Sekolah Cikal Gelar Bincang-Bincang Pergaulan Remaja Muslim




Sekolah Cikal mengadakan Cikal Bincang-Bincang. (KalderaNews.com/y.prayogo)
Program Manager Agama Islam Sekolah Cikal Setu, Mansur, Murid Year 12 Sekolah Cikal Setu, Andi Siti Aisyah Naajiah, Murid Year 11 Sekolah Cikal Setu, Nayla Aisha dan Wakil Kepala Sekolah Cikal Setu, Izza Dinillah di acara Cikal Bincang-Bincang bertajuk “Pergaulan Remaja Muslim, Bagaimana Orangtua Mendukungnya?” pada Sabtu, 20 Maret 2021 (KalderaNews/Y.Prayogo)

JAKARTA, KalderaNews.com – Dasar pergaulan dalam Islam adalah menghormati, mengasihi, dan mencintai. Hal ini yang mesti dipegang setiap remaja Muslim saat bergaul dengan siapa pun.

Demikian ditegaskan Program Manager Agama Islam Sekolah Cikal Setu, Mansur dalam Cikal Bincang-Bincang bertajuk “Pergaulan Remaja Muslim, Bagaimana Orangtua Mendukungnya?” Acara digelar secara virtual pada Sabtu, 20 Maret 2021.

BACA JUGA:

Selain Mansur, hadir pula sebagai pembicara Andi Siti Aisyah Naajiah (Murid Year 12 Sekolah Cikal Setu), Nayla Aisha (Murid Year 11 Sekolah Cikal Setu), dan Irma Sriwulandari Martam, orangtua murid Sekolah Cikal Setu. Acara dipandu Wakil Kepala Sekolah Cikal Setu, Izza Dinillah.

Mansur juga menegaskan bahwa Islam itu agama yang sangat toleran. Nah, ketika seorang remaja Muslim menjalin relasi atau bergaul dengan orang lain, prinsip yang mesti dipegang adalah relasi kemanusian dan akidah Islam.

“Jadi, kita tetap menjalin hubungan dengan semua orang apa pun latar belakangnya dengan nilai saling menghormati, mengasihi, dan mencintai. Namun, ada batasannya yaitu akidah Islam,” kata Mansur.

Akidah Islam, lanjut Mansur, menjadi batasan dalam pergaulan remaja Muslim. “Inilah yang menjadi pedoman apakah pergaulaan itu berada di jalan yang benar sesuai akidah Islam atau tidak. Kita boleh bergaul dengan siapa pun, tapi tidak boleh mengorbankan akidah Islam,” katanya.

Nah, dalam era digital ini, Mansur memberikan beberapa tip untuk orangtua dalam mendampingi anak-anaknya.

  1. Orangtua harus memperkuat literasi informasi. Jadi, semua informasi yang anak-anak dapatkan dari dunia digital, orangtua mesti tahu. Dengan demikian, orangtua bisa berdiskusi bersama dengan anak-anaknya.
  2. Orangtua mesti sering mengajak anak-anak berdiskusi. Jika ada yang tidak tepat, maka orangtua mesti meluruskan. Jika ada yang tidak benar, maka orangtua harus memberikan informasi yang benar dengan sumber yang benar juga.
  3. Orangtua juga mesti melatih anak-anak berliterasi informasi.

Nah, di Sekolah Cikal, para murid dibekali dengan literasi informasi, agar dapat membedakan informasi yang baik untuk dirinya,” jelas Mansur.

Sementara, Irma Sriwulandari Martam sebagai orangtua menambahkan, orangtua juga mesti menyediakan lingkungan yang baik untuk pergaulan anak serta menciptakan pengalaman-pengalaman yang menyenangkan bagi anak-anaknya.

Sedangkan dalam hubungan antara murid dengan guru dan anak dengan orangtua, Nayla Aisha berharap adanya kesetaraan dalam relasi. Artinya, anak tidak hanya dinasihati, tetapi juga mesti didengarkan. “Kami kan juga memiliki opini untuk disampaikan,” kata Aisha.

Senada dengan Aisha, Andi Siti Aisyah Naajiah juga mengatakan, ketika berbicara tentang agama, sebaiknya dibingkai dalam diskusi. “Bukan sekadar dilarang ini dan itu, tetapi berikan pula argumentasi mengapa hal itu dilarang,” kata Naajiah.

* Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu.




Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*