Begini Isi Lengkap Surat Mahasiswi Unima, Tulis Kronologi Pelecehan Seksual oleh Dosen!

Ilustrasi: Pita hitam tanda belasungkawa atau dukacita. (Ist.)
Ilustrasi: Pita hitam tanda belasungkawa atau dukacita. (Ist.)
Sharing for Empowerment

MANADO, KalderaNews.com – Begini isi surat mahasiswi Universitas Negeri Manado (Unima) yang ditemukan tewas gantung diri. Tulis kronologi lengkap pelecehan seksual oleh dosen!

Sebelum tewas, mahasiswi berinisial EMM sempat mengirim surat berisi laporan pelecehan yang dilakukan oknum dosen inisial DM terhadap dirinya kepada dekan.

Surat tersebut ditulis korban di Tomohon, Sulawesi Uatara pada 16 Desember 2025 menggunakan kertas bergaris dengan tulisan tangan.

Surat diberi keterangan perihal pengaduan dugaan tindak pelecehan seksual.

BACA JUGA:

Surat laporan korban untuk dekan

Surat tersebut ditujukan kepada Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan dan Psikologi (FIPP) Unima, Aldjon N. Dapa.

Korban EMM pun menuliskan identitas lengkapnya berupa nama, NIM, program studi, fakultas, nomor telepon, hingga email.

“Dengan ini menyatakan bahwa saya mengajukan laporan terkait dengan tindak pelecehan yang dilakukan oleh Nama Terlapor (inisial DM),” tulis EMM mengawali suratnya.

Kronologi kejadian pelecehan seksual

Dalam surat itu, EMM menceritakan kronologi lengkap pelecehan yang dialaminya.

Ia menyebut peristiwa bermula ketika dosen DM mengirim pesan WhatsApp kepada dirinya pada 12 Desember 2025, sekitar pukul 13.00 WITA.

“Pada hari Jumat tanggal 12 Desember, sekitar jam satu siang, DM chat ke saya, beliau bertanya kepada saya kalau saya bisa urut ke dia. Saya jawab ‘tidak tau ba urut mner’. Mner bilang mner capek sekali. Dalam pikiran sata itu bukan hak saya untuk melayani dia seperti itu,” tulisa EMM.

EMM menceritakan, DM sempat meminta EMM untuk tidak menceritakan percakapannya kepada teman-teman korban.

Kebetulan pada saat itu, EMM sedang bersama dua temannya di food court kampus dan memperlihatkan isi chat DM.

“Mereka berdua bilang ke saya jangan pergi, tapi mner DM sudah mengalihkan pembicaraan menyangkut rekapan nilai, yang sebelumnya sudah saya selesaikan itu. Tapi karna saya pikir ada yang akan diubah, saya berpikir untuk pergi ke mner DM di depan parkiran mobil kampus,” lanjut EMM.

“Sebelum saya pergi tepatnya jam 14.20 saya sudah live location di grup WA saya dan teman saya. Setelah saya sampai di tempat parkir, beliau menyuruh saya untuk naik ke mobilnya,” kata EMM.

Dilecehkan di mobil

Korban EMM pun naik ke mobil dan menanyakan tujuan dirinya dipanggil.

Dosen DM kemudian hanya menjawab bahwa dirinya capek. EMM pun langsung mengabari temannya untuk memantau pergerakan mobil DM.

“Saya bilang ke teman saya jika HP saya tidak aktif live location kalian ikut saya naik indrive. Mobil sudah jalan samping pascasarjana beliau berhenti, beliau memaksa saya untuk duduk di depan, saya menolak perintah tersebut. Di situ saya mulai ragu dengan mner, saya takut diapa-apain sama beliau,” ungkapnya.

Korban EMM sempat menyebut akan pindah ke depan jika melalui pintu. Saat itu, EMM berpikir akan kabur jika dosen DM mengiyakan permintaannya itu karena sudah sangat merasa takut dan tidak tahu harus berbuat apa.

Tetapi, dosen DM memaksa korban untuk pindah ke kursi depan tetap di dalam mobil.

Sementara saat itu, korban mengaku dalam kondisi mengenakan rok. Setelah pindah, di situlah korban mendapatkan pelecehan dari sang dosen.

“15.03 saya sampai di Prodi Pasca di situ saya semakin benci sama mner, karena dengan perlakuannya tidak mencerminkan dia adalah dosen. Pada saat itu beliau berkata bahwa dia adalah dosen yang paling bahagia,” ujar korban EMM.

Pada 16 Desember 2025, EMM mengaku menerima chat dari dosen DM. Namun dia tidak menanggapinya.

“Bukti chat pada tanggal 12 itu sudah terhapus karena chatnya pakai batas waktu dan sudah tidak sempat saya simpan dan ada yang sudah saya SS chat tanggal 16, saya tidak dapat merekam waktu di mobil karena hp saya baterainya sedikit. Saya takut kalau mati dan posisi hp saya jatuh,” lanjut EMM.

Trauma dan takut, berharap dosen pelaku dikenai sanksi

EMM turut menjelaskan bahwa tujuan surat yang ia tulis untuk meminta pihak kampus menangani kasus yang dialaminya.

Dia berharap dosen DM diberi sanksi dan tidak membiarkan orang seperti itu berada di lingkup kampus.

“Dampak yang saya dapat adalah trauma dan ketakutan. Saya takut bila bertemu mner (dosen DM), saya malu jika ada mahasiswa yang melihat saya turun atau naik di mobilnya, akan jadi pembicaraan. Saya tertekan dengan masalah tersebut,” tulis korban.

*Informasi dalam artikel ini tidak ditujukan untuk menginspirasi siapapun melakukan tindakan serupa. Bila kamu merasakan gejala depresi dengan kecenderungan berupa pemikiran untuk bunuh diri, segera konsultasikan persoalan kamu ke pihak-pihak yang dapat membantu, seperti psikolog, psikiater, ataupun klinik kesehatan mental.

Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News

*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmuTertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*