Ancaman Super El Nino Bertahan Hingga 2027, Krisis Pangan dan 19.300 Angka Kematian

Peta seluruh dunia berwana merah dampak dari Super El Nino
Peta seluruh dunia berwana merah dampak dari Super El Nino (Foto: Ryan Maue/X)
Sharing for Empowerment

WMO peringatkan Super El Nino bertahan hingga 2027. Potensi picu krisis pangan & ancam 19.300 jiwa di Indonesia. Cek dampaknya!

JAKARTA, KalderaNews.com – Fenomena iklim global Super El Nino diproyeksikan akan menjadi yang terparah sepanjang sejarah.

Laporan terbaru dari Badan Meteorologi Dunia (World Meteorological Organization/WMO) merilis peringatan bahaya bahwa intensitas El Nino meningkat dengan sangat cepat, dengan probabilitas hampir 100 persen bertahan hingga Februari 2027.

Anomali kenaikan suhu permukaan laut global telah memicu lonjakan suhu ekstrem. Indeks Nino 3.4 telah menembus angka 2,5 derajat Celsius dan diprediksi bakal terus meroket melampaui rata-rata +3,0 derajat Celsius.

BACA JUGA:

Dampaknya bagi Indonesia bukan sekadar cuaca panas, melainkan ancaman keselamatan jiwa, ancaman krisis pangan, hingga kejatuhan produktivitas ekonomi nasional.

Indonesia Terancam 19.300 Kematian Akibat Gelombang Panas Ekstrem

Studi komprehensif dari Climate Impact Lab Universitas Chicago dan Rhodium Group mengungkap fakta mengerikan dari dampak Super El Nino. Gelombang panas ekstrem yang bertahan panjang ini diproyeksikan bakal memicu 451.000 kematian global dalam beberapa bulan mendatang.

Indonesia menempati peringkat kedua terbanyak di dunia setelah Nigeria sebagai negara yang paling berisiko fatal akibat paparan suhu tinggi ekstrem.

Negara / WilayahProyeksi Angka Kematian (Akibat Gelombang Panas)Kelompok Paling Rentan
Nigeria31.400 JiwaBayi, Balita & Kelompok Usia Lanjut (Lansia)
Indonesia19.300 JiwaPekerja Luar Ruangan (Outdoor), Lansia, & Bayi
Global (Total)451.000 JiwaMasyarakat Pedesaan Rentan & Kelompok Rentan

“Hasil studi menunjukkan ada sekitar 451 ribu orang yang berisiko meninggal akibat gelombang panas ekstrem El Nino. Kelompok yang paling rentan adalah kelompok usia lanjut, kemudian bayi,” tegas Emily Grover-Kopec, Direktur Energy & Climate Rhodium Group.

Pergeseran Musim Tanam, Gagal Panen, dan Melonjaknya Harga Beras

Dampak fatal Super El Nino berpotensi menguncang ketahanan pangan dan kestabilan ekonomi nasional. Pakar Pusat Perubahan Iklim Institut Teknologi Bandung (ITB), Prof. Djoko Santoso Abi Suroso dan Isnan Fauzi, memperingatkan terjadinya pergeseran jadwal tanam padi pada musim hujan 2026/2027.

Penurunan produktivitas lahan pertanian secara masif dinilai bakal memicu:

  • Gagal Panen Lanjutan: Terganggunya pasokan pangan utama masyarakat.
  • Lonjakan Harga Beras (Inflasi): Keterbatasan stok akibat cuaca kering yang memperparah inflasi nasional.
  • Penurunan Produktivitas Kerja: Tim peneliti Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM) mengungkapkan bahwa paparan suhu di atas 25-26 derajat celcius mengganggu kemampuan kognitif, memperlambat repons kerja, serta menguras fisik para pekerja.

Ancaman Kemiskinan Permanen dan Krisis Geopolitik

Ekonom Asian Development Bank (ADB), Roshen Fernando, memperingatkan bahwa pemulihan dampak El Nino di negara berkembang seperti Indonesia akan memakan waktu sangat panjang.

Rumah tangga petani miskin yang terpaksa menjual aset ternak, memakan benih simpanan, hingga menghentikan sekolah anak-anak demi bertahan hidup di tahun kering, bakal memulai tahun berikutnya dalam kondisi jauh lebih miskin.

Kondisi ini makin diperberat oleh tekanan geopolitik global, utang pascapandemi, serta ketegangan jalur logistik internasional.

Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News

*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


44 views