62 Persen Anak Alami Kekerasan Verbal Saat PJJ dari Rumah, Solusinya?




Anak Memberontak Melawan Orangtua
Anak Memberontak Melawan Orangtua (KalderaNews/Ist)

JAKARTA, KalderaNews.com – Psikolog Anak RS Yarsi, Devi Sani, M.Psi menyampaikan pentingnya menjaga kesehatan mental anak, khususnya di tengah pandemi seperti saat ini.

Menurut survei yang dilakukan terhadap lebih dari 3.200 anak tingkat sekolah dasar hingga SMA pada Juli 2020 lalu, sebanyak 13% responden mengalami gejala-gejala yang mengarah pada gangguan depresi ringan hingga berat selama masa “kenormalan baru”.

“Sebanyak 93% yang menunjukkan gejala depresi berada pada rentang usia 14 hingga 18 tahun, sementara 7% di rentang usia 10-13 tahun,” paparnya.

BACA JUGA:

Devi Sani menambahkan, tidak dapat dipungkiri pandemi ini dapat berdampak kepada aspek psikososial dari anak, di antaranya adalah perasaan bosan karena harus tinggal di rumah, khawatir tertinggal pelajaran, merasa takut terkena penyakit, merindukan teman-teman, dan khawatir tentang penghasilan orangtua.

“Dampak paling membahayakan adalah sebanyak 62 persen anak mengalami kekerasan verbal oleh orang tuanya selama berada di rumah,” tambah Devi di webinar “Pentingnya Menjaga Imun dan Psikologis Peserta Didik Menghadapi Tahun Ajaran Baru” pada Kamis pekan lalu, 8 Juli 2021.

Oleh karena itu sangat penting untuk memperhatikan hal ini, karena anak-anak mungkin belum memiliki keterampilan untuk mengidentifikasi perasaan mereka. Ada hubungan yang erat juga antara kesehatan mental anak dengan prestasi akademis. Karena hormon stres secara efektif membatalkan efek menguntungkan dari stimulasi-stimulasi yang diberikan. Tidak berlebihan untuk mengatakan bahwa hormon stres tingkat tinggi, seperti kortisol, adalah toxic bagi otak.

“Stres telah terbukti menghilangkan kemampuan untuk memanggil memori sebelumnya. Inilah mengapa kita begitu sering kosong selama jenis pertunjukan yang berhubungan dengan memori ini,” kata Devi.

Lalu apa yang dibutuhkan oleh anak agar terjaga kesehatan mentalnya? Menurut Devi, mereka harus dibimbing dan dipandu untuk mengidentifikasi emosi, mengkomunikasikannya dengan orang lain, mengelola emosi mereka dan mengatasinya dengan cara yang sehat. Anak juga butuh merasa diberi rasa aman (secure), diakui keberadaannya (seen) dan diberi ketenangan (soothed).

Selain itu ada juga beberapa strategi yang dapat dilakukan untuk mengelola kesehatan mental pada anak. Pertama, mendengarkan dengan cara yang empatik adalah prioritas. Mendengarkan anak membantu mereka merasa dipahami siapa mereka sebenarnya. Anak-anak juga tidak akan selalu logis, dan emosi mereka mungkin tidak selalu masuk akal bagi orangtua, tetapi kesediaan orang tua untuk duduk bersama mereka, inilah yang membuat situasi berat jadi lebih mudah dijalani.

“Temani anak saat sedang mengekspresikan badai emosi, tidak sering-sering mengabaikan ataupun mendistraksi. Selanjutnya deteksi kebutuhan diri orangtua sendiri dimana orang tua juga memiliki kebutuhan seperti fisik dan emosional. Kebutuhan memang tidak bisa selalu terpenuhi, tetapi dengan sadar kita punya kebutuhan yang tidak terpenuhi, kita jadi tidak mudah memandang semua karena salah anak. Dan yang terakhir adalah kenali perfeksionisme orang tua,” jelasnya.

* Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu




Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*