Asap Tinggalkan Jabodetabek, Merah di Peta NASA Bukan Berarti Udara Jakarta Berbahaya

Polusi udara di Jakarta
Polusi udara dan asap di Jakarta (KalderaNews/JS de Britto)
Sharing for Empowerment

Peta NASA Jakarta merah membara bikin geger! BMKG tegaskan asap karhutla tinggalkan Jabodetabek & udara permukaan aman.

JAKARTA, KalderaNews.com – Tangkapan layar citra satelit NASA’s Eyes on the Earth yang menampilkan pendaran warna merah hingga jingga di atas wilayah Jakarta dan sekitarnya sempat memicu keresahan publik.

Visual tersebut ramai dikaitkan dengan potensi bahaya kualitas udara akibat sebaran asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

BACA JUGA:

Menanggapi fenomena tersebut, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan klarifikasi ilmiah mengenai pergerakan asap karhutla yang kini berangsur meninggalkan wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek), sekaligus meluruskan tata cara membaca peta satelit atmosfer.

Sebaran Asap Karhutla Bergeser Menjauhi Jabodetabek

Hasil pemantauan citra satelit BMKG mengonfirmasi bahwa asap karhutla sempat memasuki wilayah Jawa bagian barat pada Jumat (16/10/2026). Namun, keberadaan asap tersebut bersifat lintasan sesaat (transient) di lapisan atas atmosfer dan tidak mengendap hingga ke permukaan udara yang dihirup warga.

Memasuki Sabtu (17/10/2026) dan Minggu (18/10/2026), sebaran asap terpantau terus bergerak menjauh dari kawasan Jabodetabek secara bertahap.

“Perubahan arah dan pergerakan angin yang mulai melemah pada ketinggian tersebut memengaruhi pergeseran sebaran asap dari wilayah Jawa. Keberadaan asap yang terdeteksi satelit tidak selalu menunjukkan peningkatan konsentrasi polutan di permukaan, sehingga masyarakat tidak perlu panik,” terang Sekretaris Utama BMKG, Guswanto.

Plt. Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramdhani, menambahkan bahwa sebaran asap karhutla saat ini utamanya masih terkonsentrasi di sebagian besar Sumatra, Kalimantan, Sulawesi bagian tengah-selatan, Kepulauan Maluku, hingga Papua, dengan arah pergerakan ke barat laut hingga timur laut.

Mengapa Warna Merah di Peta NASA Bukan Berarti Udara Jakarta Berbahaya?

Mengenai visualisasi warna merah hingga jingga pada peta NASA’s Eyes on the Earth di kawasan Jabodetabek, Direktur Layanan Iklim Terapan BMKG, Marjuki, memaparkan analisis teknis pembacaan data satelit:

  • Parameter Ketinggian Atmosfer: Citra NASA tersebut menampilkan sebaran gas Karbon Monoksida (CO) pada lapisan atmosfer sekitar 500 milibar atau pada ketinggian 5 hingga 6 kilometer di atas permukaan bumi, bukan kadar udara di permukaan (surface level).
  • Karakteristik Gas Karbon Monoksida (CO): CO merupakan gas hasil pembakaran tak sempurna yang dapat bertahan 1–2 bulan di atmosfer. Karakteristik ini membuat CO mudah terbawa angin hingga ribuan kilometer dari sumber emisi asal.
  • Sebaran Luas Tidak Sama dengan Konsentrasi Tinggi: Warna merah menandakan porsi indikasi CO yang relatif lebih tinggi dibanding area sekitar pada lapisan atas, namun konsentrasinya meluruh/mengecil ketika menyebar luas dan tidak otomatis turun ke tanah.
  • Pengamatan Satelit Himawari-9: BMKG mencatat lapisan asap yang melintas di Banten, Jakarta, dan Jawa Barat berada pada ketinggian 2–3 kilometer. Efek visualnya hanya membuat langit tampak keruh atau kelabu, tanpa serta-merta mencemari udara permukaan.

“Warna tersebut tidak menunjukkan kadar di udara yang kita hirup, tidak otomatis berarti berbahaya bagi kesehatan, dan tidak memastikan sumber emisi di setiap wilayah… Citra CO tetap bermanfaat untuk melihat arah penyebaran asap di lapisan atas, tetapi bukan pengganti pengukuran kualitas udara di permukaan,” tegas Marjuki.

Sebaran Titik Panas (Hotspot) dan Transboundary Haze

Dinamika atmosfer ini dipengaruhi oleh masih adanya titik panas (hotspot) berkategori kepercayaan tinggi di Indonesia. Pada pemantauan 16 Oktober 2026, BMKG mencatat 478 titik panas, dengan sebaran tertinggi berada di:

  • Sumatera Selatan: 189 titik
  • Jawa Timur: 89 titik
  • Papua Selatan: 63 titik
  • Kalimantan Barat & Kalimantan Tengah: Masing-masing 26 titik (Kalteng mengalami penurunan drastis dari sebelumnya 485 titik).

Selain itu, BMKG turut mendeteksi adanya pergerakan asap lintas batas (transboundary haze) dari Sumatra dan Kalimantan menuju Semenanjung Malaysia, Sarawak, dan Singapura, serta dari Papua Nugini menuju wilayah Papua Selatan dan Papua Pegunungan.

Acuan Resmi Pengukuran Kualitas Udara Permukaan

BMKG mengimbau publik untuk bersikap kritis dan bijak dalam menyerap informasi visual dari citra satelit luar negeri. Untuk mengetahui dampak nyata kualitas udara terhadap kesehatan harian, parameter yang tepat digunakan adalah pengukuran partikel halus PM 2,5 di tingkat permukaan.

Masyarakat disarankan untuk merujuk pada dua kanal resmi negara:

  1. Data Pengukuran PM 2,5 resmi dari BMKG.
  2. Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) resmi dari Kementerian Lingkungan Hidup (KLH).

Apabila terjadi perubahan dinamika cuaca atau penurunan kualitas udara permukaan, BMKG bersama pemerintah daerah akan segera merilis peringatan dini agar masyarakat dapat mengambil tindakan pencegahan secara tepat.

Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnyadi Google News

*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


65 views