JAKARTA, KalderaNews.com – Selama ini kemenyan dan kapur barus identik dengan hal-hal mistis dalam kebudayaan lokal.
Namun, di tangan para peneliti Pusat Riset Botani Terapan (PRBT) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), bahan alam tersebut bertransformasi menjadi produk kosmetik bernilai tinggi yang diincar pasar global, seperti Prancis dan Eropa.
BACA JUGA:
- 10 Rekomendasi Kado Valentine’s Day Selain Coklat dan Bunga, Apa Aja Ya?
- Berikut 25 Ide Kado Valentine Day 2023, Yuk Segera Disiapkan
- Ngeri! Inilah Gejala Jamur Hitam yang Harus Diwaspadai di Indonesia
Peneliti PRBT BRIN, Aswandi, mengungkapkan bahwa Indonesia selama ini hanya dikenal sebagai eksportir bahan mentah minyak atsiri. Padahal, potensi ekonomi dari produk turunan seperti parfum dan serum jauh lebih luar biasa.
Keuntungan Berlipat dari “Emas Hitam” Sumatra
Aswandi memaparkan ketimpangan ekonomi yang terjadi akibat ekspor bahan mentah. Indonesia mengekspor sekitar 5 hingga 8 ton kemenyan mentah per tahun dengan nilai mencapai triliunan rupiah.
Bahan tersebut kemudian diolah di luar negeri dan kembali ke Indonesia dengan harga yang melonjak tajam.
“Styrax Parfumes atau parfum kemenyan ini kalau dibeli di Paris harganya minimal sekitar 5 juta rupiah. Padahal, dengan modal bahan baku sekitar 200 ribu rupiah, kita bisa menghasilkan produk bernilai jutaan rupiah,” jelas Aswandi dalam Temu Bisnis Biosains Terapan 2026 di Jakarta.
Parfum kemenyan hasil riset BRIN (Paten No. S00202314472) memiliki keunggulan aromatik yang kompleks:
- Bornyl Acetate: Menghasilkan aroma pedas dan kayu (woody).
- Linalool: Memberikan sentuhan aroma bunga dan jeruk yang manis.
- Khasiat Tambahan: Selain tahan lama, produk ini juga berfungsi sebagai aromaterapi.
Kapur Barus: Satu Gram Setara Satu Gram Emas
Selain kemenyan, BRIN juga menyoroti nilai fantastis dari pohon kapur barus (Kafura). Secara historis, satu gram kristal kapur alami pernah dihargai setara dengan satu gram emas.
Hingga saat ini, harganya tetap tinggi, yakni mencapai Rp100 juta per kilogram.
Meskipun permintaan dari industri di Paris mencapai 200 ribu ton per tahun, ketersediaan bahan ini terkendala oleh kerusakan hutan.
Oleh karena itu, BRIN kini fokus pada konservasi populasi pohon kapur di Sumatra Utara untuk menjaga keberlanjutan industri ini.
Misi Mengurangi Impor Bahan Baku Kosmetik
Kepala PRBT BRIN, Muhammad Imam Surya, menyayangkan fakta bahwa 80% bahan baku kosmetik di Indonesia masih impor.
Ia menekankan bahwa kualitas bahan alam lokal jauh lebih unggul dibandingkan bahan sintetis impor.
“Bahan mentahnya kerap berasal dari Indonesia yang diekspor murah, lalu dibeli lagi oleh masyarakat dalam bentuk produk jadi yang mahal. Kami mengajak industri dan masyarakat untuk bangga menggunakan produk lokal,” tegasnya.
Selain parfum kemenyan, BRIN juga telah mengembangkan berbagai inovasi lain seperti Parfum Clowee berbasis cengkeh, reed diffuser, hingga produk perawatan kulit (skincare) yang menggunakan teknologi nano-emulsi.
Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News
*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.


Leave a Reply