September Effect, Benarkah IHSG di September Selalu Loyo?

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) (EdiFulus/GWK)
Sharing for Empowerment

Pahami apa itu September Effect dan latar belakang munculnya istilah anomali pasar saham ini. Simak penjelasan lengkapnya!

The Path To Financial Freedom, EduFulus – Setiap kali memasuki bulan September, para investor di Pasar Modal Indonesia kerap dihinggapi rasa cemas.

Istilah September Effect, mitos atau fenomena di mana pasar saham cenderung bergerak lemah atau mencatatkan return negatif sepanjang bulan September kembali menjadi bahan perbincangan hangat di kalangan pelaku pasar.

Namun, apakah klaim bahwa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) selalu loyo pada bulan September benar adanya secara data, atau sekadar stigma historis semata?

SIMAK JUGA: Ada 8 AB BEI Bandel yang Belum Uji Coba Batas Harga Saham Rp 1

Simak bedah data historis, analisis teknikal, serta pemicu volatilitas pasar saham pada September 2026 berikut ini.

Fakta Historis: Rata-Rata Melemah, Tapi Tidak Selalu Merah

Berdasarkan data histori 10 tahun terakhir (2016–2025) yang dicatat oleh Kiwoom Sekuritas, pergerakan IHSG pada bulan September memang menunjukkan kecenderungan yang kurang bersahabat.

  • Rata-Rata Return Negatif (Data Historis 10 Tahun). Rata-rata kinerja IHSG sepanjang bulan September dalam kurun waktu 10 tahun terakhir mencatatkan pelemahan sebesar -0,94%.
  • Hanya 33% Histori Ditutup Positif (Probabilitas Kenaikan). Secara historis, probabilitas IHSG untuk ditutup menguat di akhir September hanya mencapai 33%. Artinya, dalam 10 tahun terakhir, IHSG lebih sering ditutup di zona merah dibandingkan zona hijau.
  • Peluang Kenaikan Sedikit Lebih Tinggi (Kondisi September 2026). Untuk September 2026, Kiwoom Sekuritas memproyeksikan peluang IHSG ditutup positif berada di kisaran 40%–45%. Angka ini sedikit di atas rata-rata historisnya, meski pasar tetap condong ke skenario konsolidasi dengan bias pelemahan jangka pendek.

Dari data di atas, dapat disimpulkan bahwa IHSG tidak selalu turun di bulan September, melainkan memiliki probabilitas penurunan yang lebih besar ketimbang bulan-bulan lainnya.

Apa Itu September Effect

September Effect adalah fenomena anomali musiman di pasar saham global di mana pergerakan indeks saham cenderung melemah, mencatatkan kinerja terburuk, atau mengalami volatilitas tinggi sepanjang bulan September dibandingkan dengan bulan-bulan lainnya dalam setahun.

Fenomena ini tidak hanya terjadi di bursa utama dunia seperti Wall Street (indeks S&P 500 dan Dow Jones), tetapi juga kerap terkonfirmasi pada pasar saham berkembang, termasuk Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Indonesia.

Latar Belakang dan Teori Munculnya Istilah September Effect

Meskipun September Effect dipandang sebagai anomali historis tanpa peristiwa tunggal sebagai pemicunya, sejumlah teori perilaku pasar dan faktor struktural melatarbelakangi kemunculan istilah ini:

  • Pola Libur Musim Panas & Portfolio Rebalancing: Di negara-negara Barat, investor ritel maupun pengelola dana institusional biasanya mengambil libur musim panas (summer vacation) selama bulan Juli hingga Agustus. Saat kembali beraktivitas penuh di bulan September, mereka cenderung melakukan rebalancing portofolio, merealisasikan keuntungan (profit taking), atau menjual aset yang berkinerja buruk. Gelombang aksi jual secara massal ini memicu tekanan harga di pasar.
  • Akhir Tahun Fiskal Dana Saling Beli (Mutual Funds): September merupakan akhir tahun fiskal bagi sebagian besar reksa dana dan lembaga keuangan di Amerika Serikat. Untuk kepentingan efisiensi pajak (tax-loss harvesting) dan penyusunan laporan keuangan, manajer investasi sering kali melepas saham-saham yang merugi (losing positions) pada bulan ini.
  • Psikologi Pasar (Self-Fulfilling Prophecy): Karena narasi September Effect sudah tertanam kuat di benak pelaku pasar selama puluhan tahun, investor cenderung mengantisipasi penurunan tersebut. Rasa cemas membuat investor mendahului pasar dengan menjual portofolionya lebih awal di awal September, yang pada akhirnya benar-benar mendorong pasar mengalami penurunan.
  • Ketidakpastian Agenda Ekonomi & Politik: Bulan September sering menjadi titik krusial bagi rilis data makroekonomi kuartal III, keputusan suku bunga bank sentral (seperti The Fed), hingga dimulainya siklus ketegangan politik atau anggaran belanja pemerintah.

SIMAK JUGA: September Effect: Mitos atau Fakta bagi Investor Kripto?

* Kuy cerdas investasi dan trading dengan artikel edukatif EduFulus lainnya di Google News. Dus, jika Anda ingin bekerjasama dengan kanal EduFulus, silakan hubungi tim di WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


244 views