Viral! SD Muhammadiyah Trenggalek Berani Tolak MBG, Ini 3 Alasannya

Viral! Siswa Bandung Kembalikan MBG Gegara Bau Tak Sedap
Viral! Siswa Bandung Kembalikan MBG Gegara Bau Tak Sedap
Sharing for Empowerment

SD Inovatif Trenggalek mundur dari program Makan Bergizi Gratis karena kurangi waktu belajar 30 menit dan makanan mubazir.

TRENGGALEK, KalderaNews.com – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi agenda nasional kembali menuai sorotan tajam. Kali ini, sikap tegas datang dari dunia pendidikan di Trenggalek, Jawa Timur.

SD Muhammadiyah 1 Trenggalek (dikenal sebagai SD Inovatif) secara resmi memutuskan untuk mundur dan tidak lagi menerima manfaat program MBG untuk tahun ajaran 2026-2027.

BACA JUGA:

Langkah berani ini diambil setelah pihak sekolah melakukan evaluasi mendalam terhadap pelaksanaan program yang telah berjalan sejak November 2025 lalu. Apa saja alasan di balik keputusan ini, dan bagaimana respons publik di media sosial? Berikut ulasan lengkapnya.

3 Alasan Utama SD Inovatif Trenggalek Mundur dari Program MBG

Kepala SD Inovatif Trenggalek, Ikhsan Nur Wahyudi, menegaskan bahwa keputusan ini diambil berdasarkan hasil rapat kerja internal sekolah.

Ia menggarisbawahi bahwa pihak sekolah sama sekali tidak menolak pentingnya pemenuhan gizi anak, melainkan menyoroti kendala teknis dan implementasi di lapangan.

Beberapa poin krusial yang menjadi landasan evaluasi antara lain:

1. Menyita Waktu KBM (Kegiatan Belajar Mengajar) hingga 30 Menit

Faktor manajemen waktu menjadi pertimbangan terbesar. Proses distribusi makanan kepada seluruh siswa setiap hari memakan waktu minimal 30 menit.

“Bagi kami, durasi itu sangat berharga karena mengurangi jatah efektif anak-anak belajar di dalam kelas,” ujar Ikhsan (12/7/2026).

2. Banyak Makanan Terbuang (Mubazir)

Evaluasi sekolah menemukan fakta memprihatinkan di mana banyak makanan yang tidak habis dikonsumsi siswa. Hal ini dinilai bertolak belakang dengan pendidikan karakter dan nilai religius yang diajarkan di sekolah. Dalam ajaran Islam, perilaku mubazir sangat dilarang dan harus dihindari.

3. Masalah Fleksibilitas Menu dan Alokasi yang Kurang Tepat Sasaran

Dari sisi sosial-ekonomi, mayoritas orang tua murid di SD Muhammadiyah 1 Trenggalek dinilai sudah mampu memenuhi kebutuhan gizi anak secara mandiri.

Pihak sekolah berharap anggaran MBG dari pemerintah bisa dialihkan ke sekolah lain yang jauh lebih membutuhkan.

Selain itu, program MBG dinilai kaku karena menunya dikunci oleh petunjuk teknis (juknis) dari pusat, sehingga sekolah tidak memiliki kuasa untuk menyesuaikan variasi menu jika siswa merasa bosan atau kurang cocok.

Kembali ke Sistem Mandiri: Solusi Prasmanan dan Dapur Mitra

Sebagai gantinya, SD Inovatif menghidupkan kembali Program Makan Siang Mandiri yang sudah berjalan sejak sekolah tersebut pertama kali berdiri. Program internal ini dinilai jauh lebih efektif karena beberapa keunggulan:

  • Sistem Prasmanan (Wadah Besar): Siswa mengambil porsi nasi dan lauk sesuai kebutuhan mereka, sehingga meminimalisir makanan terbuang.
  • Kontrol Kualitas Langsung: Sekolah bekerja sama dengan dapur mitra. Jika kualitas makanan menurun atau menu kurang cocok, sekolah bisa langsung menegur dan mengevaluasi pihak penyedia secara cepat.
  • Dukungan Wali Murid: Mayoritas orang tua siswa justru mendesak agar program mandiri ini dipertahankan karena fleksibilitasnya.

Reaksi Viral Netizen di Threads: Pro-Kontra dan Fakta Lapangan

Keputusan SD Muhammadiyah 1 Trenggalek ini langsung memicu gelombang diskusi hangat di platform media sosial Threads. Banyak netizen yang membenarkan keluhan pihak sekolah mengenai manajemen waktu dan masalah sampah makanan (food waste).

Berikut adalah beberapa suara netizen terkait isu ini:

Dukungan Terhadap Efisiensi KBM

Banyak netizen sepakat bahwa proses logistik pembagian makanan memang memakan waktu yang tidak sedikit.

  • @ekurnia82: “Sebaiknya semua sekolah keluar dari Program MBG karena mengganggu KBM di sekolah.”
  • @f474r788487: “Membagikan rantang lalu memakan menu yang dibagikan, mengumpulkan rantang dan mengembalikan rantang cukup 30 menit ngak? Kalau lebih dari 30 menit berarti mengganggu pembelajaran.”

Sorotan Terhadap Masalah Makanan Mubazir

Fenomena makanan yang terbuang ternyata bukan hanya terjadi di Trenggalek, melainkan menjadi keresahan bersama di berbagai daerah.

  • @desiii3112: “Makanannya juga gak kemakan.”
  • @sukmatea2s: “Gak dimakan anak-anaknya juga kak. Kadang anak gak suka dengan lauk atau sayurnya… SPPG mengirim sesuai dengan jumlah murid di sekolah tanpa melihat absensi per harinya.”

Isu Intimidasi dan Keberanian Sekolah

Di sisi lain, netizen juga menyoroti adanya faktor eksternal seperti tekanan struktural yang membuat tidak semua sekolah berani mengambil langkah serupa seperti SD Muhammadiyah.

  • @matajalan_theotherside: “Tidak semua sekolah bisa menolaknya… Kenapa?? Karena ada banyak sekolah tidak mau diintimidasi… tidak semudah itu melaporkan jika tidak punya jiwa tahan diintimidasi.”

Evaluasi Total Program MBG Nasional

Langkah SD Muhammadiyah 1 Trenggalek menjadi alarm keras bagi pemangku kebijakan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Kasus ini membuktikan bahwa pendekatan one-size-fits-all (satu kebijakan untuk semua) tidak selalu efektif di lapangan.

Meskipun tujuan utamanya mulia demi perbaikan gizi nasional, fleksibilitas juknis, manajemen distribusi agar tidak memotong waktu KBM, serta penyesuaian selera anak guna mencegah food waste harus segera dibenahi agar program ini tepat sasaran dan tidak menjadi beban baru bagi pihak sekolah.

Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News

*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmuTertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*