Duh, Anggaran Sudah Terbatas, Sensor Gempa BMKG Banyak Hilang Dicuri?

Salah satu alat pemantau kegempaan di lereng Gunungapi Anak Krakatau sebelum aktivitasnya yang masif pada 2018 lalu.
Salah satu alat pemantau kegempaan di lereng Gunungapi Anak Krakatau sebelum aktivitasnya yang masif pada 2018 lalu.(KalderaNews/Arli Cia)
Sharing for Empowerment

BMKG ungkap banyak sensor gempa hilang dan radar tua. Sistem peringatan dini bahaya terancam terganggu. Cek info selengkapnya!

JAKARTA, KalderaNews.com – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluhkan banyaknya alat sensor gempa bumi di lapangan yang dilaporkan hilang.

Fenomena vandalisme dan pencurian ini berpotensi fatal mengingat vitalnya fungsi perangkat tersebut bagi keselamatan masyarakat Indonesia.

BACA JUGA:

Hal itu diungkapkan oleh Plh Direktur Meteorologi Publik BMKG, Ida Pramuwardani, dalam diskusi publik di Gedung DPR RI, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta.

Dampak Hilangnya Sensor Terhadap Akurasi Data

Ida menegaskan bahwa keberadaan setiap sensor sangat berpengaruh pada pengolahan data kegempaan secara keseluruhan. Hilangnya satu unit alat dapat merusak integritas seluruh jaringan pemantauan di wilayah tersebut.

“Itu sangat mengganggu sekali, karena satu jaringan hilang itu bisa mempengaruhi kualitas data, sehingga nanti mungkin untuk sistem alerting dan sebagainya itu dapat terganggu,” tutur Ida.

Dengan kondisi wilayah Indonesia yang rawan bencana (multibahaya), BMKG memerlukan tingkat kerapatan jaringan sensor yang tinggi agar peringatan dini tsunami maupun gempa bumi dapat diproses secara akurat dan real-time.

Keterbatasan Anggaran dan Alat yang Usang

Selain masalah hilangnya sensor akibat ulah pihak tak bertanggung jawab, BMKG juga dihadapkan pada keterbatasan alokasi anggaran untuk revitalisasi serta penambahan alat pengamatan meteorologi.

Beberapa kendala fasilitas utama yang dihadapi BMKG di antaranya:

  • Kekurangan Radar Meteorologi: BMKG idealnya membutuhkan 75 unit radar meteorologi untuk mencakup seluruh wilayah Indonesia, namun saat ini baru memiliki sekitar 45 unit.
  • Peralatan Usang: Sejumlah radar yang beroperasi saat ini sudah berumur tua, bahkan beberapa di antaranya hampir menyentuh usia pakai 20 tahun.
  • Tinggi Biaya Pengadaan: Proses peremajaan, revitalisasi, serta perawatan berkala jaringan pengamatan membutuhkan pendanaan yang sangat besar.

Perlunya Edukasi dan Kesadaran Masyarakat

Mengingat pentingnya fungsi alat-alat ini bagi keselamatan bersama, BMKG mendorong perlunya edukasi masif kepada masyarakat, khususnya yang tinggal di sekitar lokasi penempatan alat pemantauan.

Masyarakat diimbau untuk ikut menjaga serta merawat fasilitas pemantau cuaca dan gempa bumi sebagai aset vital nasional, bukan malah merusak atau mengambilnya.

Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News

*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmuTertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


71 views