Viral! dr Myta Internship Meninggal, BEM Unsri Soroti Adanya Bullying

dr Myta Aprilia Azmy Dokter internship di RSUD K.H. Daud Arif, Kuala Tungkal, Jambi yang meninggal dunia (KalderaNews/Ist)
dr Myta Aprilia Azmy Dokter internship di RSUD K.H. Daud Arif, Kuala Tungkal, Jambi yang meninggal dunia (KalderaNews/Ist)
Sharing for Empowerment

Viral kematian dr Myta saat internship, BEM FK Unsri soroti dugaan bullying, beban kerja berat, dan desak evaluasi total.

JAMBI, KalderaNews.com– Kasus meninggalnya dokter internship Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya (FK Unsri), dr Myta Aprilia Azmy, yang bertugas di RSUD K.H Daud Arif Kuala Tungkal, viral di media sosial dan memicu sorotan luas.

Almarhumah diduga meninggal dunia setelah mengalami tekanan kerja berlebihan, jam tugas yang tidak manusiawi, hingga tetap diwajibkan bekerja meski dalam kondisi kesehatan yang memburuk.

Dugaan tersebut terungkap melalui surat resmi dari Ikatan Alumni FK Unsri yang ditujukan kepada Menteri Kesehatan RI.

BACA JUGA:

Alumni sebut sistem kerja yang dijalani dokter internship sangat berat

Dalam surat itu, alumni menyoroti beratnya sistem kerja yang dijalani dokter internship, termasuk minimnya waktu istirahat serta lemahnya pengawasan medis di lokasi penugasan.

“Adanya beban kerja yang tidak manusiawi (3 bulan tanpa libur di bangsal/IGD) dan pembiaran dokter internship bekerja tanpa supervisi dokter definitif, yang secara jelas melanggar aturan Kemenkes mengenai status dokter internship sebagai dokter magang, bukan pekerja tetap rumah sakit,” demikian poin pertama yang tertera dalam surat.

Selain beban kerja ekstrem, dr Myta juga dilaporkan tetap diwajibkan menjalani jaga malam saat sedang mengalami sesak napas berat dan demam tinggi. K

ondisi ini disebut sebagai bentuk pengabaian terhadap keselamatan tenaga medis muda yang sedang sakit.

“Bahkan ditemukan fakta adanya saturasi oksigen yang menyentuh angka 80 persen sebelum akhirnya mendapatkan pengobatan yang layak.”

Ikatan Alumni FK Unsri juga mengungkap adanya dugaan bahwa beberapa pembimbing berupaya menutupi kondisi kesehatan almarhumah agar masa internship tidak diperpanjang. Situasi tersebut memperparah kekhawatiran terhadap sistem pembinaan yang dinilai bermasalah.

Tidak hanya itu, dr Myta disebut mengalami tekanan mental berupa bullying verbal selama menjalani internship.

“Narasi gaslighting yang menyerang mentalitas dokter internship seperti sebutan generasi Z lembek saat mereka menyuarakan hak dasar kesehatan,” tutup poin kekhawatiran dugaan perundungan.

BEM FK Unsri serukan evaluasi total terhadap sistem internship

Merespons tragedi ini, Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa Fakultas Kedokteran Unsri (BEM KM FK Unsri) menyampaikan sikap tegas dengan menyerukan evaluasi total terhadap sistem internship nasional.

Lewat media sosial, mereka mengangkat slogan:

“Belajar mengabdi, bukan mengorbankan diri”

BEM KM FK Unsri menilai sistem internship saat ini harus dikaji ulang karena dinilai belum sepenuhnya menjamin keselamatan peserta didik yang tengah menjalankan pengabdian profesi.

Dalam pernyataan resminya, mereka juga menyoroti dugaan buruknya fasilitas, pelayanan kesehatan, serta keterbatasan dukungan medis di lokasi internship.

“Kami mengecam dugaan maladministrasi berupa keterbatasan obat, fasilitas, dan sistem pelayanan yang tidak memadai di wahana internsip,” tulis pernyataan sikap tersebut.

Selain menuntut audit menyeluruh, mahasiswa juga menolak segala bentuk intimidasi maupun upaya menutupi fakta di balik meninggalnya dr Myta. Mereka mendesak investigasi transparan demi mencegah tragedi serupa di masa mendatang.

Kemenkes buka suara

Sementara itu, Kementerian Kesehatan melalui Direktur Jenderal Kesehatan Lanjutan dr Azhar Jaya menyatakan pihaknya telah menerima laporan terkait kasus tersebut.

Kemenkes saat ini tengah mendalami dugaan beban kerja berlebihan dan perundungan yang dialami almarhumah.

“Pasien sebelumnya sudah dirawat tapi kondisi memburuk dan akhirnya meninggal,” jelas pria yang akrab disapa Pak Aco tersebut, saat dikonfirmasi detikcom, Jumat (1/5/2026).

“(Soal kabar bullying) ini kita baru dengar, kita dalami dulu, jika terbukti benar, maka kami tutup. Tapi soal sanksi kepada individunya, ya masuk ke Majelis Disiplin Profesi (MDP), jika memang ada indikasi ke sana,” lanjut dia.

Kasus ini kini menjadi sorotan publik sekaligus pengingat serius tentang pentingnya reformasi sistem internship kedokteran di Indonesia agar proses pendidikan profesi benar-benar menjadi sarana pembelajaran, bukan justru membahayakan keselamatan tenaga medis muda.

Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News

*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmuTertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*