
KH Miftachul Akhyar kembali terpilih sebagai Rais Aam PBNU periode 2026-2031. Simak profil KH Miftachul Akhyar selengkapnya.
JOMBANG, KalderaNews.com– KH Miftachul Akhyar kembali dipercaya memegang posisi Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) untuk masa khidmat 2026-2031.
Keputusan tersebut ditetapkan melalui musyawarah sembilan anggota Ahlul Halli Wal Aqdi (AHWA) dalam rangkaian Muktamar ke-35 NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur.
Keputusan AHWA dibacakan oleh Kiai Anwar Iskandar di hadapan para muktamirin. Dalam musyawarah tersebut, nama KH Miftachul Akhyar disepakati untuk kembali menduduki jabatan Rais Aam PBNU.
BACA JUGA:
- Ketua Umum PBNU: Kami Semua Adalah Rakyat yang Setia Kepada Negara
- 20 Link Twibbon Muktamar ke-35 NU, Lengkap dengan Beragam Desain
- Sosok Muhammad Ihsan dari MAN IC Serpong Pemborong 3 Medali IESO Italia
Dengan keputusan tersebut, Miftachul akan melanjutkan kepemimpinannya sebagai Rais Aam hingga 2031. Sebelumnya, ia telah menduduki posisi tersebut untuk masa khidmat 2021-2026 dan pernah menjadi Penjabat Rais Aam PBNU pada 2018-2020.
Lahir dari Keluarga Pesantren
KH Miftachul Akhyar lahir di Surabaya, Jawa Timur, pada 30 Juni 1953. Ia merupakan anak kesembilan dari 13 bersaudara dan putra KH Abdul Ghoni, pengasuh Pondok Pesantren Tahsinul Akhlaq Rangkah, Surabaya.
Miftachul tumbuh dalam keluarga ulama dan sejak kecil mendapat pendidikan agama dari lingkungan pesantren. Keteladanan sang ayah yang dikenal memuliakan tamu turut menjadi salah satu fondasi pembentukan karakter Miftachul sejak usia dini.
Pendidikan formalnya hanya ditempuh hingga kelas lima Sekolah Rakjat (SR). Setelah itu, kehidupannya lebih banyak dihabiskan untuk menimba ilmu di berbagai pesantren.
Perjalanan pendidikannya antara lain berlangsung di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, kemudian Pondok Pesantren Sidogiri, Pasuruan. Ia juga melanjutkan pendidikan ke Pesantren Al-Ishlah Soditan, Lasem, Jawa Tengah.
Miftachul juga pernah mendapat kesempatan mendalami ilmu agama dari Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki Al-Hasani, ulama besar Makkah. Kesempatan tersebut diperolehnya saat mengikuti daurah khusus di Malang pada 1977-1978.
Sempat Berhenti Nyantri
Perjalanan Miftachul dalam menuntut ilmu tidak selalu berjalan mulus. Sekitar 1970, ia sempat enggan melanjutkan pendidikan. Sikap tersebut membuat ayahnya mengambil tindakan tegas dengan tidak berbicara kepadanya selama kurang lebih satu tahun.
Pengalaman tersebut justru menjadi titik balik bagi Miftachul. Kekhawatiran terhadap pergaulan di Surabaya membuatnya kembali memutuskan untuk menuntut ilmu dengan memilih jalur pendidikan nonformal di pesantren.
Atas arahan kakak iparnya, ia kemudian melanjutkan pendidikan di Pesantren Al-Ishlah Lasem di bawah asuhan Syekh Masduqi. Ia belajar di pesantren tersebut sejak 1971 hingga 1974.
Mendirikan Pondok Pesantren Miftachus Sunnah
Setelah menyelesaikan perjalanan pendidikannya, Miftachul memilih mengabdikan diri di tengah masyarakat. Ia menetap di kawasan Kedung Tarukan, Surabaya, dan melihat adanya kebutuhan terhadap kegiatan keagamaan di lingkungan sekitar.
Ia kemudian memulai pengajian rutin yang dalam perkembangannya menjadi cikal bakal berdirinya Pondok Pesantren Miftachus Sunnah. Hingga kini, Miftachul dikenal sebagai pengasuh pesantren tersebut.
Selain mengasuh pesantren, ia juga rutin menggelar pengajian mingguan dengan mengkaji Kitab Al-Hikam karya Ibnu ‘Athaillah As-Sakandari setelah salat Jumat.
Kiprah Panjang di Nahdlatul Ulama
Perjalanan Miftachul di organisasi NU juga berlangsung secara bertahap dari tingkat daerah hingga kepengurusan pusat.
Ia pernah menjabat Rais Syuriyah PCNU Surabaya pada 2000-2005, kemudian menjadi Rais Syuriyah PWNU Jawa Timur pada 2007-2015.
Kariernya berlanjut di tingkat PBNU sebagai Wakil Rais Aam pada 2015-2018. Setelah itu, ia dipercaya menjadi Penjabat Rais Aam PBNU pada 2018-2020.
Miftachul kemudian menjabat Rais Aam PBNU untuk masa khidmat 2021-2026. Kini, melalui hasil musyawarah AHWA dalam Muktamar ke-35 NU, ia kembali dipercaya menduduki jabatan tersebut untuk periode 2026-2031.
Perjalanan panjangnya di dunia pesantren dan NU membuat Miftachul dikenal sebagai salah satu ulama senior yang memiliki pengalaman dalam pendidikan keagamaan sekaligus organisasi.
Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News
*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.


Leave a Reply