
Sebanyak 194 negara dukung Open Science UNESCO. Wamen Fauzan ungkap strategi Indonesia perkuat sains dan teknologi global.
JAKARTA, KalderaNews.com – Sebanyak 194 negara secara resmi telah mendukung UNESCO Recommendation on Open Science yang mendorong keterbukaan publikasi ilmiah, data, sumber daya pendidikan, perangkat lunak dan perangkat keras, infrastruktur terbuka, serta pelibatan masyarakat dalam pengembangan ilmu pengetahuan.
Komitmen global tersebut menjadi landasan penting bagi Indonesia untuk memperkuat open science sebagai bagian dari pengembangan ekosistem sains dan teknologi nasional.
BACA JUGA:
- Alasan Rabat Resmi Terpilih Jadi Ibu Kota Buku Dunia UNESCO 2026
- 16 Warisan Budaya Tak benda Indonesia yang Diakui oleh UNESCO, Ada Apa Saja?
- Sah! Kebaya Jadi Warisan Budaya Takbenda Dunia yang Diakui UNESCO
Hal tersebut diungkapkan oleh Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Fauzan, dalam Rapat Pleno Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO (KNIU) pada Senin, 28 September 2026.
Diplomasi Sains dan Program Unggulan Kemdiktisaintek
Dalam sidang pleno tersebut, Wamen Fauzan memaparkan sejumlah program Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) yang dikembangkan dalam kerangka kerja sama dengan UNESCO. Beberapa program strategis yang didorong antara lain:
- Penguatan literasi sains melalui program Berdikari.
- Pengembangan Saintek Nusantara, Sentral Saintek, CTSA, dan Open Lab Mini.
- Peningkatan reputasi internasional jurnal ilmiah melalui program Cakrawala Saintek.
- Keikutsertaan dalam ajang global seperti International Mathematics Competition dan Asia-Pacific Broadcasting Union Robot Contest.
- Program residensi riset sains-teknologi serta Lindau Nobel Laureate Meetings.
“Terutama yang dilakukan oleh Kemdiktisaintek adalah satu bagian dari program yang dilakukan UNESCO, yaitu open science, yang kemudian dijabarkan dalam beberapa program. Untuk diplomasi sains dan teknologi, ada beberapa hal yang kami dorong, termasuk penguatan talenta STEM serta isu open science,” ungkap Wamen Fauzan.
Selain itu, Kemdiktisaintek mengusulkan tiga jalur penguatan utama untuk periode portofolio 2026-2027, yaitu kebijakan dan tata kelola sumber daya, pengembangan talenta, serta penguatan riset dan inovasi melalui open science, kecerdasan buatan (artificial intelligence / AI), dan kolaborasi dengan masyarakat.
Penguatan Kelembagaan KNIU Lewat Perpres No. 31/2026
Sementara itu, Menteri Kebudayaan (Menbud) sekaligus Ketua KNIU, Fadli Zon, menyampaikan bahwa Rapat Pleno KNIU ini merupakan rapat perdana setelah terbitnya Peraturan Presiden Nomor 31 Tahun 2026 tentang KNIU.
Regulasi ini menjadi babak baru penguatan kelembagaan KNIU sebagai wadah koordinasi nasional antarpemangku kepentingan di bidang pendidikan, ilmu pengetahuan, kebudayaan, serta komunikasi dan informasi.
“Saya kira tiga hal yang perlu kita lakukan, bagaimana getting institution right, bagaimana intervention, terutama, dan yang ketiga getting coordination right supaya koordinasi kita tidak terjadi hal-hal yang tumpang tindih. Pada ujungnya kepentingan kita adalah kepentingan nasional,” ujar Menbud Fadli.
Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) sekaligus Pengarah KNIU, Pratikno, turut menekankan pentingnya sinergi antarpemangku kepentingan yang didukung standar kerja, penentuan prioritas berdasarkan dampak, serta pemanfaatan teknologi untuk memperkuat koordinasi KNIU.
Melalui kolaborasi ini, Indonesia diharapkan mampu memperluas jejaring internasional sekaligus memperkuat kontribusi sains dan teknologi di kancah global.
Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News
*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com


Leave a Reply