M. Fuad Nasar: Ini Alasan Populasi Difabel di Indonesia Cenderung Terus Meningkat




Sesditjen Bimas Islam, M. Fuad Nasar
Sesditjen Bimas Islam, M. Fuad Nasar (KalderaNews/Ist)

JAKARTA, KalderaNews.com – Sesditjen Bimas Islam, M. Fuad Nasar menyampaikan menurut data Survei Ekonomi Nasional (Susenas) tahun 2018, jumlah penyandang difabel atau disabilitas di Indonesia berjumlah 30,38 juta jiwa atau 14,2 persen penduduk Indonesia.

Sementara itu data yang dirilis WHO dan Bank Dunia tahun 2011, lebih dari satu milyar orang di seluruh dunia menyandang disabilitas atau 15 persen dari seluruh jumlah penduduk dunia.

“Populasi difabel atau penyandang disabilitas di negara kita mengalami kecenderungan meningkat dari tahun ke tahun. Hal itu disebabkan beberapa faktor, di antaranya: struktur umur dan harapan hidup penduduk Indonesia yang semakin meningkat, meningkatnya epidemologi kronik degeneratif, tingginya angka kecelakaan, dan bencana alam,” tegasnya dalam catatan kritisnya di situs resmi Kemenag.

BACA JUGA:

Ia pun menjelaskan istilah penyandang cacat sekarang sudah tidak digunakan lagi. Pada Konferensi Ketunanetraan Asia di Singapura pada 1981 diselenggarakan oleh International Federation of The Blind (IFB) dan World Council for the Welfare of The Blind (WCWB), istilah diffabled mulai diperkenalkan dan dialihbahasakan menjadi difabel. Di kalangan LSM, istilah difabel amat cepat populer karena lebih ramah, egaliter, menghargai, dan memancarkan spirit keberpihakan.

“Mereka yang difabel, baik karena bawaan lahir atau karena mengalami musibah, sebetulnya tidak menuntut belas-kasihan, tetapi yang dibutuhkan adalah pengertian dan dihargai sebagai manusia dengan segala kelebihan dan keterbatasannya.”

Ajaran agama dan nilai-nilai kemanusiaan tidak mentolerir perilaku memandang rendah apalagi mengucilkan difabel. Namun dalam kenyataan sehari-hari, seperti di dunia kerja, masih banyak pihak yang diskriminatif atau sekurangnya meremehkan kemampuan kerja difabel.

Di sebagian masyarakat masih terdapat persepsi yang tidak memberi suasana kondusif kepada difabel. Bahkan tidak jarang anak yang terlahir difabel dianggap “takdir” yang memalukan.

* Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu




Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*