Tak Sekadar Libur, Tragedi di Balik Hari Buruh atau May Day

Hari Buruh Internasional atau May Day. (Ist.)
Hari Buruh Internasional atau May Day. (Ist.)
Sharing for Empowerment

1 Mei tidak sekadar libur. Ada tragedi di balik sejarah peringatan Hari Buruh atau yang dikenal May Day.

JAKARTA, KalderaNews.com – Setiap tanggal 1 Mei, jutaan buruh di seluruh dunia turun ke jalan dengan atribut merah yang mencolok. Di Indonesia, kita mengenalnya sebagai Hari Buruh Internasional.

Namun, di balik riuhnya orasi dan kepulan asap orasi, tersimpan sejarah kelam yang mengubah wajah peradaban kerja manusia selamanya.

Mengapa kita memperingatinya? Dan mengapa istilah “May Day” yang puitis itu justru identik dengan perjuangan kelas pekerja yang keras?

BACA JUGA:

Tragedi Haymarket, titik nol perjuangan buruh

Sejarah Hari Buruh tidak lahir dari ruang perundingan yang nyaman, melainkan dari jalanan Chicago yang membara pada tahun 1886.

Kala itu, buruh dipaksa bekerja hingga 16 jam sehari dalam kondisi yang memprihatinkan.

Pada 1 Mei 1886, sekitar 400.000 buruh di Amerika Serikat melakukan aksi mogok massal menuntut standarisasi 8 jam kerja sehari.

Puncaknya terjadi pada 4 Mei di Haymarket Square, di mana sebuah bom meledak dan memicu bentrokan berdarah antara polisi dan demonstran.

Peristiwa ini mengakibatkan banyak aktivis buruh ditangkap dan dieksekusi, yang kemudian menjadi martir bagi gerakan pekerja global.

Mengapa disebut May Day?

Istilah May Day sebenarnya memiliki dua akar sejarah yang sangat berbeda, namun akhirnya melebur dalam konteks perjuangan:

  1. Tradisi Pagan: jauh sebelum revolusi industri, May Day adalah festival musim semi kuno di Eropa untuk merayakan kesuburan dan mekarnya bunga.
  2. Simbol Perlawanan: gerakan buruh internasional memilih tanggal 1 Mei untuk menghormati para martir Haymarket. Penggunaan nama “May Day” untuk Hari Buruh resmi ditetapkan pada tahun 1889 oleh Konferensi Sosialis Internasional di Paris.

Nah, jangan keliru dengan istilah “Mayday” (satu kata) dalam dunia penerbangan.

Kode darurat tersebut berasal dari bahasa Prancis m’aider yang berarti “tolong saya”, dan tidak memiliki hubungan sejarah dengan Hari Buruh.

Sejarah Hari Buruh di Indonesia

Di Indonesia, perayaan May Day sempat mengalami pasang surut. Pada era Orde Baru, peringatan ini dilarang karena dianggap terlalu identik dengan ideologi kiri.

Namun, pasca-Reformasi, semangat ini kembali membara. Puncaknya, pada tahun 2013, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menetapkan 1 Mei sebagai Hari Libur Nasional, sebuah pengakuan resmi terhadap peran vital buruh dalam pembangunan bangsa.

Peringatan May Day hari ini adalah jembatan antara masa lalu yang penuh perjuangan dan masa depan dunia kerja yang lebih adil.

Saat kamu menikmati libur di tanggal 1 Mei, ingatlah bahwa ada harga mahal yang dibayar oleh para pendahulu demi kenyamanan kerja yang kita miliki sekarang.

Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News

*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmuTertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*