
Ramai di Threads soal wanita berpendidikan tinggi cari pasangan setara. Netizen ungkap bukan soal gelar, tapi masalah ini!
JAKARTA, KalderaNews.com – Sebuah utas (thread) yang diunggah oleh akun @igepyourbaee baru-baru ini memicu diskusi hangat di platform Threads. Akun tersebut melempar pertanyaan yang menjadi dilema klasik di masyarakat: “Emang bener yaa perempuan yang punya gelar S1 atau di atas nya, bakalan nyari laki-laki yang setara gelarnya?”
Pertanyaan ini langsung diserbu oleh ratusan komentar dari para wanita yang membagikan pengalaman langsung (real experience) mereka. Menariknya, mayoritas dari mereka sepakat bahwa gelar akademik formal di atas kertas bukanlah penentu utama.
BACA JUGA:
- Infertilitas Pasangan, Mengapa Pria Juga Wajib Cek Kesuburan?
- Modin di Salatiga Diminta Edukasi Pasangan Muda Tidak Menikah Dini
- Sikapi Isu Liar Alumni Nikah Sesama Jenis, LPDP Lakukan Penelusuran Internal
Berikut adalah rangkuman sudut pandang mendalam mengapa aspek non-akademis justru jauh lebih krusial dalam memilih pasangan hidup.
Bukan Setara Gelar, Tapi Setara “Pola Pikir”
Banyak wanita berpendidikan tinggi (S1 hingga S2) yang mengaku menikah dengan pria yang secara gelar formal berada di bawah mereka (D3 atau S1). Namun, rumah tangga mereka tetap harmonis. Mengapa? Kuncinya ada pada penyetaraan cara berpikir (mindset resonance).
“Bukan setara gelarnya, tapi setara pemikirannya dan sikapnya,” tulis akun @camelia10_.
Senada dengan hal itu, pengguna akun @cintamarezi yang bergelar S2 sementara suaminya S1 menambahkan: “Ga ada kesenjangan pola pikir. Kami punya keunggulan masing-masing. Gelar itu ga jadi jaminan buat karakter dan kecerdasan seseorang lebih baik.”
Artinya, kedewasaan emosional, kebijaksanaan dalam memecahkan masalah, dan kemampuan berdialog secara logis jauh lebih dihargai daripada selembar ijazah.
Menghindari Fenomena “Ego Lelaki yang Gampang Tersentil”
Meski gelar formal tidak mutlak, tingkat pendidikan minimal tetap menjadi filter bagi sebagian wanita. Hal ini bukan karena sifat sombong atau materialistis, melainkan untuk menghindari konflik ego dalam jangka panjang.
Ada kecenderungan di masyarakat di mana pria yang memiliki tingkat pendidikan jauh di bawah istrinya rentan mengalami rasa rendah diri (insecure).
“Berdasarkan kenalanku, yang istrinya S1 dan suaminya lulusan SMA isinya kebanyakan jiper dan egonya gampang banget kesentil. Jadinya istrinya gak bisa bertumbuh dan berkembang,” ungkap akun
@onewooday.
Sebaliknya, hubungan di mana pria memiliki fondasi pendidikan yang matang (meski tidak setinggi istri) cenderung menciptakan iklim di mana kedua belah pihak bisa bertumbuh bersama.
Faktor Kematangan Usia dan Tanggung Jawab
Pendidikan formal di kampus sering kali bisa digantikan dengan “universitas kehidupan.” Beberapa wanita menceritakan bahwa suami mereka yang lulusan diploma (D3) memiliki pola pikir yang jauh lebih matang karena faktor usia dan pengalaman hidup yang lebih kaya.
Selain itu, posisi laki-laki sebagai kepala keluarga menuntut peran yang lebih dari sekadar pintar teori. Pria dituntut untuk:
- Bertanggung jawab secara penuh terhadap nafkah.
- Memiliki kemampuan problem-solving yang baik di dunia nyata.
- Cerdas secara finansial (otak jalan untuk mencari peluang).
Kisah Inspiratif Hubungan S3 dan S1: Bukti Nyata Kematangan Pola Pikir
Di antara ratusan komentar yang masuk, salah satu respons yang paling mencuri perhatian dan mendapat banyak dukungan datang dari seorang akademisi perempuan. Ia membagikan bukti nyata bahwa jurang perbedaan gelar yang cukup jauh (S3 dan S1) tidak menjadi penghalang dalam membangun keharmonisan rumah tangga.
@aishahprastowo “Saya S3 suami S1. Kenapa? Soalnya setelah S1 saya lebih tertarik ke akademik, suami tertarik ke membangun karir dan bisnis. Setara itu lebih ke pola pikir bukan gelar.”
Pernyataan ini membuka mata banyak netizen mengenai pentingnya saling mendukung passion masing-masing tanpa harus merasa terintimidasi oleh sebuah gelar.
Sang suami yang fokus pada dunia bisnis dan karier memiliki porsi kontribusi yang sama besarnya dengan sang istri yang memilih jalur akademisi.
Komentar ini pun langsung dibanjiri respons positif dan disepakati oleh puluhan pengguna Threads lainnya yang mengagumi kedewasaan hubungan mereka:
- @baechildhooood_: “I love this energy π₯³”
- @gintingnurmaini: “Sama kak… Gelar itu hanya tambahan… gak terkait ke pola pikir seseorang π”
- @ansrossss: “yang penting pola pikir, oke sepakat”
- @nqolby: “respect π«‘π«‘”
- @ale.ayulestarii: “Yesss!!!! Setuju bangettt! π«Άπ»π©΅”
Testimoni ini memperkuat kesimpulan akhir bahwa kecerdasan emosional dan pembagian peran yang seimbang di dunia nyata jauh lebih berharga daripada memaksakan pasangan harus memiliki ijazah yang setingkat.
Apa Standar “Setara” yang Sesungguhnya?
Dari viralnya diskusi di Threads ini, kita dapat menarik kesimpulan psikologis bahwa definisi “setara” bagi wanita modern telah bergeser.
Setara tidak lagi dihitung berdasarkan strata pendidikan (S1, S2, atau S3), melainkan pada kesetaraan visi, kematangan emosional, dan ketiadaan rasa insecure untuk melihat pasangan berkembang.
Pendidikan tinggi memang membentuk pola pikir, namun karakter, tanggung jawab, dan cara bersikaplah yang mempertahankan sebuah hubungan.
Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News
*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.


Leave a Reply