JAKARTA, KalderaNews.com – Lebih dari 1.900 mahasiswa Indonesia telah merampungkan studinya di negara-negara Eropa dengan beasiswa Erasmus, salah satunya adalah performer, penari, presenter sekaligus aktris muda kelahiran Yogyakarta, 23 Desember 1988, Sekar Sari.
“Setelah lulus kuliah Hubungan Internasional (HI) di Universitas Gadjah Mada, saya bertekad memperdalam seni dan diplomasi budaya. Saya beruntung mendapat beasiswa Erasmus, dan menjadi mahasiswa pertama asal Indonesia yang mengambil jurusan Master of Art dalam program Choreomundus-International Master on Dance Knowledge, Practice, and Heritage,“ ungkap peraih Indonesian Movie Awards 2016 ini di acara tahunan Erasmus Days 2020, Sabtu, 17 Oktober 2020.
Tak hanya itu saja, sebalumnya melalui film perdananya yang berjudul “SITI” ia juga diganjar penghargaan aktor terbaik dalam The Singapore International Film Festival 2014, aktris terbaik dalam Usmar Ismail Awards 2016 dan selanjutnya aktor muda terbaik dalam Indonesian Movie Actors Awards 2016.
BACA JUGA:
- Tip Mendapatkan Beasiswa Erasmus Plus 2020 ke Prancis, Spanyol dan Belgia
- Penerima Beasiswa S2 Erasmus Plus Skema EMJMD 2020 Meroket Hingga 100%
- Wajah-wajah Sumringah Para Penerima Beasiswa Erasmus Plus 2019
Apalagi, jelang Indonesian Movie Actors Awards 2016, ia ternyata sedang sibuk-sibuknya mengerjakan tesis di London.
“Sepagian serius terus muka ditekuk sana sini, stuck sama thesis yang kadang bikin kembang kempis, tiba-tiba dapat kabar kalau dapat award Pendatang Baru Terbaik di Indonesian Movie Actor (IMA) Awards 2016. Jadi bisa senyum-senyum begini..hhi,” akunya di akun IG @sekarsha pada 31 Mei 2016 saat masih berjibaku dengan perkuliahan di University of Roehampton, London (URL), United Kingdom.
“Proses belajar di Choreomundus mendorong saya untuk bisa menggali lagi seni budaya khususnya melalui praktik seni peran dan seni tari beserta aspek di sekitarnya termasuk pengkajian seni budaya yang komprehensif dan menjadikan seni budaya sebagai strategi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara,” tegasnya.
Ia memilih Uni Eropa karena menurutnya di Eropa seni tradisi dan kontemporer unggul, lestari dan berkembang secara dinamis. Ia ingin mempelajari pengelolaan dan pengkajiannya.
Ia mengakui praktik seni budaya di Indonesia sudah sangat unggul, tetapi pengkajiannya masih sangat terbatas. Ini terbukti ketika hendak melakukan riset seni dan budaya, resource yang ada itu justru dari periset-periset di luar negeri atau lembaga arsip di luar negeri.
“Menurut saya, kapasitas riset dan pengarsipan seni-budaya di Indonesia masih sangat terbatas. Kalau seni budaya di Indonesia ibarat buah-buahan, saya ingin belajar tentang pisau analisisnya melalui program Erasmus,” akunya.
Harapannya cukup sederhana yaitu bener-bener bisa menganalisis, kenal, tahu dan menggunakannya secara terintegrasi, sehingga tidak cuma sebagai praktik, tetapi sebagai bagian untuk formulasi kebijakan dan mengatur strategi seni budaya secara lebih luas.
* Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu
Leave a Reply