SMA Kolese Gonzaga gelar G-Reflex 2026. Latih siswa kelas 12 melakukan riset ilmiah dan presentasi lewat tradisi Eloquentia Perfecta.
JAKARTA, KalderaNews.com – Pernahkah kamu membayangkan siswa SMA menjalani sidang skripsi layaknya mahasiswa tingkat akhir? Di SMA Kolese Gonzaga, hal ini bukan lagi sekadar bayangan, melainkan tradisi ilmiah tahunan yang wajib dilewati.
Melalui ajang Gonzaga Reflective Learning Experience Exhibition (G-Reflex) 2026, para siswa kelas 12 diajak untuk membuktikan bahwa belajar bukan hanya soal mengejar nilai, tapi menemukan makna bagi kehidupan.
BACA JUGA:
- Polemik Materi Mens Rea, Inilah Jejak Pendidikan dan Karier Pandji Pragiwaksono, Alumnus Kolese Gonzaga, Lulusan ITB
- Beda dengan Kemendikdasmen, SMA Kolese Gonzaga Justru Tegaskan Siswa Berhak Berpartisipasi dalam Demokrasi
- Kasus Gugatan Tak Naik Kelas di SMA Gonzaga, Berakhir Damai
Digelar pada 7-10 April 2026, G-Reflex menjadi puncak dari perjalanan panjang selama tiga tahun menempuh pendidikan di sekolah Yesuit ini.
Menghidupkan Tradisi Eloquentia Perfecta
G-Reflex bukan sekadar pameran biasa. Kegiatan ini merupakan implementasi nyata dari tradisi pendidikan Yesuit yang disebut Eloquentia Perfecta.
Kepala Sekolah SMA Kolese Gonzaga, Pater Eduart C. Rato Dopo S.J, menjelaskan bahwa tradisi ini bertujuan melatih siswa menjadi intelektual sejati. Mereka diajarkan mulai dari cara melakukan penelitian yang akurat, menuliskannya secara runtut, hingga mempresentasikannya dengan fasih di depan publik.
“Eloquentia perfecta bermakna kefasihan dalam menyampaikan gagasan dan pemikiran atas dasar intuisi. Ketika dia sudah mengolah informasi dengan data yang akurat, lalu disampaikan secara runtut,” tutur Pater Eduart.
Proses Panjang Layaknya Sidang Skripsi
Persiapan G-Reflex tidak dilakukan dalam semalam. Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum, Augustinus Widiprihartono, memaparkan bahwa proses riset ini sudah dimulai sejak Agustus tahun lalu.
Selama enam bulan, sebanyak 89 kelompok siswa melakukan penelitian mendalam berdasarkan tema Science, Technology, Engineering, Art, and Mathematics (STEAM). Menariknya, standar yang diterapkan sangat tinggi:
- Uji Turnitin: Untuk memastikan orisinalitas dan meminimalisir plagiarisme.
- Metode Design Thinking: Siswa wajib melalui tahapan empathize, define, ideate, prototype, hingga uji coba.
- Publikasi Digital: Hasil karya tulis akan dipublikasikan secara umum melalui aplikasi sekolah.
Ruang Diskusi Dialektika dengan Akademisi
Puncak acara G-Reflex diisi dengan sesi presentasi yang menantang. Setiap kelompok diberikan waktu 50 menit untuk memaparkan hasil riset dan menjawab pertanyaan.
Uniknya, penguji bukan hanya dari guru internal. SMA Kolese Gonzaga juga menghadirkan observer dari kalangan dosen kampus ternama, orang tua siswa, hingga pelajar dari sekolah lain.
Ketua Pelaksana G-Reflex 2026, Stefanus Abdurrahman Safi’i, menyebut momen ini sebagai “diskusi dialektika” yang mempertemukan pemikiran kritis siswa dengan perspektif akademisi luar.
Pameran Kreativitas di Lobi Sekolah
Bagi pengunjung yang hadir, hasil riset siswa tidak hanya bisa didengarkan lewat presentasi, tetapi juga dinikmati secara visual. Di lobi sekolah, terpampang berbagai karya kreatif seperti:
- Poster Infografis: Ringkasan riset yang mudah dipahami.
- Roda Ilmu Pengetahuan: Visualisasi keterkaitan antar disiplin ilmu.
- Business Model Canvas: Untuk kelompok yang fokus pada inovasi kewirausahaan.
Melalui G-Reflex, SMA Kolese Gonzaga ingin memastikan bahwa setiap lulusannya tidak hanya membawa ijazah saat melangkah keluar, tetapi juga membawa mentalitas peneliti dan kemampuan komunikasi yang mumpuni untuk berkontribusi bagi masyarakat
Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News
*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.


Leave a Reply