LPDP libatkan TNI AU dalam pembekalan penerima beasiswa. Simak alasan pemerintah vs kritik pedas aktivis terkait isu militerisasi ruang sipil.
JAKARTA, KalderaNews.com – Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) kembali menjadi pusat perbincangan publik.
Bukan karena skema pendanaannya, melainkan karena penyelenggaraan Persiapan Keberangkatan (PK) angkatan terbaru yang melibatkan TNI Angkatan Udara (AU).
BACA JUGA:
- LPDP Gandeng TNI Gembleng Awardee, Nasionalisme atau Militerisme?
- Kuliah S3 Gratis di Skotlandia! LPDP-University of Glasgow Resmi Dibuka
- Kuliah S2 Gratis di Spanyol, Beasiswa LPDP-IE University 2026 Dibuka
Berlangsung di Lanud Halim Perdanakusuma sejak 4 hingga 9 Mei 2026, program ini memicu perdebatan sengit antara urgensi penanaman nasionalisme dan kekhawatiran akan militerisasi ruang sipil.
Visi Pemerintah: Membentuk Karakter “Anti-Kacang Lupa Kulit”
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, menegaskan bahwa keterlibatan TNI bukan bertujuan untuk mempersiapkan mahasiswa berperang. Fokus utamanya adalah penguatan mental, kedisiplinan, dan rasa cinta tanah air.
“Bukan untuk perang, tapi untuk memperkuat nasionalisme. Kita tidak ingin penerima beasiswa pergi ke luar negeri lalu justru menghina negaranya sendiri,” tegas Purbaya dalam konferensi pers di Jakarta (4/5/2026).
Pihak LPDP melalui Kepala Divisi Hukum dan Komunikasi, M. Lukmanul Hakim, menambahkan bahwa pelatihan outdoor yang dipandu personel TNI AU dirancang untuk melatih:
- Ketangguhan dan Kedisiplinan: Menyiapkan mental menghadapi tekanan studi S2/S3.
- Kerja Sama Tim: Membangun jejaring antar awardee.
- Adaptasi: Kesiapan menghadapi lingkungan baru, terutama bagi yang belajar di luar negeri.
Aturan Ketat di Lanud Halim: Menginap di Tenda & HP Disita
Pelaksanaan PK kali ini dirasakan berbeda oleh para peserta. Berdasarkan informasi yang beredar, sebanyak 206 peserta wajib:
- Menginap di tenda selama kegiatan berlangsung.
- Pembatasan Ponsel: Peserta hanya diizinkan memegang gawai selama satu jam per hari.
Kebijakan ini diambil untuk memastikan fokus total peserta pada materi pembekalan. Meski menuai protes dari beberapa calon mahasiswa, manajemen LPDP menyatakan aturan ini sudah final sebagai bagian dari internalisasi nilai-nilai negara.
Kritik Tajam: “Mereka Ingin Belajar, Bukan Berperang”
Keterlibatan militer dalam urusan rencana studi mahasiswa ini langsung mendapat reaksi keras dari berbagai aktivis hak asasi manusia dan pengamat pendidikan.
Ancaman terhadap Supremasi Sipil
Direktur Eksekutif Amnesty Internasional Indonesia, Usman Hamid, menilai tidak ada urgensi maupun signifikansi melibatkan TNI dalam pembekalan akademik.
Menurutnya, hal ini mempertegas penguatan militerisasi ruang sipil pasca-revisi UU TNI Maret 2025 lalu.
“Latihan disiplin tidak harus datang dari militer. Mahasiswa butuh layanan bimbingan akademik, bahasa, dan konseling psikologis, bukan latihan fisik semata,” ujar Usman.
Kesalahkaprahan Makna Disiplin
Ketua Umum YLBHI, Muhammad Isnur, menyoroti adanya supremasi militer yang mulai masuk ke ranah intelektual.
Ia menyayangkan jika calon doktor (S3) justru “diceramahi” oleh institusi militer dalam hal-hal yang seharusnya bisa disampaikan oleh para cendekiawan sipil.
Butuh Kurikulum Berkelanjutan
Pengamat pendidikan, Ina Liem, memberikan perspektif yang lebih moderat. Menurutnya, pendekatan semimiliter bisa menjadi metode pembentukan karakter, asalkan tidak berhenti pada seremoni sesaat.
Karakter harus dibangun secara sistematis dalam kurikulum nasional yang berkelanjutan, bukan hanya orientasi di awal.
Investasi SDM atau Kemunduran Reformasi?
Pemerintah memandang pelibatan TNI sebagai investasi kecil untuk memastikan ribuan triliun dana abadi pendidikan tidak terbuang sia-sia pada individu yang tidak loyal pada negara.
Namun, bagi publik, cara-cara “militeristik” dalam dunia pendidikan dianggap sebagai langkah mundur dari cita-cita reformasi.
Apapun hasil evaluasi dari PK di Lanud Halim ini nantinya, satu hal yang pasti: publik akan terus mengawal agar LPDP tetap menjadi inkubator bagi pemikir kritis yang bebas, bukan sekadar mencetak “robot” yang patuh.
Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News
*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.


Leave a Reply