarnya masih memiliki manfaat apabila dipilah dan diolah dengan cara yang tepat.
BACA JUGA:
- Menyalakan Kembali Semangat Melayani di SMA Tarakanita Magelang
- Dari Disiplin Hingga Melek Demokrasi, Keseruan MPLS SMA Tarakanita Magelang
- Know Yourself & Be Your Best, Bekal Awal Siswa Baru SMA Tarakanita Magelang
Melalui kegiatan ini, peserta diajak mengubah cara pandang bahwa sampah bukan selalu sesuatu yang harus segera dibuang, melainkan dapat menjadi sumber daya yang masih bisa dimanfaatkan.
Salah satu hal menarik yang diperkenalkan dalam kegiatan tersebut adalah SI GALANG atau “Sistem Galon Pengolah Limbah daripada Dibuang”. Konsep ini memanfaatkan galon bekas yang masih layak sebagai komposter sederhana yang dapat diterapkan di tingkat rumah tangga maupun lingkungan sekitar.
Cara tersebut menjadi contoh nyata bahwa upaya menjaga lingkungan tidak selalu membutuhkan peralatan yang mahal atau rumit. Galon bagian atas digunakan sebagai ruang pengomposan, sedangkan bagian bawah menjadi tempat penampungan cairan hasil proses penguraian.
Dari proses tersebut dapat dihasilkan kompos padat, sementara cairan yang tertampung dapat dimanfaatkan untuk pengolahan lebih lanjut menjadi Pupuk Organik Cair atau POC.
Materi yang disampaikan juga memberikan gambaran bahwa keberhasilan pengomposan sangat bergantung pada kebiasaan memilah sampah sejak dari sumbernya. Sampah organik seperti sisa sayur dan buah, kulit buah, ampas kopi atau teh, daun, rumput, serta bahan kering seperti daun, sekam, dan kertas atau kardus tanpa lapisan plastik dapat dimasukkan ke dalam komposter.
Sebaliknya, plastik, kaca, logam, popok, pembalut, bahan kimia, minyak atau lemak berlebih, serta beberapa jenis bahan lainnya tidak boleh dicampurkan ke dalam komposter sederhana tersebut.
Bahan organik yang akan diolah juga perlu dicacah agar ukurannya lebih kecil sehingga proses penguraian dapat berlangsung dengan lebih baik. Prinsip sederhana yang ditekankan adalah “Pilah dari rumah, olah yang organik, kurangi yang dibuang.”
Praktik Membuat Kompos
Setelah sesi materi peserta kemudian bergerak menuju sesi yang paling ditunggu, yaitu praktik membuat kompos secara berkelompok. Kelompok-kelompok yang telah ditentukan dari masing-masing unit mulai menyiapkan galon bekas, sampah organik basah dan kering, serta bahan pendukung berupa EM4 dan molase sesuai dengan arahan yang diberikan.
Peserta belajar menyusun bahan dengan memperhatikan keseimbangan antara bahan basah dan bahan kering agar kondisi komposter tidak terlalu basah.
Dalam panduan SI GALANG, susunan dapat diawali dengan daun kering, sekam, atau serasah, kemudian sampah organik yang telah dicacah, dan dilanjutkan tanah atau kompos matang sebagai sumber mikroorganisme pengurai.
EM4 juga dapat digunakan sebagai bioaktivator sesuai petunjuk penggunaannya dan secukupnya agar bahan tidak menjadi terlalu basah.
Praktik bersama tersebut menjadi kesempatan bagi para karyawan untuk tidak hanya mendengarkan penjelasan, tetapi benar-benar mencoba sendiri proses pengolahan sampah organik.
Ada yang bertugas menyiapkan bahan, mencacah sampah, menyusun lapisan, hingga memastikan komposter dapat digunakan dengan baik. Suasana kerja kelompok pun terasa hidup karena setiap peserta memiliki peran dalam menyelesaikan praktik yang dilakukan.
Dari kegiatan sederhana tersebut, peserta dapat melihat bahwa pengelolaan sampah sebenarnya dapat dimulai dari langkah kecil yang dilakukan secara konsisten. Proses praktik ini sekaligus menjadi pengingat bahwa kepedulian terhadap lingkungan akan lebih mudah tumbuh ketika seseorang mengalami dan melakukannya sendiri.
Dalam proses pengomposan, komposter tidak cukup hanya dibuat kemudian ditinggalkan begitu saja. Komposter perlu dipantau agar kondisinya tetap lembap, tetapi tidak becek, serta tidak menimbulkan bau busuk yang menyengat.
Setiap kali memasukkan sampah, bahan berukuran besar perlu dicacah, bahan kering dapat ditambahkan ketika kondisi terlalu basah, kemudian komposter ditutup kembali dengan baik.
Jika komposter terlalu basah atau menimbulkan bau, dapat dilakukan beberapa langkah sederhana seperti menambahkan daun kering atau sekam, mengaduk ringan, mengurangi bahan makanan yang terlalu banyak mengandung air, dan memastikan lubang tidak tersumbat.
Kompos yang telah matang ditandai antara lain dengan warna yang lebih gelap, tekstur remah, volume yang berangsur menyusut, serta aroma yang lebih menyerupai bau tanah.
Sejalan dengan Nilai KPKC Tarakanita
Bagi keluarga besar Yayasan Tarakanita Jawa Tengah, kegiatan Hari Studi Karyawan ini menjadi lebih dari sekadar kegiatan pengembangan diri bagi para karyawan.
Tema lingkungan yang diangkat memiliki keterkaitan erat dengan nilai KPKC Tarakanita, khususnya semangat menjaga keutuhan ciptaan dan membangun kepedulian terhadap bumi sebagai rumah bersama. Pemanfaatan galon bekas sebagai komposter juga menunjukkan bahwa gerakan menjaga lingkungan dapat dimulai dari barang sederhana yang ada di sekitar kita.
Konsep SI GALANG sendiri menekankan bahwa pengolahan sampah dilakukan sedekat mungkin dengan sumbernya sehingga sampah organik tidak semuanya harus berakhir sebagai sampah yang diangkut dan dibuang. Selain sederhana dan murah, kegiatan tersebut juga bersifat edukatif sehingga dapat diterapkan di lingkungan rumah, sekolah, masyarakat, maupun komunitas lainnya.
Harapan berikutnya adalah pengalaman yang diperoleh dalam kegiatan ini tidak berhenti setelah komposter selesai dibuat. Bapak dan ibu karyawan di masing-masing unit diharapkan dapat membawa pulang pengetahuan dan pengalaman tersebut untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari serta dibagikan kepada peserta didik.
Dengan demikian, praktik sederhana mengolah sampah organik dapat berkembang menjadi pembiasaan baik di lingkungan sekolah. Peserta didik pun dapat belajar bahwa menjaga bumi bukan hanya materi yang dipelajari di dalam kelas, tetapi merupakan tindakan nyata yang dapat dilakukan mulai dari hal-hal sederhana.
Dari satu galon bekas, satu kelompok belajar, dan satu kebiasaan memilah sampah, diharapkan tumbuh gerakan yang lebih besar untuk menciptakan lingkungan yang bersih, sehat, dan berkelanjutan.
Pada akhirnya, Hari Studi Karyawan Yayasan Tarakanita Jawa Tengah bersama Dinas Lingkungan Hidup Kota Magelang menjadi ruang untuk belajar sekaligus beraksi. Kegiatan ini mengingatkan bahwa kepedulian terhadap lingkungan tidak harus dimulai dari sesuatu yang besar, tetapi dapat tumbuh dari keputusan sederhana untuk memilah dan mengolah sampah yang ada di sekitar kita.
Semangat “Daripada dibuang, lebih baik diolah” menjadi pesan yang relevan untuk terus dibawa dalam kehidupan sehari-hari. Ketika kebiasaan baik dilakukan bersama, sampah organik yang sebelumnya dianggap tidak berguna dapat berubah menjadi kompos yang bermanfaat bagi tanaman dan lingkungan.
Semoga pengalaman belajar dan praktik pada hari ini menjadi langkah kecil yang terus bergerak menjadi kebiasaan baik, menguatkan semangat KPKC, dan menghadirkan kepedulian nyata untuk bumi yang menjadi rumah kita bersama. (Penulis: Ruswita Prawida Lestari, S.Pd)
Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News
*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.


Leave a Reply