
JAKARTA, KalderaNews.com – Bagi warga Jakarta, Kelapa Gading adalah simbol kemewahan. Kawasan ini merupakan “kota dalam kota” yang menjanjikan gaya hidup modern dengan deretan mal megah, pusat kuliner, hingga perumahan elite. Namun, ada satu pemandangan kontras yang setia menemani kemegahannya setiap musim hujan: banjir.
Banyak yang bertanya, mengapa kawasan sekelas Kelapa Gading masih kesulitan lepas dari kepungan air? Jawabannya ternyata tersimpan rapat dalam sejarah panjang transformasi lahannya.
Memori 1990-an: Sawah Sepanjang Mata Memandang
Melihat Kelapa Gading hari ini yang padat dengan ruko dan apartemen, mungkin sulit membayangkan bahwa kawasan ini dulunya adalah area “tak bertuan”.
BACA JUGA:
- 34 Sekolah di Demak Terdampak Banjir, Sejumlah Sekolah di Jakarta PJJ Senin Ini
- Duh, Bekasi Juga Dikepung Banjir Minggu Ini, 5 Kecamatan Terendam dan Perumahan-Jalanan Lumpuh Setelah Hujan Semalaman
- Jakarta Dikepung Banjir Minggu Ini, BPBD Tebar 2,4 Ton Garam di Langit Utara Jawa
Pada era Hindia Belanda, Kelapa Gading secara administratif masuk ke wilayah Meester Cornelis dan murni berupa hamparan rawa serta persawahan.
Bahkan hingga tahun 1990-an, sisa-sisa wajah aslinya masih terlihat. Salah satu saksi bisunya adalah Gereja Santo Yakobus di Kodamar. Jika sekarang gereja tersebut dikelilingi aspal dan beton, pada tahun 1990-an bangunan ini masih berdiri di tengah kepungan sawah hijau yang luas.

Secara geografis, Kelapa Gading terletak pada ketinggian hanya sekitar 5 meter di atas permukaan laut. Dengan posisi yang sangat rendah ini, secara alami wilayah ini memang menjadi tempat parkir air atau “waduk alami” bagi daerah di sekitarnya. Jadi, jika banjir terjadi, hal tersebut sebenarnya adalah respons alamiah terhadap topografi aslinya.
Asal Usul Nama: Si Kuning yang Tumbuh di Rawa
Nama “Kelapa Gading” sendiri tidak muncul begitu saja. Nama ini diambil dari jenis pohon kelapa varietas Cocos Nucifera Var Ebunea yang dahulu tumbuh subur di sana. Pohon ini memiliki ciri batang sedang dengan buah berwarna kuning gading yang cantik. Karena jenis pohon ini sangat dominan tumbuh di rawa-rawa dan kebun warga setempat, masyarakat akhirnya menamai wilayah tersebut Kelapa Gading. Hingga kini, beberapa pohon ikonik ini masih dipertahankan di pinggir jalan protokol sebagai pengingat identitas kawasan.
Tangan Dingin Soetjipto Nagaria dan Evolusi Summarecon
Transformasi radikal Kelapa Gading dimulai pada pertengahan 1970-an. Sosok di balik layar adalah Soetjipto Nagaria, pendiri PT Summarecon Agung Tbk. Awalnya, Soetjipto adalah seorang spekulan tanah yang membeli lahan di sana sebidang demi sebidang.
Kala itu, Kelapa Gading bukanlah pilihan utama. Area Pluit masih jauh lebih ramai dan diminati. Soetjipto membeli lahan rawa yang tidak produktif tersebut dengan harga hanya Rp1.000 per meter persegi. Lahan itu dianggap tidak cocok untuk bercocok tanam dan dibiarkan terbengkalai.
Namun, Soetjipto melihat peluang. Ia beralih dari spekulan menjadi pengembang (developer). Pada tahun 1975, ia membangun 30 unit rumah pertama berukuran 5×18 meter yang dikenal sebagai Kelapa Gading Permai. Inilah cikal bakal hunian modern di sana.
Rekayasa Besar Mengeringkan Rawa
Mengubah rawa menjadi perumahan bukanlah perkara mudah. Summarecon harus melakukan rekayasa besar-besaran dengan melakukan penimbunan tanah (urukan) untuk memodifikasi 30 hektare lahan rawa awal.
Strategi pembangunannya pun unik. Sambil menunggu pembangunan jalan raya Jabodetabek oleh pemerintah, pengembang membangun fasilitas penunjang yang masif untuk menaikkan nilai tanah:
1984: Peresmian Klub Kelapa Gading (klub olahraga terbesar dan terlengkap di Indonesia saat itu).
1990: Pembukaan Mal Kelapa Gading Fase 1 yang menjadi magnet ekonomi.
1991: Pembangunan Summerville Apartments dan Gading Food City.
Mengapa Masih Banjir?
Meskipun sistem drainase lokal telah dibangun dan pembangunan dua kanal besar di Jakarta (Kanal Banjir Timur) telah rampung, tantangan Kelapa Gading tetap besar.
- Penurunan Muka Tanah: Sebagai daerah bekas rawa dengan beban bangunan yang sangat padat, risiko penurunan muka tanah selalu membayangi.
- Topografi Rendah: Karena posisinya yang hanya 5 meter di atas permukaan laut, Kelapa Gading sangat bergantung pada sistem pompa untuk membuang air ke laut atau kanal.
- Hilangnya Daerah Resapan: Sawah dan rawa yang dulu berfungsi menyerap air kini telah berganti menjadi beton, aspal, dan ruko, sehingga air hujan tidak lagi meresap ke dalam tanah tetapi langsung menjadi genangan di permukaan.
Melihat sejarahnya, banjir di Kelapa Gading adalah pengingat bahwa manusia bisa mengubah lanskap alam menjadi pusat peradaban modern, namun karakteristik asli bumi—sebagai bekas rawa dan dataran rendah—tidak akan pernah benar-benar bisa dihilangkan.
Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News
*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.


Leave a Reply