LIPI Luncurkan Buku Kependudukan dan Pembangunan, Sarat Isu Ekonomi dan Gender




Kepala Pusat Penelitian Kependudukan LIPI, Herry Yogaswara pada peluncuran buku "Kependudukan dan Pembangunan: Persembahan untuk 80 Tahun Dr. Yulfita Raharjo" (11/12) (KalderaNews/Dok. Syasa Halima)
Kepala Pusat Penelitian Kependudukan LIPI, Herry Yogaswara pada peluncuran buku "Kependudukan dan Pembangunan: Persembahan untuk 80 Tahun Dr. Yulfita Raharjo" (11/12) (KalderaNews/Dok. Syasa Halima)

JAKARTA, KalderaNews.com – LIPI merilis buku “Kependudukan dan Pembangunan: Persembahan untuk 80 Tahun Dr. Yulfita Raharjo” pada 11 Desember 2020. Buku yang berbentuk bunga rampai tersebut terbagi menjadi berbagai topik yang membahas kependudukan dan pembangunan di Indonesia dari segi migrasi, kesehatan, lingkungan, pengembangan manusia, dan perkembangan kelembagaan kependudukan di Indonesia.

Studi kependudukan di Indonesia sudah berlangsung sejak 1969. Kala itu, LIPI membentuk kelompok studi kependudukan yang masih menjadi bagian dari Pusat Penelitian Kemasyarakatan. Pada 1973, kelompok studi berkembang menjadi Pusat Studi Kependudukan. Melihat sejarahnya, berdirinya lembaga-lembaga kependudukan dan studi tidak dapat dilepaskan dari kebutuhan akan data demografi, terutama untuk perencanaan pembanguan.

Tulisan-tulisan yang ada dalam buku merefleksikan dengan jelas perspektif keilmuan Yulfita Raharjo yang bersifat kualitatif. Khasnya, ia memiliki penekanan dalam melakukan kajian isu-isu kependudukan dan pembangunan Indonesia.

BACA JUGA:

Tulisan-tulisan Yulfita Raharjo juga tidak lepas dari isu gender untuk pengembangan kebijakan pembangunan. Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Laksana Tri Handoko mengatakan tulisan berharga yang tampil pada buku hanya sebagian kecil dari tulisan bermakna beliau yang sangat banyak.

“Sebagian besar mungkin berupa bahan-bahan presentasi dalam berbagai pelatihan dan ceramah di daerah maupun di luar negeri,” tuturnya.

Handoko meyakini bahwa Ilmu Kependudukan memiliki hubungan erat dengan kebijakan ekonomi dan sosial dari sebuah negara. Sifatnya yang multidisiplin dan berorientasi pada kebijakan membuatnya menaruh perhatian besar pada perkembangan Ilmu Kependudukan.

“Kesadaran akan perlunya mengembangkan Ilmu Kependudukan muncul di negara-negara industri maju di mana pertumbuhan ekonomi akan terhambat, atau menurun, apabila perkembangan faktor kependudukan tidak diperhatikan dengan seksama,” ungkapnya.

Kepala Pusat Penelitian Kependudukan LIPI, Herry Yogaswara memaparkan bahwa ilmu kependudukan sering disandingkan dengan studi demografi karena keduanya sama-sama berurusan dengan isu-isu kependudukan, seperti kematian, kelahiran, dan migrasi.

“Tiga komponen penting ini sering disebut sebagai demographic vital yang
perubahannya akan berpengaruh terhadap jumlah, komposisi, dan distribusi secara spasial dari penduduk,” jelas Herry.

Ia menjelaskan lebih detail bahwa kajian LIPI Kependudukan dan Pembangunan menghubungkan berbagai faktor lain yang ada pada masyarakat, seperti faktor ekonomi, pendidikan, kesehatan, lingkungan, dan perkembangan teknologi.

“Namun dalam perkembangannya, demografi dan ilmu kependudukan semakin sulit dibedakan karena meskipun sebuah lembaga menggunakan nama ‘demografi’, kegiatan yang dilakukan bisa dikategorikan sebagai kegiatan ilmu kependudukan,” jelasnya.

* Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu.




Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*