Tips Mengolah 1 Disertasi Jadi 10 Jurnal Scopus

Scopus
Scopus (KalderaNews/Ist)
Sharing for Empowerment

Pelajari tips produktif mengolah 1 disertasi menjadi 10 jurnal Scopus ala Dr. Dani Puji Utomo dari UNDIP. Simak strateginya!

SEMARANG, KalderaNews.com.com – Mengakomodasi publikasi riset bereputasi tinggi kerap menjadi tantangan terbesar bagi para mahasiswa program doktor (S-3) maupun akademisi.

Umumnya, seorang lulusan doktor cukup puas jika berhasil menerbitkan satu atau dua artikel ilmiah terindeks Scopus dari hasil riset disertasinya.

Namun, pencapaian luar biasa ditunjukkan oleh Dr. Dani Puji Utomo, dosen muda sekaligus lulusan Program Doktor Teknik Kimia Universitas Diponegoro (UNDIP). Dalam gelaran Wisuda ke-183 UNDIP di Semarang, Dani menarik perhatian publik setelah berhasil menerbitkan 10 artikel ilmiah terindeks Scopus hanya dari satu disertasi.

BACA JUGA:

Bagaimana strategi membedah riset disertasi agar mampu menghasilkan banyak publikasi internasional tanpa mengorbankan kualitas? Berikut analisis tips dan strategi akademisnya.

Tips & Strategi Mengolah Disertasi Menjadi Banyak Jurnal Scopus

Penerbitan 10 jurnal bereputasi bukan berarti memotong-motong data secara sembarangan (salami slicing), melainkan mengekstraksi setiap sudut pandang dan metodologi penelitian menjadi manuskrip yang utuh dan bernilai akademis tinggi.

1. Pemetaan Struktur Disertasi Sejak Awal (Research Mapping)

Disertasi doktor yang komprehensif biasanya terdiri dari beberapa tahapan riset yang saling berkaitan. Agar bisa memicu banyak artikel terpisah, bedah riset berdasarkan fokus berikut:

  • Systematic Literature Review (SLR): Tinjauan pustaka yang mendalam dapat diolah menjadi satu artikel review tersendiri.
  • Pengembangan Metodologi / Karakterisasi Bahan: Proses pengujian, pemodelan, atau validasi metode baru.
  • Eksperimentasi bertahap: Pembagian variabel penelitian (misalnya: variasi parameter A, B, dan C) yang masing-masing memiliki novelty (kebaharuan) kuat.

2. Manfaatkan Program Writing Camp & Klinik Manuskrip

Akselerasi kepulisan tidak dilakukan secara terisolasi. Dr. Dani Puji Utomo mengungkapkan pentingnya dukungan ekosistem riset di kampus:

  • Writing Camp: Memanfaatkan sesi pemusatan latihan menulis intensif untuk menyelesaikan draf naskah tanpa gangguan aktivitas harian.
  • Klinik Manuskrip: Melakukan peer-review internal bersama sesama peneliti dan senior untuk menelaah metodologi, substansi, dan Bahasa Inggris akademis sebelum naskah dikirim ke jurnal (submit).

3. Jaga Kualitas dan Integritas Substansi (Novelty)

Setiap naskah wajib memiliki kontribusi ilmiah tersendiri. Hindari duplikasi data. Pastikan tiap artikel menjawab pertanyaan penelitian (research question) yang berbeda namun mendalam.

Ekosistem Riset & Budaya Akademik UNDIP

Capaian Dr. Dani Puji Utomo juga mencerminkan kuatnya ekosistem riset di Universitas Diponegoro. Rektor UNDIP, Prof. Dr. Suharnomo, menegaskan bahwa budaya riset yang solid menjadi kunci utama peningkatan reputasi kampus di kancah internasional.

“Pesan saya untuk rekan-rekan dosen, tetap semangat menulis karena kontribusi kita turut mendukung pemeringkatan universitas, sekaligus menghasilkan gagasan dan inovasi yang berdampak serta bermanfaat bagi masyarakat,” tandas Dr. Dani Puji Utomo (Wisudawan Doktor Teknik Kimia UNDIP).

So, capaian menerbitkan 10 jurnal Scopus dari satu disertasi membuktikan bahwa dengan perencanaan riset yang matang, konsistensi memanfaatkan fasilitas writing camp, serta lingkungan kolaboratif, karya ilmiah mahasiswa doktor Indonesia mampu menembus dan diakui oleh komunitas akademik internasional.

Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News

*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmuTertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


194 views