Rahasia dan Trik Menyiasati Restrukturisasi Pinjaman Bank buat Pengusaha di Tengah Pademi Covid-19

Ketua Program Studi MBA Graduate School Swiss German University, Dr.Ir.Yosman Bustaman, M.Buss
Ketua Program Studi MBA Graduate School Swiss German University, Dr. Ir. Yosman Bustaman, M.Buss (KalderaNews/Pascasarjana SGU)

JAKARTA, KalderaNews.com – Ketua Program Studi MBA Graduate School Swiss German University, Dr. Ir. Yosman Bustaman, M.Buss mengakui pandemi Covid-19 tidak hanya memukul kondisi ekonomi makro, tapi juga usaha mikro kecil dan menengah (UMKM).

Banyak perusahaan, khususnya UMKM, menemui banyak kendala dalam menjalankan bisnisnya, mulai dari terbatasnya bahan baku, keterlambatan membayar gaji pegawai hingga kesulitan membayar bunga dan utang bank akibat cash flow yang terus menurun.

Memang, saat ini pemerintah memberikan stimulus bagi UMKM untuk menyelamatkan usahanya akibat covid-19, salah satunya dengan credit relaxation atau restrukturisasi pinjaman oleh bank.

BACA JUGA:

Skema yang dijalankan oleh bank, yakni penurunan suku bunga, perpanjangan periode pinjaman (misalkan 3 tahun cicilan diperpanjang menjadi 6 bulan), penurunan porsi dari cicilan pokok penurunan pembayaran bunga, hingga bank memindahkan pinjaman menjadi setoran permodalan (temporer debt equity swap).

Kendati demikian, terangnya di acara forum diskusi Master of Business Administration SGU Business Clinic bertajuk Business Loan Restructuring (Economic Relaxation) pada Rabu, 6 Mei 2020, tak sedikit pengusaha yang saat ini kesulitan menjalankan roda bisnis perusahaan benar-benar memahami skema restrukturisasi pinjaman dari bank.

Misalnya Asep Ganjar Rahman yang mengeluhkan usahanya yang bergerak di bidang tenaga jasa pengamanan mengalami penurunan cash flow hingga 70 persen, kini tertarik dengan skema restrukturisasi oleh bank untuk usahanya.

Ada pula Fatur yang ingin mengetahui prosedur komunikasi dan legal dari bank di masa pandemi jika ingin mengajukan pendanaan dan Aprilia Dyah Fitrani yang menanyakan apakah prospek usaha menjadi syarat usaha bila ingin direstrukturisasi oleh bank.

“Jika ingin mendapat keringanan pinjaman dari bank dengan skema baru, kunci utama bagi para pengusaha adalah terbuka (jujur) pada bank mengenai permasalahan yang dialami.”

Selanjutnya, aktif menjalin kontak ke pihak bank, agar tidak masuk blacklist OJK. Kalau sudah masuk blacklist dari OJK, tandasnya, makin susah dalam pendanaan dari perbankan.

Apabila pengusaha sudah mengalami penurunan cash flow maka suku bunga peminjam bisa diturunkan atau jangka kreditnya bisa diperpanjang.

Ia lantas menyarankan para pengusaha untuk tidak perlu takut berkomunikasi dengan bank. Selama masa PSBB ini pihak bank membuka komunikasi seluas-luasnya, apalagi dengan kemudahan teknologi seperti ini. Jadi, tidak akan ada kesulitan, jika pihak bank ingin mengoreksi adendum.

Terkait prospek usaha apa saja yang bisa direstrukturisasi bank, ia menandaskan potensi usahanya ada atau tidak dan kondisi pasar memungkinkan untuk absorb produk perusahaan atau tidak.

“Selain itu, kualitas manajemen dan dukungan grup usaha atau pemodal pasti juga akan dilihat dan dipertimbangkan,” pungkas dosen di universitas internasional pertama di Indonesia tersebut.

Menariknya, Swiss German University (SGU) sebagai universitas internasional pertama di Indonesia yang peduli dengan pencerdasan anak bangsa ternyata menawarkan program beasiswa, termasuk Program Beasiswa Program Master (S2) Double Degree yang dibuka untuk 75 profesional muda.

Batas akhir pendaftaran beasiswa ini 15 Juni 2020 mendatang. Informasi selengkapnya: KLIK: Buruan, 75 Beasiswa Master (S2) Double Degree Swiss German University Tutup 15 Juni 2020.

* Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu




Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*