Melalui Warna “Membahasakan” Alam

Frigidanto Agung, kurator dan penulis seni rupa tinggal di Jakarta
Frigidanto Agung, kurator dan penulis seni rupa tinggal di Jakarta (KalderaNews/Ist)

Oleh: Frigidanto Agung*

(Catatan Pra Event Pameran Tunggal Baskoro Sardadi “Semburat Tafsir Alam” 2020)

JAKARTA, KalderaNews.com – Melalui alam kita dapat melihat keluasan tempat hidup. Melalui lukisan pemandangan alam kita bisa melihat keindahan tanpa batas. Hal ini yang memberi inspirasi. Banyak seniman menafsirkan lukisan dengan obyek alam sesuai dengan sudut pandang mereka, baik melalui warna, garis dan bidang-bidang yang dibentuknya. Melukis keindahan alam memberi pengalaman estetis.

Baskoro Sardadi, pria kelahiran Probolinggo 70 tahun yang lalu, melukis alam dengan cat air. Ia memperlihatkan kedalaman nuansa alam dari warna-warna yang terhampar. Melalui caranya melukis di atas kertas ia dapat mengembara dengan imajinasi untuk memberi makna warna pada alam dengan nuansa-nuansa yang memperlihatkan kedalaman citra alam.

Dasar pengalamannya adalah sebagai arsitek lulusan Institut Teknologi Bandung, angkatan tahun 1961, yang banyak mengerjakan “lanskap” urban. Melalui bidang inilah lukisan-lukisan alam banyak didapatkan dan menjadi inspirasi dalam melukisnya. Dia lebih berpijak dari bagaimana melihat “lanskap” menjadi suatu sudut pandang dengan nuansa yang memperlihatkan keindahan dengan warna-warnanya.

BACA JUGA:

Apa teknik yang paling disukainya, khususnya dalam penggunaan cat air? “Pembloboran” yaitu suatu teknik yang membiarkan cat air yang sudah tercampur dengan air dikuaskan di atas kertas, sehingga warna yang menyebar di atas kertas menjadi dominan. Tehnik ini memang tidak akan mendapatkan garis-garis ketika warna ditorehkan di atas kertasnya, tetapi warnanya akan berkelindan dengan campuran warna lebih dari satu.

Sehingga apa yang muncul antara teknik menggambar arsitektur dengan melukis menggunakan cat air adalah perbedaannya. Keleluasaan penggunaan cat air menjadi lebih peka, ketika bercampur warna dan terlihat nuansa warnanya. Hal ini menambah kekuatan obyek karya yang dilukiskannya berkelindan warna dengan teknik “pembloboran” cat di atas kertas tersebut.

“Beda lukisan cat air dengan gambar arsitektur. Pada pemandangan alam tidak pernah ada garis. Tipis, tebal dan lengkung hanyalah ilusi optik belaka. Semuanya adalah perpotongan antara bidang-bidang yang saling bertemu. Itulah sebabnya kita tidak dapat melukiskan keindahan tentang tepian-tepian dan pojokan benda,” ungkap Baskoro Sardadi pada penulis dalam suatu pembicaraan sebelum pameran.

Foggy Morning Village, 56x76cm, 2018 karya Baskoro Sardadi
Foggy Morning Village, 56x76cm, 2018 karya Baskoro Sardadi (KalderaNews/Frigidanto Agung)

Rencana pameran tunggal Baskoro Sardadi akan digelar di Energy Tower, Kawasan SCBD Jakarta pada 6-9 April 2020 mendatang. Sejumlah karya akan digelar dengan beberapa tema tentang tumbuhan, bunga dan hewan. Pameran tunggal pertama berjudul “Semburat Tafsir Alam”. Melalui tema ini pelukis mencoba memperbaharui pengertian tentang alam melalui warna dengan semburat yang ditafsirkan dengan teknik cat air.

Apa yang dilakukan Baskoro Sardadi dalam melukis adalah “membahasakan” alam dengan warna-warna yang ada dalam cat air. Nuansa warna alami yang terpapar di atas medium lukisnya memperlihatkan bagaimana tematik obyek yang menjadi pilihannya nampak jelas dan indah dalam sudut pandang pelukis. Sehingga apa yang dilukiskannya menampakan komposisi warna yang segar dan memperlihatkan detail yang penuh keluasan.

The Last Sumatran Tiger, 56x76cm karya Baskoro Sardadi
The Last Sumatran Tiger, 56x76cm karya Baskoro Sardadi (KalderaNews/Frigidanto Agung)

Lukisan tentang bunga, tumbuhan, hewan dan lanskap yang mendominasi obyek lukisnya merupakan cara dirinya melihat detail dari alam dengan seluruh kesempurnaan dalam hidup ini. Semburat atau nuansa alami dalam mengejawantahkan penampakan warna alam, kadang, merupakan bagian untuk memberi kekuatan pada latar obyek dari lukisan yang dibuatnya, sebagai pengiring yang memberi kelebihan pada dimensi obyek lukisan.

Sapuan kuas di atas kertas yang sudah diberi warna menampakan semburat, sesuai dengan nuansa alam yang seringkali dilihatnya dalam suatu perjalanan. Itulah mengapa pameran ini memberi tafsir tentang semburat yang cukup unik dalam meraih nuansa alam sebagai sudut pandangnya.

“Ketajaman, ketebalan, penghilangan nuansa dan pembauran (“pembloboran”) favorit pelukis cat air, tidak dapat dieksplor dalam presentasi arsitektur yang lebih mengandalkan teknik ‘line and wash,” ungkap Baskoro Sardadi mengakhiri perbincangan dengan penulis.

* Frigidanto Agung, kurator dan penulis seni rupa tinggal di Jakarta.

* Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu




Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*