Jago Matematika Sejak SD, Rafael Kristoforus Yanto: Logika di Baliknya Bisa Jadi Problem Solving




Rafael Kristoforus Yanto, SMAK PENABUR Gading Serpong,
Rafael Kristoforus Yanto (KalderaNews/Dok. Pribadi)

TANGERANG, KalderaNews.com – Bagi siswa SMAK PENABUR Gading Serpong bernama lengkap Rafael Kristoforus Yanto ini berprestasi di mata pelajaran Matematika tentu bukan hal baru lagi. Sejak masih duduk di Sekolah Dasar (SD) hingga saat ini, ia telah meraih banyak medali di kancah nasional maupun internasional.

Namun tatkala prestasi itu diraih di masa pandemi Covid-19, tentu bagi remaja yang akrab disapa Rafael ini tentu menyisakan makna dan pengalaman tersendiri.

Diketahui, baru-baru ini ia menggondol medali emas di ajang International Eduversal Mathematics Competition (I-EMC) 2021 untuk Level Junior (usia 13 – 15 tahun).

BACA JUGA:

Kompetisi bertaraf internasional ini diikuti lebih dari 1.000 peserta dari 53 negara, seperti Inggris, Australia, Jepang, Vietnam, Afrika Selatan, dan Brasil.

Sebelumnya, saat masih di SMPK PENABUR Gading Serpong, ia meraih medali perak (Individual) dan 2 medali emas (Team & Best Overall) di ajang in Teenagers Mathematics Olympiad (ITMO) 2019 di Lucknow, India.

Sebelumnya lagi ia juga menggondol medali emas di ajang OSN waktu SMP dan medali perak di ajang OSN waktu masih di SDK PENABUR Gading Serpong.

Torehan berbagai prestasi Rafael ini tentu tak lepas dari peran pihak sekolah di bawah BPK PENABUR Jakarta, sebagai sekolah Kristen swasta terbaik di Indonesia, yang berkomitmen mendidik peserta didiknya untuk berkembang dan berprestasi sesuai minat masing-masing.

Suka Matematika Sejak Kelas 4 SD

Rafael mengaku menyukasi Matematika sejak kelas 4 SD. Banyak perlombaan dan kompetisi Matematika yang diikutinya. Kendati prestasinya di awal-awal tak sebaik saat ini, tetapi ia mengaku terus memacuk diri untuk terus berprestasi.

“Saya suka ngitung saat melihat-lihat materi Matematika. Saya itung sendiri dan entah kenapa saya suka dengan prosesnya itu. Dari dulu saya punya kepertarikan seperti itu sama Matematika,” akunya saat berbincang dengan KalderaNews.

Ia mengaku awal-awalnya prestasinya tak sebaik saat ini prestasinya. Ia pun meng-improve diri dengan banyak latihan-latihan.

“Akhirnya pas kelas 6 SD saya masuk OSN dan dapat medali perak. Dari situ saya tetap bersemangat untuk terus meningkatkan kemampuan dalam Matematika. Pas SMP ikut OSN lagi dan akhirnya mendapat medali emas sehingga bisa melaju sampai ke tingkat internasional. Saya bersyukur banget waktu itu karena dapat emas.”

Rafael Kristoforus Yanto
Rafael Kristoforus Yanto (KalderaNews/Dok. Pribadi)

Seiring dengan bertambahnya umur, ia pun memandang Matematika secara baru. Ia mengakui dulu suka Matematika karena memang demen itung-itung, sekarang ini Matematika itu udah jadi dasar untuk pemecahan masalah (problem solving) tentang kehidupan sehari-hari.

Baginya, Matematika sebagai problem solving itulah yang membuat Matematika itu berbeda dari kebanyakan pelajaran yang lain.

“Kalau ada yang bilang Matematika itu bikin bosen, bagi saya punya daya tariknya sendiri. Kita nggak cuma ngafal rumus doang, tetapi penjelasan atau logika di baliknya membuat kita bisa memecahkan masalah-masalah yang lebih susah,” akunya

Berprestasi Saat Pandemi

Siswa kelas 10 SMAK PENABUR Gading Serpong ini pun mengakui sejumlah ada pengalaman menarik saat mengikuti kompetisi di tengah pandemi Covid-19 baru-baru ini.

“Karena pandemi kita tidak berlomba di sebuah gedung atau universitas dengan banyak peserta yang lain. Sebelum pandemi kita biasa duduk bersebelahan sehingga kayak ada rasa tegangnya gitu. Kalau sekarang ini, saya ngerjainnya santai-santai saja.”

Ia pun mengaku, “Pas lomba kan nggak terlalu diperhatiin sehingga kadang bisa ngomong sendiri, beda dengan saat offline yang harus nulis dan nggak bebas.”

Hal lain yang dirasakannya adalah aktivitas sosialnya yang semakin berkurang. Saat ikut lomba-lomba secara offline, bisa cari-cari teman baru pas lombanya, tapi sekarang hampir nggak pernah alias nggak pernah kenalan dengan yang ikut lomba. Ia hanya ikut lombanya doang.

“Pas pengumuman ada panggung, lighting dan semua efek yang bikin mendebarkan, kalau sekarang ini secara online nggak begitu mendebarkan. Di rumah juga nggak ada apa-apa,” pungkasnya.

* Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu




Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*