96 Tahun Perkumpulan Strada, Kardinal Suharyo Sentil 4 Tujuan Pembelajaran

Penampilan seni tari peserta didik Sekolah Strada
Penampilan seni tari peserta didik Sekolah Strada (KalderaNews/Dok. Perkumpulan Strada)

JAKARTA, KalderaNews.com – Perkumpulan Strada kini memasuki usia yang ke-96, tepatnya sejak Minggu, 24 Mei 2020 lalu. Uskup Agung Jakarta, Kardinal Ignatius Suharyo Hardjoatmodjo pun berpesan agar sekolah-sekolah Strada benar-benar membentuk pribadi-pribadi yang unggul dan menjadi terang perjalanan untuk dirinya sendiri maupun masyarakat yang lebih luas.

Ia menegaskan dalam sebuah video yang didapatkan KalderaNews di Channel Youtube Perkumpulan Strada bahwa Keuskupan Agung Jakarta sungguh bangga atas pelayanan pendidikan yang diberikan Strada ini. Banyak hal yang sering diceritakan padanya oleh Romo Direktur bahwa Strada dalam bidang keilmuan dan dalam bidang-bidang studi yang lain mempunyai hasil yang bagus.

“Tetapi hasil akademik itu semua tidak cukup, karena hidup itu tidak sama dengan prestasi akademik. Kita bercermin pada yang namanya Maria Della Strada yang dalam bahasa Indonesia disebut Maria Dipa Marga. Dipa artinya terang, marga itu artinya terang. Oleh karena itu, sekolah-sekolah Strada akan menjadi sekolah yang semakin unggul, kalau semua yang terlibat dalam pendidikan itu menjadi terang bagi jalan. Jalan semuanya. Jalan hidup,” tandasnya.

BACA JUGA:

Kardinal Suharyo lantas berharap agar semua yang terlihat dalam pendidikan di Strada sungguh-sungguh sadar betul bahwa hidup itu ada tujuannya. Hidup itu peziarahan yang tak pernah selesai. Hidup itu harus bermakna.

Ia pun mengingatkan kembali 4 tujuan dari pembelajaran yaitu:

Pertama, belajar untuk tahu. Bukan sekadar tahu mengenai Matematika, bukan sekadar tahu mengenai sejarah Indonesia. Itu juga penting. Pengetahuan itu jauh lebih luas daripada yang diajarkan di sekolah. Belajar untuk tahu. Tahu berbuat baik. Tahu mana yang baik dan yang benar, mana yang salah dan sebagainya.

Kedua, belajar untuk melakukan. Apa yang dilakukan, ya yang diketahui itu. Kalau kita tahu mana yang baik dan mana yang yang kurang baik, kita ya melakukan yang baik dan bukan yang sebaliknya.

Ketiga, belajar untuk menjadi. Ini agak sulit. Menjadi apa? Yang tidak sekadar melakukan ini melakukan itu, tetapi menjadi pribadi yang utuh, matang dan dewasa. Itu artinya belajar untuk menjadi.

Keempat, belajar untuk hidup bersama. Tidak mungkin kita hidup tanpa kebersamaan, tetapi kebersamaan bisa juga menjadi malapetaka kalau orang-orang yang hidup bersama itu tidak tahu, tidak pernah menjadi dewasa.

Ia pun berharap pelayanan Perkumpulan Strada dalam pendidikan sungguh membentuk pribadi-pribadi yang unggul dan dapat menjadi seperti Bunda Maria Della Strada, Bunda Maria Dipa Marga, dapat menjadi terang dalam perjalanan, baik untuk dirinya sendiri maupun masyarakat yang lebih luas.

* Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu.




Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*