
Dilema PJJ di Threads: Ibu pekerja tarik urat dampingi anak, kebutuhan gadget penting, hingga adu pendapat pro-kontra.
JAKARTA, KalderaNews.com – Penerapan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) akibat dampak sebaran abu vulkanik di sejumlah daerah mendadak memicu riak perdebatan hangat di platform media sosial Threads.
Unggahan dan komentar emak-emak (working parents maupun ibu rumah tangga) membanjiri lini masa, memotret warna-warni realita pendampingan belajar anak di rumah.
Mulai dari kendala teknis perangkat, beban emosional mendampingi anak, hingga kesiapan adaptasi sekolah menjadi sorotan utama netizen.
BACA JUGA:
- 3 Tip Joyful Learning Bagi Orangtua yang Mendampingi Anak PJJ
- Inilah Daftar Lengkap Wilayah yang Sudah Tatap Muka Atau Lanjut PJJ pada Rabu Besok
- Ini Dampak Anak Kehilangan 0,8 Sampai 1,2 Tahun Pembelajaran Karena PJJ
Sebuah unggahan reflektif dari akun @iniay di Threads menjadi sorotan publik usai membedah perbedaan kontras antara kesiapan fasilitas sekolah internasional (Satuan Pendidikan Kerjasama/SPK) dengan sekolah reguler saat menghadapi situasi darurat PJJ.
Melalui utas tiga bagian, @iniay menumpahkan keprihatinannya atas beban yang harus ditanggung orang tua murid dari kalangan menengah ke bawah:
“Sekolah online kali ini, banyak parent yang posting di Threads, bikin aku makin sadar kalau sistem sekolah dan keluarga jauh sekali jaraknya. Anak2 sekolah internasional (SPK) sudah terbiasa menggunakan iPad (tab) setiap hari. Jadi ketika diinfo dadakan bagaimana pun, mereka sudah lebih siap.” tulisnya pada unggahan pertama (@iniay, 7 jam lalu).
Ia melanjutkan bahwa masalah utama saat PJJ bukan lagi sekadar bahaya abu vulkanik, melainkan aksesibilitas dan support system keluarga yang belum merata di masyarakat:
“Tapi di sekolah lain, orang tua pontang panting kebingungan. Gak semua anak punya gadget. Pinjam laptop di rumah, siapa yg temani anak mengoperasikannya? Anak nggak familiar, mbak di rumah nggak paham, orang tua mesti bekerja… Debu volkanik jd gak terlihat sbg masalah, tapi gimana anak bisa tetap sekolah, ini masalah utamanya” lanjut akun @iniay pada bagian kedua.
Unggahan tersebut ditutup dengan rasa prihatin atas jurang ketimpangan pendidikan yang dinilai masih sangat lebar, bahkan untuk wilayah perkotaan sekelas Jabodetabek:
“Sedih banget ya dengan realita ini. Ini padahal masih di kota besar. Jabodetabek. Apalagi dengan yang di pelosok daerah. Dengan dinding dan atap sekolah bolong2. Bentangan yang sangat jauuhh :(” pungkasa @iniay di bagian ketiga utasnya.
Antara Ibu Pekerja yang Tarik Urat dan Fleksibilitas Sekolah
Bagi para ibu yang harus tetap bekerja di kantor (working mom), kebijakan PJJ mendadak menjadi tantangan ganda yang memicu stres tinggi. Akun @hotmahotmi membagikan pengalamannya mendampingi anak dari jauh:
“Anak udah biasa PJJ sistem sekolahnya… yg bikin setres adalah anak gak mau kerjakan tugas..!! Mamak ngawasin dari kantor tarik urat,” tulisnya.
Di sisi lain, skema PJJ yang diterapkan sekolah turut menentukan tingkat kerepotan orang tua. Akun @pmfajrin0511 merasa terbantu dengan durasi tatap muka daring yang efisien:
“Alhamdulillah pjj di sekolah anakku (sdit) gmeet cm 1jam. Sisa nya tugas di foto aja, murojaah nya voice note. 1 jam gmeet pinjem hp aku.”
Namun, bagi anak usia dini seperti kelas 1 SD, kehadiran pendamping fisik tetap tidak terelakkan. Akun @cillarampen menceritakan keluh kesahnya dari wilayah terdampak:
“Yg kelas 1 SD yg keteteran. Dia bisa sinkronus meeting sendiri, tapi tetep harus diingetin n ditemenin kan. Belum lg tugas2nya. Halah halah. Puyeng.”
Gadget Jadi Kebutuhan Pokok Sekolah Masa Kini
Seringnya terjadi situasi darurat yang memaksa PJJ—mulai dari krisis kesehatan hingga bencana alam—membuat para orang tua menyadari pentingnya menyiapkan perangkat digital khusus bagi anak sejak dini.
Akun @raristantya memberikan saran agar para orang tua mulai mengalokasikan tabungan khusus untuk fasilitas teknologi anak:
“Dari situ aku dan suami berfikir, ternyata keberadaan gadget like laptop, tab/ smartphone untuk anak di jaman skg itu sgt dibutuhkan. Saranku, memang harus save money buat beli gadget harus disiapkan kalo punya anak dan akan sekolah.”
Sementara itu, akun @putrichyntia_ menyoroti pentingnya edukasi kemandirian digital dari pihak sekolah, agar siswa terbiasa mengoperasikan tugas tanpa selalu bergantung pada orang tua:
“Harusnya dari pihak sekolah, pda saat di sekolah anak dibiasakan menggunakan laptop atau komputer… Orangtua ga bisa dampingin, orgtua ga perlu khawatir karna anaknya sudah biasa mengupload tugasnya sendiri.”
Sorotan Kesehatan vs Manajemen Emosi
Meski PJJ menimbulkan kerepotan domestik, faktor keselamatan anak dari paparan abu vulkanik yang memicu iritasi mata dan hidung gatal tetap menjadi alasan utama persetujuan PJJ. Akun @lesbebesmignions menceritakan efek abu vulkanik yang dirasakannya langsung di rumah:
“Kmrn aja saya nyapu teras di dpn rumah langsung gatel hidung, meler dan hatching2 terus… Takutnya anak yah walaupun pake masker dianjurkan tp kalau udh kena mata gmn gt…”
Menutup perdebatan pro-kontra di Threads, akun @rrreyea mengajak para orang tua untuk menyikapi PJJ dengan lebih tenang dan adaptif sesuai perkembangan zaman:
“Hidup kan dinamis dan didiklah anakmu sesuai zaman nya. Knp meledak ledak sih buibu, kerjaan rumah kan bisa ditinggal sejenak ya. Tenang yuk belajar bareng anak.”
Keluhan dan dinamika orang tua di Threads menegaskan bahwa kemandirian teknologi (digital literacy) anak serta fleksibilitas modul sekolah merupakan kunci utama kelancaran PJJ.
PJJ darurat akibat bencana alam menunjukkan bahwa kesiapan perangkat dan mentalitas adaptif dalam keluarga menjadi elemen krusial agar proses pendidikan anak tetap aman tanpa mengorbankan kesehatan mental orang tua.
Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnyadi Google News
*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com


Leave a Reply