Pilih Universitas Tak Terkenal Ketimbang Oxford, Kau Cari Apa Dorothy?

Eben E. Siadari adalah alumni Advanced Course for Practical Journalism, Thomson Foundation, Cardiff Wales, bekerja sebagai penulis dan trainer kepenulisan, buku karyanya antara lain Esensi Praktik Menulis (2019), tinggal di Jakarta.

Oleh Eben E. Siadari *

JAKARTA, KalderaNews.com — Kuliah di Britania Raya berarti memilih salah satu dari dua universitas paling bergengsi: University of Oxford atau University of Cambdridge. Di luar itu, rasanya kurang keren.

Begitulah yang ada di pikiran pelajar India di awal abad 20 saat mengukir cita-cita menuntut ilmu keluar dari negaranya. Sulit membayangkan bila ada seorang putri bangsawan India memilih kuliah di Wales, sebuah negara bagian yang kurang umum dikenal di masa itu.

Wales bukan hanya asing di telinga dunia. Di UK pun ia bukan negara bagian favorit. Kota-kota di Wales tak bisa dibandingkan dengan kota-kota di Inggris. 

Namun, pilihan yang sulit dibayangkan itu lah yang diambil oleh Dorothy Bonarjee. Putri seorang pengacara dari India itu memilih kuliah di University College of Wales di kota Aberystwyth.

Dorothy tidak terlalu mau dipusingkan oleh gengsi para mahasiswa dari kelas elit yang ingin kuliah di kampus-kampus hebat. Dorothy yang merupakan cucu dari bangsawan tuan tanah di India,  justru ingin menjauh dari privilese itu.

Pilihan Dorothy sempat membuat bingung orang tuanya. Mereka tidak rela putri mereka pergi ke sebuah kota yang relatif kecil dan kurang dikenal. Namun, Dorothy bergeming.

BACA JUGA:

Kompromi harus diambil. Saudara laki-laki Dorothy yang bernama Bertie, akhirnya mengalah. Bertie terpaksa mengorbankan ambisinya untuk kuliah di Oxford atau Cambridge demi mengikuti pilihan saudarinya. Ia pun ikut kuliah di Wales, sebab kedua orang tuanya memberi amanat kepadanya untuk menjaga saudarinya itu.

Dorothy tiba di Aberystwyth pada tahun 1912. Di kampus itu ia memilih jurusan Sastra Prancis. Dan di kota yang kurang umum dikenal itu ia seakan menemukan habitatnya. Dorothy yang sudah sempat mengenyam sekolah lanjutan di Inggris, segera aktif dan dikenal di klub debat di kampusnya. Ia dan segelintir koleganya mendirikan jurnal Dragon. Ia juga berkontribusi menulis puisi pada sebuah penerbitan baru, Welsh Outlook.

Dorothy Bonarjee bersama dua saudaranya di London pada sekitar tahun 1904 (Sheela Bonarjee)

Lalu gadis aneh ‘pembangkang’ itu membuat gempar dunia pendidikan Wales dua tahun setelah ia tiba di kota itu. Pada bulan Februari 1914 University College of Wales mengadakan perayaan  Eisteddfod, sebuah festival sastra dan budaya Wales. Salah satu bagian dari perayaan itu ialah lomba menulis ode untuk Owain Lawgoch, tokoh patriot Wales abad 14. Untuk memastikan objektivitas penilaian, semua peserta lomba mengirimkan tulisannya tidak dengan memakai nama masing-masing melainkan dengan nama samaran.

Dorothy turut dalam lomba dengan menggunakan nama samaran Shita. Dan tidak disangka banyak orang, ia menang. Ia menjadi juaranya dan dinobatkan sebagai bardic chair.

Surat kabar The Leader, menggambarkan pengumuman kemenangannya dengan cukup dramatis, sebagaimana dituliskan kembali oleh wartawan BBC Andre Whitehead dalam sebuah artikel memikat berjudul She Is Beautiful, Intelligent But Indian’: The 19-Year-Old Student Celebrated as a Welsh Bard di The Wire, 2 Agustus 2020.

“Tempat tertinggi dianugerahkan kepada ‘Shita,’ untuk sebuah ode yang ditulis dalam Bahasa Inggris, yang dinilai sebagai cara sangat dramatis dan sempurna dalam menulis topik lomba. Nona [Dorothy] Bonarjee menerima tepuk tangan yang bergemuruh saat dia berdiri dan mengungkapkan bahwa dirinya adalah Shita. Upacara penganugerahan penghargaan berlangsung dengan sangat antusias,” demikian The Leader melaporkan.

Tidak bisa disembunyikan adanya keheranan bagaimana seorang India berhasil memenangi lomba menulis tentang seorang pahlawan Wales. Surat kabar setempat, Cambria Daily Leader memberitakannya dengan judul “Hindu Lady Chaired,” untuk menekankan asal-usul Dorothy, meskipun pada faktanya Dorothy sebetulnya bukan seorang Hindu melainkan seorang Anglikan.

Di tanah airnya, kebanggaan atas kemenangan Dorothy lebih kentara lagi. Surat kabar Statesman yang berbasis di Kalkuta, menulis, “Para juri lebih menginginkan ode ditulis dalam Bahasa Wales, dan jarang tulisan dalam Bahasa Inggris mendapatkan penghargaan. Ini pertama kali kompetisi ini dimenangkan oleh orang non-Eropa dan perempuan.”

***

Kisah Dorothy menjadi relevan sekarang ini ketika kita  menyongsong peringatan hari kemerdekaan negara kita 17 Agustus. Salah satu pemicu perjuangan merebut kemerdekaan ialah karena adanya diskriminasi di bidang pendidikan di masa penjajahan. Kita tahu, di masa kolonial, pendidikan terbaik hanya terbuka pada mereka yang berkebangsaan dan berdarah Belanda. Hanya sedikit putra-putri elit pribumi yang bekerja untuk Belanda, yang boleh mengecap pendidikan bermutu yang disediakan pemerintah kolonial.

Diskriminasi itu, selain karena alasan politis,  didorong juga oleh anggapan bahwa rakyat terjajah tak cukup memiliki kecerdasan – dan juga peradaban – untuk dapat mengikuti pendidikan Barat. Masyarakat pribumi dianggap masih terbelakang.

Anggapan semacam ini bukan hanya terjadi di Indonesia tetapi di hampir seluruh negara-negara di dunia yang mengalami penjajahan, termasuk di India. Kalangan kulit berwarna dipandang rendah ketimbang kulit putih.

Munculnya sosok seperti Dorothy yang memiliki kepercayaan diri yang besar pada pilihan dan pendiriannya, mematahkan stereotip tentang ketidakmampuan kulit berwarna mengikuti pendidikan dengan standar Barat. Tidak terbayangkan sebelumnya Dorothy dapat menulis ode yang lebih baik tentang pahlawan nasional orang Wales ketimbang orang Wales sendiri.

Bila kita membaca buku-buku sejarah, kepercayaan diri dan keteguhan pendirian semacam ini yang membuat tokoh-tokoh kemerdekaan seperti Mohammad Hatta yang menuntut ilmu di Belanda, dapat berperan sebagai suluh bagi bangsanya. Mereka dapat melihat cahaya yang mungkin tidak bisa dilihat oleh kebanyakan orang.

Inilah yang dapat diteladani dari Dorothy. Ia tidak silau atas reputasi universitas-universitas beken yang oleh sebagian kalangan jadi ajang gengsi semu. Kemampuannya melihat ‘cahaya’ di ujung terowongan, membuat ia dengan yakin memilih jalur lain, di sebuah universitas kecil di negara bagian yang tidak populer. Di sana ia dapat bersinar lebih terang.

* Eben E. Siadari adalah alumni Advanced Course for Practical Journalism, Thomson Foundation, Cardiff Wales, bekerja sebagai penulis dan trainer kepenulisan. Buku karyanya antara lain Esensi Praktik Menulis (2019), The Beautiful Sarimatondang (2020), Perempuan-perempuan Batak yang Perkasa (2020) dan Kerupuk Kampung untuk Gadis Berkacamata Bill Gates (2020).

* Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu.




Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*