
KARO, KalderaNews.com– Febiola Br Purba, siswi berusia 16 tahun kelas 2 jurusan Multimedia di salah satu SMK di Kabupaten Karo, Sumatra Utara, diduga menjadi korban keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG).
Setelah mengalami sakit, korban kini mengalami gangguan ingatan hingga sekitar 70 persen. Kondisinya membuat ia tidak lagi mengenali sejumlah guru maupun teman sekolahnya.
Padahal, sebelum mengalami sakit, ia dikenal sebagai siswi berprestasi. Sejak duduk di bangku SD hingga SMK, ia disebut selalu meraih peringkat pertama di kelas. Prestasinya di sekolah juga membuat korban dipercaya menduduki posisi sebagai Wakil Ketua OSIS.
BACA JUGA:
- Tidak Sedikit Lho Ini! JPPI Soroti 43.838 Kasus Keracunan MBG
- Miris! Sepanjang 2025, KPAI Ungkap 12.658 Anak di 38 Provinsi Alami Keracunan MBG, Terbanyak Jawa Barat
- Lebih dari Seribu Anak Keracunan MBG Sepanjang Januari, JPPI: Sekolah Diduga Dibungkam
Ibu korban, Elvinus Lusiana Sitanggang, mengatakan anaknya telah menunjukkan prestasi akademik sejak awal masuk sekolah. Korban bahkan berhasil menjadi juara pertama di kelas dan kemudian dipercaya menjadi Wakil Ketua OSIS.
Meski kondisinya belum memungkinkan untuk kembali bersekolah, korban masih sering mengungkapkan keinginannya untuk kembali mengikuti kegiatan belajar di sekolah.
Tak Kenali Guru dan Teman Sekelas
Gangguan ingatan yang dialami korban terlihat ketika guru dan teman-temannya datang menjenguk. Saat mereka berada di rumah, korban tidak dapat mengenali orang-orang yang sebelumnya dekat dengannya.
Elvinus mengatakan guru korban sempat memperkenalkan dirinya kepada sang anak. Setelah diberi tahu bahwa orang tersebut merupakan gurunya, korban dapat menerima informasi tersebut, tetapi tidak benar-benar mengenali sosoknya.
Hal serupa terjadi ketika teman-teman sekelas korban datang menjenguk. Keluarga sudah menjelaskan bahwa mereka merupakan teman satu kelas, tetapi ketika ditanya mengenai nama mereka, korban mengaku tidak mengenalinya.
Kondisi tersebut membuat korban bahkan harus berusaha keras ketika mencoba mengingat kembali orang-orang di sekitarnya.
Ayah korban, Icuk Sugiarto Purba, mengatakan anaknya sempat mengalami keringat dingin ketika berusaha mengingat siapa teman-teman yang datang menjenguknya.
Menurut Icuk, korban akhirnya tetap tidak mampu mengingat identitas mereka dan menyatakan bahwa dirinya tidak mengenal orang-orang tersebut.
Sudah Dirawat di Lima Rumah Sakit
Sejak 13 Agustus 2026, korban telah menjalani perawatan di lima rumah sakit berbeda. Perawatan tersebut dimulai di RS Kabanjahe, kemudian berlanjut ke RS Efarina, RS Haji Medan, RSUP Adam Malik, dan RS Amanda di Karo.
Korban juga direncanakan kembali dirujuk ke RSUP Adam Malik, Medan. Menurut penjelasan dokter kepada keluarga, proses pemulihan korban diperkirakan membutuhkan waktu cukup panjang.
Ia disebut perlu menjalani perawatan selama satu tahun dengan pemeriksaan atau penanganan yang dilakukan setiap pekan.Dokter juga masih mendalami penyebab gangguan kesehatan yang dialami korban.
Berdasarkan informasi yang diterima keluarga, terdapat dua kemungkinan penyebab, yakni infeksi bakteri atau paparan racun dari jamur.
Hasil pemeriksaan untuk memastikan penyebab tersebut diperkirakan baru dapat diketahui dalam waktu sekitar 10 hari hingga dua minggu.
Keluarga Kesulitan Membiayai Perawatan
Di tengah proses pengobatan, keluarga korban juga menghadapi persoalan biaya. Icuk mengatakan hingga saat ini keluarga telah mengeluarkan sekitar Rp3,5 juta untuk kebutuhan perawatan anaknya. Biaya tersebut berasal dari tabungan yang selama ini mereka kumpulkan.
Kebutuhan korban tidak hanya berkaitan dengan biaya pengobatan, namun juga berbagai keperluan selama menjalani perawatan. Kondisi tersebut membuat keluarga mengaku mulai kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Hingga kini, keluarga korban mengaku belum membuat laporan resmi kepada pihak berwajib. Icuk mengatakan keluarga masih memprioritaskan proses perawatan dan pemulihan anaknya.
Kesibukan mendampingi korban juga membuat kedua orang tuanya harus berhenti bekerja sementara. Icuk sehari-hari bekerja sebagai buruh kebun, sedangkan ibu korban berjualan makanan ringan di sekitar sekolah.
Dengan kondisi tersebut, keluarga kini harus menghadapi persoalan biaya hidup sekaligus kebutuhan pengobatan korban yang masih panjang.
Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News
*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.


Leave a Reply