Viral! Siswa Muslim Sekolah di Penabur Raih Nilai Agama Kristen 100

Utas yang dibagikan oleh akun @enjigit_angie
Utas yang dibagikan oleh akun @enjigit_angie (KalderaNews/Malena)
Sharing for Empowerment

Viral di Threads curhatan ibu muslim yang anaknya raih nilai Agama Kristen 100 di Penabur. Simak reaksi adem dari netizen.

JAKARTA, KalderaNews.com – Sebuah unggahan di platform media sosial Threads baru-baru ini menjadi sorotan hangat dan viral di kalangan orang tua murid.

Utas yang dibagikan oleh akun @enjigit_angie memicu diskusi positif mengenai potret toleransi, keberagaman, dan sistem pendidikan di sekolah berbasis agama swasta di Indonesia.

Dalam unggahannya, akun tersebut membagikan pengalamannya sebagai seorang ibu muslim yang menyekolahkan anaknya di sekolah Kristen BPK Penabur.

BACA JUGA:

Ia mengungkapkan keheranannya sekaligus rasa syukur karena sang anak berhasil mendapatkan nilai sempurna di rapor untuk mata pelajaran Pendidikan Agama Kristen, meski di rumah tetap taat menjalankan ibadah agama Islam.

“Mami-mami semua, gak papa banget kan 🙏🏼 kalo Agama Islam tapi nilai Pendidikan Agama Kristen-nya 100 di raport 🫣 Padahal di buku ibadah isinya tentang pelajaran Islam semua 😇 adakah disini yang Islam juga tapi sekolah di Penabur?” tulis akun @enjigit_angie dalam utasnya.

Mengapa Sekolah Kristen/Katolik Diminati oleh Orang Tua Non-Kristen?

Unggahan tersebut langsung diserbu oleh ratusan komentar dari sesama orang tua murid, baik yang beragama Islam, Kristen, Katolik, maupun Hindu.

Sebagian besar dari mereka memberikan respons yang sangat mendukung dan menilai fenomena ini sebagai hal yang lumrah dan positif.

Berdasarkan diskusi netizen, berikut adalah beberapa alasan mengapa banyak orang tua muslim tetap memercayakan pendidikan anak mereka di sekolah berbasis Kristen atau Katolik:

1. Menekankan Nilai Budi Pekerti dan Adab Universal

Banyak netizen menjelaskan bahwa kurikulum pendidikan agama di sekolah swasta Kristen seperti Penabur tidak melulu fokus pada dogmatis atau ayat-ayat teologis, melainkan lebih ke arah pembentukan karakter, nilai moral, dan cinta kasih universal.

  • @unk_250: “Pendidikan agamanya bukan melulu tentang ayat. Lebih kayak PPKN. Diajari cinta kasih, toleransi, menghargai dsb. Dan itu diajari cara penerapannya sehari-hari… Semua manusia setara.”
  • @hastiras: “Anakku juga di SMA Katolik, nilai agamanya juga bagus. Karena di pelajaran agama Katoliknya lebih menekankan ke adab sih, bukan yang belajar agama Katolik yang full teori gitu.”

2. Kedisiplinan dan Kualitas Akademik yang Ketat

Selain faktor pembentukan karakter, aspek kualitas akademik dan kedisiplinan yang diterapkan sekolah-sekolah ini menjadi alasan kuat para orang tua memilih sekolah tersebut.

  • @arsellaaaaaaa: “Aku muslim yang nyekolahin anak di TK Kristen kak, sekolahnya bener-bener ketat akan kedisiplinannya.”

3. Tidak Ada Paksaan Pindah Agama (Bebas Kristenisasi)

Para orang tua lintas agama juga bersaksi bahwa sekolah-sekolah ini sangat menghargai latar belakang keyakinan tiap siswa tanpa adanya paksaan untuk mengubah keyakinan dasar anak.

  • @yustinarossa: “Iman sama pengetahuan itu 2 hal berbeda… Lagian Penabur dan sekolah Kristen Katolik lainnya gak pernah maksa untuk mengucapkan kalimat untuk kristenisasi atau disuruh baptis mam.”

Pentingnya Peran Pendidikan Agama dari Rumah

Meskipun sekolah memberikan fasilitas edukasi moral yang baik, netizen juga mengingatkan agar benteng keimanan utama anak tetap dibangun dari lingkungan keluarga. Menanamkan nilai-nilai keislaman secara mandiri di rumah dinilai menjadi kunci utama agar anak tetap memiliki identitas agama yang kuat.

  • @isna_yustikaa: “Gak papa mam.. PR-nya harus diajarin++ agama dari rumah ya mam.”

Menariknya, ada juga cerita unik di mana anak lulusan sekolah Katolik yang memiliki nilai rapor agama yang tinggi, justru memiliki kemampuan mengaji yang sangat fasih saat dites masuk perguruan tinggi karena bimbingan yang konsisten dari rumah.

Indahnya Toleransi di Ruang Lingkup Pendidikan

Fenomena viralnya siswa muslim yang meraih nilai 100 pada pelajaran Agama Kristen di BPK Penabur ini membuktikan bahwa perbedaan keyakinan tidak menjadi sekat untuk meraih pengetahuan dan belajar tentang kebaikan.

Hubungan antar-orang tua murid di sekolah pun tetap harmonis tanpa memandang perbedaan latar belakang agama demi tujuan yang sama: mendidik anak menjadi manusia yang memanusiakan manusia lainnya.

Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News

*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmuTertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*