Menyusuri Terowongan Mistis Benteng Pendem Peninggalan Belanda di Cilacap

Benteng Pendem terletak di bagian tenggara kota Cilacap, ujung Timur Pantai Teluk Penyu di wilayah Kelurahan Cilacap, Jawa Tengah
Benteng Pendem terletak di bagian tenggara kota Cilacap, ujung Timur Pantai Teluk Penyu di wilayah Kelurahan Cilacap, Jawa Tengah (KalderaNews/JS de Britto)

CILACAP, KalderaNews.com – Bau amis yang menyengat dari ikan kering langsung menusuk rongga hidung begitu kami memasuki pintu gerbang Pelabuhan Perikanan Samudera Cilacap, seiring laju kapal nelayan yang melaut dengan menerobos angin sepoi di celah-celah sungai yang langsung mengarah ke Samudra Hindia.

Selain berjajar kapal-kapal nelayan yang sedang berlabuh, terlihat juga para nelayan yang tengah sibuk membenahi jaring-jaringnya dengan teliti, para ibu yang membersihan keranjang-keranjang ikan dan para pekerja yang memukul-mukulkan palunya di geladak kapalnya. Kesibukan orang pantai pun langsung terbaca dari semua aktivitas ini, juga dari anak-anak yang berlari-lari dengan kulit legam karena terbakar terik matahari.

Debur ombak pun menggaung begitu papan beton bertuliskan “Teluk Penyu” menyapa kami yang mulai memasuki kawasan pantai yang konon banyak penyunya ini. Seorang nelayan setempat bernama Sugiono (31) pun mengisahkan bahwa penyu-penyu itu kini ternyata telah berimigrasi ke pantai di Bali dan Lombok.

BACA JUGA:

Padatnya lalu-lintas kapal-kapal milik Pertamina dan kapal nelayan membuat penyu-penyu itu tidak kerasan dan tidak berani untuk datang lahi ke pantai yang dijuluki Pantai Teluk Penyu ini untuk bertelur. Padahal, kondisi lingkungan yang tidak terlalu panas dan tidak adanya hewan predator biasa membuat penyu-penyu girang datang ke pantai ini. Karena pantai ini lebih menjorok ke arah Samudra Hindia, meski cuaca panas pun, udara di sekitar pantai ini terasa sejuk.

Keriuhan pengunjung, sorak-sorai anak-anak dan kegaduhan para nelayan yang menawarkan jasanya untuk menyeberangkan pengunjung ke Pulau Nusakambangan pun berpadu dengan geriap debur ombak yang menghanyutkan penat para pengunjung yang ingin segera dilepaskannya di bibir pantai. Teriak, begitulah kebiasaan orang melebur dan melampiaskan kepenatan hidup di pantai seluas 18 hektar ini.

Keriuhan dan kegaduhan jadi potret abadi di pantai ini ketika akhir pekan tiba. Terlihat anak-anak berteriak, menangis dan berjibaku dengan ombak, sementara orang tuanya duduk di tepi pantai bersama anggota keluarga lainnya.

Nelayan di tepi Pantai Teluk Penyu Cilacap
Nelayan di tepi Pantai Teluk Penyu Cilacap (KalderaNews/JS de Britto)
Pengunjung Pantai Teluk Penyu di wilayah Kelurahan Cilacap, Jawa Tengah
Pengunjung Pantai Teluk Penyu di wilayah Kelurahan Cilacap, Jawa Tengah (KalderaNews/JS de Britto)
Tanker Pertamina di Pantai Teluk Penyu di wilayah Kelurahan Cilacap, Jawa Tengah
Tanker Pertamina di Pantai Teluk Penyu di wilayah Kelurahan Cilacap, Jawa Tengah (KalderaNews/JS de Britto)

Merasa tak nyaman dengan keriuhan ini, kami pun hanya berjalan menyusuri tepi pantai sembari menyaksikan burung camar, para pemancing dan kapal tanker pertamina.

Tak seberapa lama berjalan, kami melihat sebuah gapura menjulang tinggi bertuliskan Benteng Pendem. Benar, tak jauh dari pantai ini, ternyata terdapat sebuah benteng peninggalan Belanda. Dikenal dengan nama Benteng Pendem (Kustbatterij op de Landtong te Cilacap), gapura benteng ini terlihat kokoh berdiri.

Kami pun memutuskan untuk memasuki benteng dengan tiket seharga Rp. 5.000,-/orang. Sejuk bukan main. Begitu memasuki gerbang benteng ini, hawa sejuk dan suasana syahdu menghinggapi. Sunyi dengan sayup-sayup suara ombak di kejauhan menjadikan benteng ini semacam oase di tengah geriap kegaduhan dan keriuhan Pantai Teluk Penyu.

Seorang penjaga Benteng Pendem bernama Sugiono (31) pun menuturkan sejumlah catatan penting dari benteng yang dibangun pada 1861 silam ini. Benteng Pendem adalah benteng peninggalan Belanda. Belanda membangun benteng ini selama 18 tahun dari 1861 hingga 1879. “Dulu sebelum ada pertamina luasnya 10,5 hektar dan kini tinggal 6,5 hektar,” kisahnya.

Belanda berkuasa di sini sampai setelah Perang Diponegoro. Belanda pada 1942 kalah dengan Jepang. Makanya, benteng ini pernah dikuasai oleh Jepang selama 3 tahun sampai 1945. Jepang sempat mendirikan bangunan di kompleks benteng ini dengan cor beton yang lebih canggih.

Ruang barak di Benteng Pendem yang terletak di bagian tenggara Kota Cilacap, ujung Timur Pantai Teluk Penyu di wilayah Kelurahan Cilacap, Jawa Tengah
Ruang barak di Benteng Pendem yang terletak di bagian tenggara Kota Cilacap, ujung Timur Pantai Teluk Penyu di wilayah Kelurahan Cilacap, Jawa Tengah (KalderaNews/JS de Britto)
Ruang penjaran di Benteng Pendem yang terletak di bagian tenggara Kota Cilacap, ujung Timur Pantai Teluk Penyu di wilayah Kelurahan Cilacap, Jawa Tengah
Ruang penjaran di Benteng Pendem yang terletak di bagian tenggara Kota Cilacap, ujung Timur Pantai Teluk Penyu di wilayah Kelurahan Cilacap, Jawa Tengah (KalderaNews/JS de Britto)
Penjara mini di Benteng Pendem yang terletak di bagian tenggara Kota Cilacap, ujung Timur Pantai Teluk Penyu di wilayah Kelurahan Cilacap, Jawa Tengah
Penjara mini di Benteng Pendem yang terletak di bagian tenggara Kota Cilacap, ujung Timur Pantai Teluk Penyu di wilayah Kelurahan Cilacap, Jawa Tengah (KalderaNews/JS de Britto)

Begitu Jepang kalah oleh sekutu pada 1945, Belanda menguasai lagi benteng ini sampai 1950. Setelah itu, benteng ini dikuasai oleh tentara Indonesia yang bernama Banteng Loreng.

Setelah 1966 tak berpenghuni hingga digali lagi pada 1986 atas inisiatif CV Wardoyo milik Andy Wardoyo dan pada 1990 diambil alih oleh Pemda.

“Dulu rimbun banget dan tertutup. Benteng ini digali dengan eskavator pada 1986. Alhasil pada 1987-1988, benteng ini sudah bisa jadi obyek wisata hingga sekarang ini,” kisahnya.

Setelah mendapat informasi secukupnya, kami pun memasuki Benteng Pendem. Berderet barak militer, ruang amunisi, ruang senjata dan ruang penjara kami masuki.

Dinding yang telah berlumut dan mengelupas di dinding penjara menandakan usia bangunan-bangunan di kompleks benteng ini. Bulu kudu mulai berdiri begitu kami memasuki ruang penjara. Ruangan sempit ini hanya memiliki ventilasi kecil dengan tebal dinding hingga 2.5 meter. Dikisahkan, banyak napi mati di dalam penjara dan korban pembantaian dikubur di tengah benteng yang tak jauh dari ruang penjara ini. Konon banyak napi yang dipenggal kepalanya.

Tak berlama-lama di tempat ini, kami pun memasuki terowongan yang paling mistis di kompleks ini. Meski air laut sedang pasang sehingga membanjiri terowongan ini, kami pun memutuskan untuk memasukinya dengan ditemani oleh seorang pemandu lokal bernama Arif Fauzi (33).

Air yang hingga sepaha sempat menyurutkan niat kami. Entah mengapa, kami terbujuk juga oleh ajakan Mas Fauzi, sementara pengunjung yang lainnya memutuskan tidak berani memasuki terowongan ini. Rasa takut memang tak menghinggapi karena kami belum mengetahui kisah mistis di dalam terowongan ini. Di dalam terowongan sepanjang 150 meter dengan 8 ruangan ini ada tempat gantung meriam, corong meriam, penjagaan, akomodasi, tempat eksekusi, tempat pembantaian dan ruang rapat.

Terowongan Benteng Pendem di bagian tenggara Kota Cilacap, ujung Timur Pantai Teluk Penyu di wilayah Kelurahan Cilacap, Jawa Tengah
Terowongan Benteng Pendem di bagian tenggara Kota Cilacap, ujung Timur Pantai Teluk Penyu di wilayah Kelurahan Cilacap, Jawa Tengah (KalderaNews/JS de Britto)
Terowongan di Benteng Pendem yang terletak di bagian tenggara Kota Cilacap, ujung Timur Pantai Teluk Penyu di wilayah Kelurahan Cilacap, Jawa Tengah
Terowongan di Benteng Pendem yang terletak di bagian tenggara Kota Cilacap, ujung Timur Pantai Teluk Penyu di wilayah Kelurahan Cilacap, Jawa Tengah (KalderaNews/JS de Britto)
Kegelapan terowongan Benteng Pendem yang terletak di bagian tenggara Kota Cilacap, ujung Timur Pantai Teluk Penyu di wilayah Kelurahan Cilacap, Jawa Tengah
Kegelapan terowongan Benteng Pendem yang terletak di bagian tenggara Kota Cilacap, ujung Timur Pantai Teluk Penyu di wilayah Kelurahan Cilacap, Jawa Tengah (KalderaNews/JS de Britto)

Di dalam terowongan ini memang gelap-gulita. Kami hanya mengandalkan baterai satu-satunya yang dibawa oleh Mas Fauzi. Di tengah terwongan kami sempat hendak mengurungkan niat kami karena airnya makin dalam. Lagi-lagi Mas Fauzi menjamin keselamatan.

Beberapa kali, Mas Fauzi memberitahu bahwa di samping kami ada beberapa sosok yang mengikuti. Bulu kudu pun makin merinding. Kami melihat ruangan demi ruangan yang kini teredam pasang air laut setinggi 1 meter ini.

Lega rasanya ketika di kejauhan kami melihat cahaya. Kami tiba di ujung terowongan dan keluar. Mas Fauzi pun mengisahkan bahwa di dalam terowongan yang baru saja kami masuki itu ada siluman ular dan harimaunya. Rasa takut itu pun baru muncul. Apalagi, kisah-kisah pemancungan dan pemenggalan banyak dilakukan di dalam ruang eksekusi terowongan ini.

Sebenarnya pula, terowongan bawah tanah yang tembus ke Pulau Nusakambangan diperkirakan ada di lokasi terowongan ini. Hanya saja, lokasi pastinya sangat dirahasiakan. Kalau pun ada, dipastikan sudah pecah atau rusak karena di ada di bawah laut.

Setelah menikmati terowongan paling mistis ini pun, kami kembali menikmati hawa sejuk dan segar lingkungan kompleks benteng dengan celana basah.

* Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*