Petani Ngablak di Magelang Diajari Memahami Cuaca dan Iklim, Kehilangan Titis Pranoto Mongso?

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati di Sekolah Lapang Iklim (SLI) Tahap II Operasional, Desa Jogoyasan, Kecamatan, Ngablak, Kabupaten Magelang Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati di Sekolah Lapang Iklim (SLI) Tahap II Operasional, Desa Jogoyasan, Kecamatan, Ngablak, Kabupaten Magelang Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati di Sekolah Lapang Iklim (SLI) Tahap II Operasional, Desa Jogoyasan, Kecamatan, Ngablak, Kabupaten Magelang
Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati di Sekolah Lapang Iklim (SLI) Tahap II Operasional, Desa Jogoyasan, Kecamatan, Ngablak, Kabupaten Magelang (KalderaNews/Dok. BMKG)

MAGELANG, KalderaNews.com – Sebanyak 30 orang, terdiri dari 6 kelompok tani dan juga didampingi oleh penyuluh tani di beberapa desa di Kec. Ngablak, Kab. Magelang mengikuti Sekolah Lapang Iklim (SLI) Tahap II Operasional di Desa Jogoyasan, Kecamatan, Ngablak, Kabupaten Magelang.

Kegiatan SLI berlangsung selama satu musim tanam atau sekitar 4 bulan ini dimulai pada Senin, 3 Agustus 2020. Pada SLI kali ini tanaman tomat menjadi komoditas yang ditanam.

BACA JUGA:

Diketahui, Sekolah Lapang Iklim pada dasarnya bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan serta keterampilan petani dalam memanfaatkan informasi iklim untuk mengantisipasi dan adaptasi terhadap kejadian iklim ekstrem.

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati menegaskan SLI ini merupakan kegiatan praktek bersama antara BMKG dengan petani untuk memahami cuaca dan iklim, agar para petani mampu menyiasati jenis tanaman apa yang tepat untuk ditanam dalam kondisi musim kemarau.

“Pentingnya memahami cuaca dan iklim itu agar para petani dan penyuluh pertanian bisa memilih waktu tanam yang tepat, jenis dan pola tanaman yang seperti apa, agar produksi panennya lebih tahan dan lebih tangguh terhadap fenomena cuaca dan iklim yang akhir-akhir ini semakin tidak terduga,” tuturnya.

“Zaman dulu banyak para petani yang menggunakan kalender Jawa Pranoto Mongso. Dan itu titis. Namun seiring berkembangnya kemajuan teknologi dan industri, bumi kita ini semakin panas karena banyak gas CO2 di atmosfer yang menyebabkan panas matahari tidak bisa keluar. Hal itu menyebabkan perubahan iklim yang tidak menentu,” jelasnya.

Menurutnya, para petani juga harus beralih dari konfensional ke digital untuk membuka, membaca iklim sebelum tanam melalui media resmi BMKG.

Selain Kepala BMKG, kegiatan ini juga dihadiri secara langsung oleh Kepala Dinas Pertanian Kab. Magelang Romza Ernawan mewakili Bupati Magelang. Melalui sambungan video conference juga turut hadir Deputi Bidang Klimatologi BMKG Herizal dan anggota Komisi V DPR RI, Sudjadi.

* Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu




Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*