BANDUNG, KalderaNews.com – Peraih Nobel Fisika 2011, Profesor Brian Schmidt mengkritik pemeringkatan kampus. Tidak menjawab kebutuhan mahasiswa, dan bertujuan cari untung!
Saat ini banyak bermunculan lembaga pemeringkatan yang membuat daftar kampus terbaik berdasarkan beberapa kriteria.
“Itu dibuat agar pelajar tahu ke mana ingin melanjutkan studi. Tapi cara menentukan universitas yang ‘baik’ sangat mudah dimanipulasi,” tegas Schmidt di Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia (KSTI) 2025 di Bandung, Jawa Barat.
BACA JUGA:
- 50 Kampus Terinovatif di Dunia versi WURI 2025, Telkom University Jadi Satu-satunya dari Indonesia
- Deretan Kampus Terbaik di Asia Versi QS World University Rankings 2026, Mana Pilihan Kamu?
- Mau Kuliah ke Luar Negeri? Inilah 30 Kampus Terbaik di Dunia Versi QS World University Rankings 2026
Pemeringkatan hanya untuk cari iklan
Schmidt menerangkan, tujuan pemeringkatan melakukan hal tersebut adalah untuk mencari iklan.
Sehingga, lanjutnya, menjadi kekeliruan besar jika digunakan sebagai parameter memilih universitas.
Karena, kebutuhan kampus di setiap negara pasti berbeda. Ia mencontohkan, kebutuhan kampus di Indonesia dan Cambridge University tidak akan sama.
“Kebutuhan universitas di Indonesia sangat berbeda dengan universitas seperti Cambridge. Menilai mereka dengan standar yang sama membuat universitas merasa harus menjadi ‘Cambridge yang kaya’, bukan menjadi versi terbaik dari dirinya sendiri,” tegas Schmidt.
Indikator yang dipakai, kata Schmidt, tidak berkaitan dengan mahasiswa atau calon mahasiswa, sehingga lembaga pemeringkatan terkesan tidak peduli dengan kebutuhan mahasiswa.
Kampus pun kejar peringkat
Dampak buruk pemeringkatan yang lain adalah menjadikan kampus lebih fokus mengejar kualitas agar bisa menaikkan peringkat, daripada fokus pada kebutuhan mahasiswa.
“Universitas jadi terjebak dalam perlombaan menaikkan peringkat, bukan memenuhi kebutuhan nyata mahasiswa. Ini distorsi besar dalam sistem pendidikan tinggi!” protes Schmidt.
Kata Schmidt, lembaga pemeringkatan sebaiknya membuat informasi soal gaya belajar, program studi, atau lingkungan belajar yang cocok dengan mahasiswa.
“Itu jauh lebih membantu, dibanding sekadar melihat siapa yang ranking satu,” ujarnya.
Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News.
*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.


Leave a Reply