Inspiratif! 5 Film Bertema Pendidikan Ini Wajib Anda Tonton




5 rekomendasi film bertema pendidikan untuk temani akhir pekan di rumah (KalderaNews.com/Shutterstock)
5 rekomendasi film bertema pendidikan untuk temani akhir pekan di rumah (KalderaNews.com/Shutterstock)

JAKARTA, KalderaNews.com – Sebelum pandemi, akhir pekan Anda mungkin banyak dihabiskan di luar rumah dengan pergi ke Mal atau mengunjungi berbagai tempat wisata.

Tapi kini, demi menurunkan tingkat penyebaran virus sebaiknya kita semua tetap beraktivitas dari rumah dan mengurangi pergi ke luar untuk hal yang kurang penting.

BACA JUGA:

Agar akhir pekan di rumah tidak membosankan, tim KalderaNews memiliki 5 rekomendasi film inspiratif bertema pendidikan yang dapat dinikmati bersama keluarga.

Apa saja? Berikut pilihannya:

1. Laskar Pelangi (2008)

Berawal dari sebuah novel best seller karya Andrea Hirata, film Laskar Pelangi mengisahkan tentang sebuah sekolah di Desa Gantong, Belitung yang terancam ditutup akibat kekurangan murid. Agar tetap beroperasi, pemerintah setempat mensyarakat harus ada minimal 10 murid yang bersekolah di sana.

Dengan keyakinan penuh, sekolah akhirnya terselamatkan berkat kedatangan tiga orang murid, salah satunya Lintang seorang siswa kurang mampu yang jenius.

11 murid itu kemudian dinamai anak-anak Laskar Pelangi dan diajar dengan penuh cinta oleh Bu Muslimah. Dalam keterbatasan, bersama mereka mampu melewati banyak hal termasuk memenangkan lomba cerdas cermat.

Sayangnya, saat semua terlihat berjalan sesuai harapan, Lintang justru tiba-tiba memutuskan untuk berhenti sekolah.

2. The Theory of Everything (2014)

Nama Stephen Hawking mungkin sudah tidak asing di telinga Anda, bukan? Seorang fisikawan teoritis ini dikenal karena karyanya menjelaskan asal-usul dan struktur alam semesta.

Melalui film The Theory of Everything, Anda akan diajak melihat perjalanan hidup yang luar biasa dari sang ilmuwan. Dimulai ketika ia berkuliah di Universitas Cambridge untuk mempelajari kosmologi, hidupnya berubah 180 derajat saat didiagnosa menderita amyotrophic lateral sclerosis (ALS).

Akibat penyakit itu, perlahan-lahan Hawking kehilangan kemampuannya untuk bergerak dan berbicara. Di usia yang masih sangat muda, 21 tahun, ia bahkan diprediksi hanya akan bertahan hidup selama 2 tahun.

Namun, semua keterbatasan itu tidak menghalangi semangatnya untuk mempelajari alam semesta. Berkat dukungan dari keluarga dan sang istri, ia tetap mampu memberikan sumbangsih besar bagi ilmu pengetahuan.

3. He Named Me Malala (2015)

Film inspiratif selanjutnya datang dari sosok Malala Yousafzai seorang penerima Nobel Perdamaian termuda. Di usia 15 tahun, ia tertembak di kepala saat menumpang bus sekolah di Lembah Swat, Pakistan. Ia ditembak oleh anggota Taliban pada 2012 karena teguh memperjuangkan hak pendidikan untuk anak seusianya.

Ajaib, ia selamat dari kejadian itu dan akhirnya pindah ke Inggris bersama keluarga. Setelah melewati masa sulit, ia pergi keliling dunia untuk bicara mengenai pendidikan dan pengungsi.

Hingga kini, ia masih aktif menjadi seorang aktivis yang menulis blog dan mendorong perempuan untuk menjadi agen perubahan di komunitas mereka.

4. Big Brother (2018)

Bagi Anda penggemar film IP Man tentu sudah tidak asing dengan aksi Donnie Yen. Dalam film produksi Hong Kong ini, ia berperan sebagai Henry, seorang tentara yang menjadi wali kelas di sekolah bermasalah, Tak Chi.

Bukan perkara mudah, ia ternyata harus menghadapi para murid yang nakal dan berusaha menjahilinya. Namun bukannya marah, Henry justru menegur dengan cara yang cerdas. Ia juga berusaha memahami bahwa banyak faktor di luar sekolah yang membuat anak-anak jadi nakal.

Di tengah usahanya memperbaiki sikap para murid dan membantu sekolah, ia harus terlibat konflik saat seorang muridnya disekap gangster. Tidak tinggal diam, ia berusaha melawan demi menyelamatkan sang murid.

5. Sokola Rimba (2013)

Diangkat dari kisah nyata, film ini bercerita tentang Butet Manurung, seorang pendiri Sokola Rimba di Hutan Pedalaman Bukit Dua Belas, Jambi. Dalam film besutan Sutradara Riri Riza ini, Anda akan melihat bagaimana perjuangan Butet dalam memberikan pendidikan bagi anak-anak suku anak dalam.

Awalnya, Butet bekerja di sebuah lembaga konservasi selama 3 tahun di Jambi. Ia kemudian berusaha mengajarkan baca tulis dan berhitung pada Nyungsang Bungo, seorang anak dari suku anak dalam. Namun, niat baiknya sempat tidak mendapat sambutan karena masyarakat masih menganggap belajar akan membawa bencana bagi mereka.

Pantang mundur, ia mencari segala cara tetap bisa mengajarkan Bungo dan suku anak dalam agar tidak mudah dibohongi.

* Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu




Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*