
JAKARTA, KalderaNews.com – Dunia maya kembali dihebohkan oleh perdebatan mengenai “biaya sosial” di sekolah-sekolah elite.
Bermula dari unggahan jujur akun chickencrispyyyy_ di platform Threads pada Juli 2025, isu ini mendadak menjadi bola salju yang menyeret perbandingan antar-institusi pendidikan besar di Indonesia.
Unggahan pada 2025 lalu itu kembali ramai dikomentari netizen pada 2026 ini.
BACA JUGA:
- Sekolah Akhirnya Angkat Bicara Terkait Video Viral Study Tour Al Azhar IIBS Karanganyar ke Eropa
- Terinspirasi Kolese Kanisius dan Al Azhar, Rektor Binus: Mahasiswa Nyontek Langsung DO!
- Al-Azhar International Islamic Boarding School di Tawangmangu Diresmikan
Dalam unggahannya, sang ibu mengaku secara finansial mampu membayar SPP di sekolah Islam ternama, Al Azhar. Namun, ia justru mundur teratur setelah mendengar testimoni mengenai tingginya “biaya sosial” atau gaya hidup di lingkungan tersebut.
“Aku & suamiku mampu banget buat nyekolahin anaku di Al Azhar, tapi ternyata aku yang ga mampu buat ngikutin biaya sosialnya. Heheh,” tulis akun tersebut.
Netizen Bandingkan dengan Penabur: “Gak Ada Nananunu”
Unggahan ini pun memancing reaksi ribuan netizen, termasuk dari kalangan influencer dan orang tua murid sekolah lain. Salah satu tanggapan paling mencolok datang dari akun populer @xanderskitchen, yang membagikan pengalamannya menyekolahkan anak di BPK Penabur.
Ia menyebut bahwa di Penabur, sistem keuangan sangat transparan dan guru dilarang keras menerima pemberian dalam bentuk apa pun dari orang tua murid.
“Guru bahkan dilarang terima apa pun dr murid dan wali murid… Prinsip kami sekolahkan anak ga usah maksain diri, apalagi ke sekolah yg jelas biaya sosialnya tinggi,” tegasnya.
@ser.mins “penabur ga boleh begini, bahkan sy inisiatif mau kasih hampers natal aja ditolak dgn lembut. “Terimakasih niatnya, tapi tidak usah mami, kami tidak menerima hal2 seperti itu🙏🏻” Ditolakk dong. Penabur emg the Best!”
@mon0mod “Di Taruna Bangsa sentul pun persis begini, jadi cuma bayar uang kegiatan dan spp aja, sisanya ga perlu mikir lagi. Karena diharamkan ngasih apapun ke guru. Bahkan lomba2 pun difasilitasi sekolah, Fasilitas? Ni sekolah hidden Gems di wilayah bogor. Masalah bully gabpernah nemuin, karena bener2 diantisipasi sama sekolah.”
@biang.riang “Dulu aku SMP jg dipenabur, meski aku islam Tp emang best sih penabur”
@homefurniture_palembang “Jgnkan swasta ci yg negeri pun emak2nya gaya2an. Notabene negeri ya bkn org2 berduit. Jd emak2ny sibuk bgt mau buat acara ini itu sumbangan ini itu. Trakhir kmrn mau ngajak sumbangan kasih THR aq bilang guru itu rata2 pns nah mereka udh dpt thr dan gaji dri pmerintah. Gk usahlah memberatkan ibu2 yg lain utk sumbangan ngasih THR klopun mau kasih mending ke satpamnya krn dia sering bantuin qt n dia gk ada THR nya. Udhlah jgn buat macem2. Klo mau pribadi sndiri sja.”
@esgabuspelangi__ “Teman kantor sy yg sekeluarga muslim juga sekolahin 2 anaknya di Penabur. Dan dari ceritanya memang sebagus itu.”
@sailormoonsyh “Aku muslim tp gatau kenapa suka bgt sama sekolah penabur, keren setiap lomba science selalu menang.. 5 tahun yg akan datang aku pengen anakku masuk penabur, gpp beda agama biar bisa tau apa itu toleransi..”
Budaya “Low Profile” dan Larangan Tip Satpam
Senada dengan hal tersebut, netizen lain bernama netapairikas dan worogita88 turut mengamini bahwa sekolah di Penabur jauh dari kata “pusing biaya tambahan”. Mereka memuji peraturan sekolah yang sangat ketat namun memberikan kenyamanan karena orang tua murid cenderung low profile.
@netapairikas “anak aku juga di penabur, tidak pusing nananunu biaya2 udah jelas di awal di info bayarnya apa aja, peraturan super ketat tapi aku suka”
@apheldini “Kalo denger cerita sistem belajar di penabur tuh suka ngebatin, penabur gamau bikin versi sekolah Islam Terpadu (IT) kah? 🤣 Dari jaman saya kecil sampe sekarang konsisten prestasinya”
Bahkan, akun hildasirait menambahkan fakta unik: “Jangankan guru, satpam pun dilarang menerima tip!” Hal ini menunjukkan betapa ketatnya integritas staf di sekolah Kristen dan Katolik dalam menjaga profesionalitas.
Prestasi vs Mental Anak
Perdebatan ini tidak hanya soal uang, tapi juga soal kualitas. Banyak netizen yang mengakui konsistensi prestasi sekolah seperti Penabur dan sekolah Katolik seperti Xaverius.
@egafityand “Aku besar dr sekolah katolik xaverius, dan bener gak pernah ad pungutan biaya apapun,, spp ajaa. Fokus sm belajar belajar belajar.. Skrg mau skolahin anak dskolah xaverius, gaknkuat mental dhujat kluarga besar, klo. Jamn dlu fine fine ajaa”
@riantidee_: Di Mardi Yuana juga dilarang keras memberikan bingkisan dalam bentuk apapun…
@jocelyn.ch5 “Sekolah kristen dan katolik memang begitu ci. Saya pernah sekolah di sekolah katolik. Semua guru, staff dan kepsek dilarang menerima pemberian wali murid dalam bentuk apapun.”
Menariknya, @xanderskitchen sempat berkelakar mengenai kualitas pelajaran yang sangat tinggi: “Anak saya yang sulung di Penabur ranking akhir, pindah ke NTT juara umum,” tulisnya diiringi tawa.
Namun, di balik perdebatan ini, terselip pesan penting bagi para orang tua. Memilih sekolah bukan hanya soal gengsi atau nama besar, melainkan tentang kecocokan mental anak dan kemampuan finansial keluarga secara menyeluruh—termasuk biaya “tersembunyi” di balik pergaulan antar-wali murid.
Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News
*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.


Leave a Reply