Wapres Resmikan Universitas Siber Asia, Kuliah Semua E-Learning

Wakil Presiden K.H. Ma’ruf Amin. (KalderaNews.com/Dok.Setneg)
Wakil Presiden K.H. Ma’ruf Amin. (KalderaNews.com/Dok.Setneg)

JAKARTA, KalderaNews.com – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, Angka Partisipasi Kasar (APK) perguruan tinggi pada 2019 berada pada 30.28 persen. Selain itu, Survei Angkatan Kerja Nasional (SAKERNAS) BPS pada Februari 2020, hanya 10.3 persen angkatan kerja Indonesia yang dapat mengakses perguruan tinggi.

Maka, sebagai universitas online, Universitas Siber Asia diharapkan memberikan akses pendidikan tinggi seluas-luasnya kepada masyarakat melalui e-learning, sistem pembelajaran dalam jaringan (daring).

BACA JUGA:

“Dengan adanya Universitas Siber Asia, saya berharap, angka-angka itu akan terus meningkat. Sehingga masyarakat yang dapat menikmati pendidikan tinggi akan terus bertambah sejalan dengan upaya pemerintah menempatkan pembangunan sumber daya manusia unggul sebagai prioritas nasional. Sumber daya manusia unggul merupakan kunci untuk memenangkan persaingan global,” ujar Wakil Presiden K.H. Ma’ruf Amin dalam Peresmian Universitas Siber Asia melalui konferensi video.

Wapres menyatakan, e-learning memungkinkan masyarakat untuk belajar kapan dan di mana pun dengan biaya lebih terjangkau dan waktu belajar yang lebih fleksibel. Sayangnya, saat ini baru sekitar 20 dari 4.741 perguruan tinggi di Indonesia yang menerapkan e-learning.

“Maka, saya berharap dengan makin banyaknya lembaga pendidikan yang membuka sistem pembelajaran daring, semakin banyak kesempatan masyarakat untuk melanjutkan pendidikan tinggi,” kata Wapres.

E-learning, kata Wapres, dapat mengasah kemampuan teknologi informasi bagi generasi muda, sehingga menambah kualitas untuk bersaing di kemudian hari. “Sistem pembelajaran online secara tidak langsung meningkatkan penguasaan kemampuan teknologi dan informasi bagi mahasiswa. Hal ini sangat diperlukan karena penguasaan teknologi informasi menjadi syarat mutlak dalam upaya meningkatkan daya saing dan kualitas SDM,” ujarnya.

Wapres juga mengingatkan bahwa e-learning memiliki tantangan. Waktu dan tempat belajar yang bisa dilakukan di mana saja berpotensi memunculkan ketakdisiplinan dalam belajar. Maka, diperlukan kreativitas yang tinggi, baik bagi pengajar maupun mahasiswa.

“Para dosen harus keluar dari gaya konvensional dan lebih inovatif dalam menyiapkan pembelajaran, serta memanfaatkan seluruh potensi teknologi yang ada untuk membantu pelaksanaan pembelajaran. Di sisi lain, mahasiswa juga dituntut harus lebih mandiri. Mahasiswa harus dapat memanfaatkan seluruh sumber pengetahuan untuk melengkapi proses pembelajaran jarak jauh ini,” ujar Wapres.

Universitas Siber Asia diharapkan membekali mahasiswa dengan pendidikan karakter kebangsaan, cinta tanah air, mengutamakan kepentingan masyarakat serta tak memandang suku, agama maupun golongan.

“Pesan saya bagi Universitas Siber Asia, agar jangan terjadi moral hazard atau penyimpangan moral yang menggampangkan metode pembelajaran secara daring ini. Tak boleh ada alasan terhadap kualitas, baik kualitas pembelajaran maupun pengujian. Mahasiswa harus tetap bisa diuji dengan standar yang sama dengan pembelajaran konvensional, sehingga kualitas pembelajaran dan lulusan program studi ini tetap dapat dipertahankan, bahkan ditingkatkan,” kata Wapres.

Rektor Universitas Siber Asia, Jang Youn Cou mengatakan bahwa Universitas Siber Asia memiliki misi memberikan pendidikan berkualitas tinggi kepada generasi muda di Indonesia yang tak memiliki kesempatan untuk kuliah di perguruan tinggi. Berbekal pengalaman selama 37 tahun di dunia pendidikan, Rektor Cou menerapkan sistem dan standar mutu universitas Korea dan Amerika pada Universitas Siber Asia, sehingga bisa memberikan kesempatan bagi anak muda yang ingin belajar tanpa terhalang oleh jarak, waktu, dan kondisi ekonomi.

Rektor Universitas Siber Asia, Jang Youn Cou. (Ist.)

“Saya berharap, Asian Cyber University bisa memberikan kesempatan bagi orang muda yang ingin belajar tanpa terhalang jarak, waktu, dan kondisi ekonomi, serta dapat mengembangkan kerja sama ke negara-negara ASEAN yang lain dalam waktu dekat,” harapnya.

Sementara, Ketua Yayasan Memajukan Ilmu dan Kebudayaan (YMIK), Ramlan Siregar menyampaikan bahwa Universitas Siber Asia didirikan selain untuk menjawab tantangan zaman di era Revolusi Industri 4.0, juga mengusung semangat meningkatkan Angka Partisipasi Kasar (APK) Indonesia agar usia produktif yang melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi dapat meningkat dan sejajar dengan negara tetangga, bahkan dengan negara-negara maju.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim juga berharap agar Universitas Siber Asia dapat mencetak lulusan yang unggul dengan kemampuan hard skills dan soft skills yang seimbang. “Saya berharap UNSIA menjadi pendidikan jarak jauh yang berkualitas, tak hanya membangun hard skills tetapi juga soft skills mahasiswa. Itulah tantangan dari pembelajaran yang sepenuhnya daring yaitu bagaimana mencetak sarjana yang kompeten, unggul secara holistik,” ujar Nadiem.

Universitas Siber Asia adalah perguruan tinggi yang mengusung pembelajaran daring secara penuh. Pendirian universitas ini digagas Yayasan Memajukan Ilmu dan Kebudayaan (YMIK) dan telah mengantongi izin prinsip pendirian dari Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi, M. Nasir pada 2019 serta izin pendirian dan operasi dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim. Universitas Siber Asia dipimpin Jang Youn Cou, rektor asing asal Korea Selatan pertama di Indonesia.

* Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu.




Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*