Sosok Kiai Ashari jadi sorotan usai menjadi tersangka kasus dugaan pelecehan terhadap 50 santriwati di Pati.
PATI, KalderaNews.com – Nama Kiai Ashari selama ini dikenal luas di kalangan masyarakat Pati sebagai sosok yang aktif memimpin kegiatan keagamaan.
Ia juga dikenal membuka pintu bagi anak-anak yang ingin menetap dan menimba ilmu di Pondok Pesantren Ndholo Kusumo. Namun, citra tersebut kini tercoreng setelah dirinya terseret kasus dugaan pelecehan seksual.
Di balik penampilan religiusnya, Ashari dilaporkan terlibat tindakan asusila dengan jumlah korban yang disebut mencapai sekitar 50 santriwati.
Pengasuh pondok pesantren di Kabupaten Pati, Jawa Tengah, itu kini telah ditetapkan sebagai tersangka kasus pencabulan.
BACA JUGA:
- Viral Dugaan Pelecehan di Stasiun Kebayoran, Pelaku Intip Bawah Rok
- Geger! Puluhan Siswa SMP di Indramayu Jadi Korban Pelecehan Oknum Guru
- Kasus Pelecehan Dosen UNS Viral Lagi, Korban Tulis Kronologi di Medsos
Modus Ashari yang cabuli puluhan santrinya
Ashari diketahui memimpin Pondok Pesantren Ndholo Kusumo, sebuah lembaga pendidikan Islam berbasis tahfidzul Quran yang dikelola secara gratis.
Sistem pendidikan tanpa biaya tersebut membuat pesantren ini diminati banyak kalangan, terutama masyarakat menengah ke bawah.
Selain itu, pondok pesantren tersebut juga menampung banyak santri dari kalangan yatim piatu. Sebelum kasus ini mencuat, Ashari cukup aktif dalam berbagai kegiatan sosial dan keagamaan di wilayah Pati.
Ia pernah menerima bantuan santunan bagi santri yatim piatu dari kelompok seperti Sahabat Ganjar pada 2023, sementara pesantrennya juga kerap menjadi lokasi kegiatan keagamaan seperti tahlil dan sholawat.
Meski begitu, isu mengenai perilaku menyimpang terhadap santriwati disebut telah lama beredar di lingkungan masyarakat sekitar.
Ponpes tersebut juga disebut tidak memiliki afiliasi resmi dengan organisasi seperti RMI NU, meski sering dikaitkan dengan tradisi pesantren Nahdlatul Ulama.
Sudah lama kehadirannya tidak diterima
Tokoh pemuda Desa Tlogosari, Kecamatan Tlogowungu, Kabupaten Pati, Ahmad Nawawi, menyebut sosok Ashari sebenarnya telah lama menimbulkan keresahan di tengah masyarakat.
Menurutnya, berbagai kejanggalan telah dilakukan Ashari selama puluhan tahun. Ia menilai tindakan yang dilakukan dengan membawa nama agama justru merusak citra Islam di mata publik.
“Sosok Ashari sudah lama tidak diterima masyarakat sini sendiri, simpatisannya banyak dari luar, bukan masyarakat sini. Dia punya dekengan (pihak pelindung), sehingga orang yang melapor tidak berani melanjutkan ketika ada kasus,” ujarnya.
KiaiAshari diduga menjadi pelaku pelecehan seksual terhadap puluhan santriwati di pondok pesantren yang berada di Desa Tlogosari, Kecamatan Tlogowungu, Kabupaten Pati, Jawa Tengah.
Kasus ini memicu kemarahan publik hingga ribuan aliansi santri dan warga mendatangi lokasi kejadian pada 2 Mei 2026.
Salah satu perwakilan Aliansi Santri turut mengungkap bahwa sosok Ashari sebenarnya sudah lama tidak diterima warga setempat.
Informasi itu disampaikan melalui unggahan akun Twitter @heraloebss pada 3 Mei 2026. Dalam video berdurasi 1 menit 36 detik yang beredar, perwakilan tersebut menyampaikan:
“Sosoknya ini sebetulnya sudah lama tidak diterima oleh masyarakat sini,” ujarnya.
Sudah dilaporkan warga sejak tahun 2024
Meski demikian, Ashari disebut tetap bertahan di lingkungan pondok karena memiliki banyak pendukung dari luar daerah.
“Akan tetapi dia itu simpatisannya bukan dari masyarakat sini akan tetapi dari luar,” jelasnya.
Dukungan dari pihak luar tersebut diduga menjadi salah satu faktor yang membuat korban maupun pihak terdekat enggan melanjutkan laporan ketika muncul dugaan kasus.
“Dan dia juga punya dekengan-dekengan tersendiri yang bikin para korban, para orang-orang terdekat untuk tidak melanjutkan misal ada kasus,” ungkapnya.
Kelakuan bejat oknum kiai ini sebenarnya sudah dilaporkan sejak tahun 2024, namun kasusnya baru mendapat perhatian publik dan kepolisian secara intensif pada Mei 2026.
Tersangka menggunakan modus doktrin menyimpang. Ia mengaku sebagai “wali nabi” untuk memanipulasi korban (santriwati) agar patuh dan tidak berani melapor.
Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News
*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.


Leave a Reply